Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: SP/Ruht Semiono

Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: SP/Ruht Semiono

17 UKM Berpotensi Masuk Papan Pengembangan BEI

Gita Rossiana, Senin, 5 Agustus 2019 | 09:20 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong perusahaan kecil dan menengah untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal. Tahun ini, BEI memperkirakan sebanyak 17 usaha kecil dan menengah (UKM) yang bisa mencatatkan sahamnya di papan pengembangan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, dari 17 perusahaan tersebut, sebanyak 15 perusahaan sudah memenuhi kriteria untuk bisa tercatat di papan pengembangan. "Perusahaan ini juga sudah tercatat di bursa," ujar dia melalui keterangan tertulis, akhir pekan lalu.

Sementara itu, BEI sedang membimbing dua perusahaan lainnya untuk bisa mencatatkan sahamnya di papan pengembangan. "Kami sedang guide untuk bisa tercatat di papan pengembangan, karena mereka memiliki resources untuk dapat memenuhi requirements di papan pengembangan," kata dia.

Nyoman menjelaskan, untuk bisa mencatatkan saham di papan pengembangan, perusahaan harus memenuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 54/POJK.04/2017 tentang Bentuk dan Isi Prospektus dalam Rangka Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Emiten dengan Aset Skala Kecil atau Emiten dengan Aset Skala Menengah.

Selain itu, perusahaan juga harus memenuhi Peraturan OJK No.53/POJK.14/2017 tentang Pernyataan Pendaftaran dalam Rangka Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Emiten dengan Aset Skala Kecil dan Menengah. Dalam perusahaan tersebut, perusahaan yang bisa mencatatkan sahamnya di papan akselerasi adalah yang memiliki aset hingga mencapai Rp 250 miliar.

"Perusahaan yang masuk ke papan akselerasi juga tidak boleh memiliki pemegang saham pengendali dengan aset lebih besar dari Rp 250 miliar," kata dia.

Sejalan dengan peraturan tersebut, BEI juga sedang mengembangkan papan akselerasi atau pencatatan pasar modal untuk perusahaan dengan skala aset kecil dan menengah. Pengembangan ini bertujuan untuk membuka akses bagi perusahaan kecil dan menengah untuk menggalang dana dari pasar modal.

Pengembangan papan akselerasi ini menambah tiga jenis pencatatan saham di BEI, yakni papan utama, papan pengembangan, dan papan akselerasi. Perbedaan paling signifikan di antara ketiga jenis pencatatan tersebut adalah jumlah pemegang saham, yakni minimal 300 pihak untuk papan akselerasi, minimal 500 pihak untuk papan pengembangan, dan 1.000 pihak untuk papan utama.

Selain itu, perusahaan yang akan mencatatkan saham di papan akselerasi dan papan pengembangan boleh membukukan rugi usaha terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan papan utama yang harus membukukan laba usaha dalam kurun waktu minimal satu tahun.

Papan akselerasi ini, menurut Nyoman, sudah banyak berkembang di negara lain seperti di Malaysia, Taiwan, Singapura, India, Korea Selatan, Jepang, dan negara lainnya. Dari segi kapitalisasi pasar, papan akselerasi Korea Selatan mencatat kapitalisasi pasar terbesar, yakni US$ 204,7 miliar dengan jumlah issuer sebanyak 1.279 perusahaan.

Nyoman mengungkapkan, peraturan mengenai pencatatan perusahaan di papan akselerasi ini sudah mulai diberlakukan sejak 22 Juli 2019. Sehingga, perusahaan dengan skala aset kecil dan menengah yang berminat sudah bisa memproses pencatatan perusahaannya di papan akselerasi.

Namun, implementasi pengembangan papan akselerasi ini belum sepenuhnya dilakukan. Pasalnya, BEI belum mengeluarkan peraturan mengenai perdagangan saham di papan akselerasi. "Peraturan mengenai perdagangan papan akselerasi sebentar lagi akan dikeluarkan sehingga implementasi papan akselerasi bisa dilakukan tahun ini,"ucap dia.

Menurut Nyoman, peraturan perdagangan papan akselerasi ini akan berbeda dengan peraturan perdagangan di papan pengembangan dan papan utama. Pasalnya, karakteristik perusahaan di papan akselerasi berbeda dengan papan pengembangan dan papan utama. "Kami juga akan mengatur proteksi terhadap investor yang akan berinvestasi di papan akselerasi," jelas dia.

Sejauh ini, Nyoman berpendapat cukup banyak perusahaan di daerah yang berminat mencatatkan sahamnya di papan akselerasi. Bahkan, perusahaan-perusahaan di daerah ini juga mampu untuk mencatatkan sahamnya di papan pengembangan dan papan utama.

"Perusahaan yang dari daerah berasal dari berbagai sektor, ada yang sektor hospital, consumer goods, plantation, manufaktur dan tidak menutup kemungkinan sektor lain," ujar dia.

Perusahaan lain yang potensial untuk masuk ke papan akselerasi adalah start-up binaan BEI melalui IDX Incubator. Sedikitnya ada 72 start-up yang masuk dalam IDX Incubator tersebut. "Namun kami juga membuka kesempatan bagi UMKM binaan BUMN dan lainnya untuk masuk ke papan akselerasi," jelas dia.

Dari sisi sektor, Nyoman mengungkapkan, pihaknya tidak hanya memfokuskan pengembangan papan akselerasi untuk sektor teknologi atau digital. Papan akselerasi ini dibuka untuk mempersiapkan perusahaan kecil dan menengah dari berbagai sektor untuk meningkat ke papan pengembangan dan papan utama.

"Kami mengharapkan, papan akselerasi bisa membuka kesempatan dari semua sektor dan mendorong potensi perusahaan-perusahaan di daerah," ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN