Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pergerakan saham terlihat di layar elektronik Main Hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto: Beritasatuphoto/M Defrizal

Pergerakan saham terlihat di layar elektronik Main Hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto: Beritasatuphoto/M Defrizal

VUCA, Norma Baru Pasar Era Covid-19

Listyorini, Minggu, 17 Mei 2020 | 10:12 WIB

JAKARTA, Investor.id – Pandemi virus corona (Covid-19) yang memaksa orang untuk tinggal di rumah guna memutus mata rantai penyebaran, telah membentuk norma baru. Tak hanya dalam bersosialisasi dan bekerja, tetapi juga dalam pembentukan harga di pasar, baik saham, komoditas, maupun pasar uang.

Harga saham-saham di banyak negara terjun bebas karena ketidak pastian ekonomi. Sebab, pandemi Covid-19 telah merusak ekonomi dunia, banyak pabrik-pabrik dan perkantoran tutup, dan pedagang kecil tak lagi bisa berjualan.

Sampai kapan virus tersebut hilang dari muka bumi, belum ada yang bisa memprediksikan. Apalagi belum ada vaksin yang diotorisasi sebaga pemusnah virus tersebut.

Investor kini dihadapkan pada norma baru, yakni VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity). Ketidak pastian menjadi norma baru di pasar, dan investor harus selalu siap dengan berbagai kemungkinan tanpa “sesuatu” yang bisa memberikan arahan.

"Kami tidak tahu apa yang akan menjadi norma baru," kata Alessio de Longis, manajer portofolio di Invesco. "Mengelola harapan akan mengarah pada beberapa langkah palsu di sepanjang jalan,” tambahnya.

"Perdagangan saham seperti pertempuran karena banyak faktor yang saling bertentangan antara optimisme dan kekhawatiran,” kata Ed Perks, kepala investasi multi-aset solusi di Franklin Templeton.

Indeks Volatilitas Cboe, yang dikenal sebagai pengukur rasa takut Wall Street, membukukan kenaikan mingguan terbesar dalam sekitar dua bulan, mencerminkan penurunan indeks S&P 500 .SPX 2,6% dari tertinggi 29 April.

"Apa yang kami lihat sekarang adalah sapuan realisme yang datang ke pasar," kata Shannon Saccocia, kepala investasi di Boston Private.

Tak hanya pasar saham, pasar komoditas, dan juga pasar uang harus siap dengan norma baru, VUCA. Harga minyak, misalnya, pertama kali dalam sejarah mencatatkan kontrak negatif untuk minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI). Dan dalam beberapa pekan kemudian, harga minyak melambung tinggi.

Investor yang bergerak dengan ekspektasi dan prediksi menghadapi kenyataan yang berbeda antara data dan harapan. Data ekonomi suram, tetapi berharap akan mempunyai prospek baik, meskipun menghadapi realita yang berbeda.

Bahkan, Federal Reserve AS memperingatkan terkait ketidakpastian dalam pemulihan ekonomi, dan memberi sinyal bahwa pelemahan akan berlangsung lebih panjang dari yang diprediksi. Laporan The Fed memperingatkan risiko besar jika pandemi terbukti panjang atau lebih parah daripada yang diantisipasi.

VUCA

VUCA merupakan singkatan dari Volatile (bergejolak), Uncertain (tidak pasti), Complex (kompleks), dan Ambigue (tidak jelas). Istilah tersebut awalnya diciptakan oleh militer Amerika untuk menggambarkan situasi geo-politik saat itu.

US Army War College memperkenalkan istilah VUCA untuk menggambarkan geopolitik di Afghanistan dan Irak setelah Perang Dingin. Namun, istilah ini kemudian dipakai banyak korporasi untuk menggambarkan pesatnya kemajuan teknologi yang menuntut perubahan manajemen sangat cepat.

Secara umum, VUCA berkaitan dengan cara orang melihat kondisi saat membuat keputusan, merencanakan, mengelola risiko, mendorong perubahan, dan memecahkan masalah. Oleh karena itu, VUCA dinilai dapat mendorong kapasitas sebuah perusahaan dalam menghadapi perubahan dinamis di dunia bisnis, terutama pada era transformasi digital seperti saat ini.

Di pasar saham, VUCA telah mendorong investor untuk mengubah strateginya. Ketua komunitas investor Investa, Hari Prabowo, mengatakan banyak yang mengubah strategi dari investor jangka panjang menjadi investor jangka pendek untuk sebagian portofolionya.

"Tak hanya masalah strategi pilihan saham, tapi juga dibutuhkan manajemen cash sehingga ketika ada saham yang berfundamental bagus tetapi harganya turun, kita ada kesempatan untuk membeli kembali dengan harga diskon," ujarnya.

Kemajuan di bidang tekonologi yang berkembang sangat pesat, disusul bencana pandemi virus corona yang menyebar secara eksponensial benar-benar mengubah tatanan dunia dalam berbagai sisi kehidupan. Saat ini, kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN