Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pencatatan saham Bukalapak di BEI, Jumat (6/8/2021)..

Pencatatan saham Bukalapak di BEI, Jumat (6/8/2021)..

Startup Jangan Tunggu Besar untuk Go Public

Kamis, 16 September 2021 | 19:40 WIB
Lona Olavia dan Muhammad Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id -- Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menggodok revisi Peraturan BEI Nomor 1-A sebagai upaya mendorong perusahaan rintisan (startup) untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Langkah tersebut sebagai salah satu pendorong agar banyak startup di berbagai level bisa IPO.

”Revisi ini dilakukan agar bisa mengakomodasi berbagai perusahaan, termasuk unicorn yang membidik papan utama sebagai listing board mereka,” kata Head of Incubator IDX Indonesia Aditya Nugraha dalam Webinar AMVESINDO “Perjalanan Startup Menuju IPO”, Kamis (16/9).

BEI melakukan revisi peraturan tersebut karena terdapat sejumlah poin yang tidak sesuai dengan karakteristik perusahaan yang terus berkembang belakangan, termasuk tetapi tidak terbatas terhadap perusahaan teknologi rintisan.

Dia mencontohkan seperti perusahaan yang karakteristiknya masih fokus meningkatkan pangsa pasar dan belum laba, tetapi valuasinya besar dan berpotensi menjadi salah satu fund raiser terbesar di pasar modal Indonesia. Pasalnya, dalam aturan yang ada saat ini, pencatatan di papan utama mewajibkan calon perusahaan tercatat untuk sudah membukukan laba usaha paling tidak dalam kurun satu tahun terakhir.

Selain itu, syarat pencatatan di papan utama lainnya adalah nilai minimum net tangible asset (NTA) sebesar Rp 100 miliar. Bursa pun akan melakukan penyesuaian pengaturan sehingga calon perusahaan tercatat, termasuk unicorn, dapat menggunakan lima alternatif persyaratan, yaitu net tangible asset dan laba usaha, agregat laba sebelum pajak 2 tahun terakhir, dan nilai kapitalisasi pasar.

Kepala Bagian Penilaian Perusahaan Jasa Keuangan Nurkhamid menyebutkan, Januari hingga saat ini, sudah ada 35 perusahaan yang efektif IPO dengan perolehan nilai emisi Rp 31 triliun. Adapun, kontribusi PT Bukalapak Tbk (BUKA) terhadap nilai emisi tersbeut sangat besar hingga 70%. Bukalapak meraih dana IPO senilai Rp 21,9 triliun atau terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.

Sementara itu, CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin mengaku terkejut dengan minat investor ritel yang sangat besar terhadap IPO Bukalapak, di mana ada oversubscribed mencapai 4,8 kali dari jumlah porsi pooling yang ditawarkan. Dia pun menilai, BEI saat ini sudah jauh lebih besar dan lebih dalam. ”Jadi, jangan ragukan pasar modal Indonesia,” ungkapnya.

Direktur Utama PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH) Suwandi mengatakan, setelah IPO, perseroan mengaku banyak manfaat yang didapatkan bahkan dari segi kinerja keuangan. Pada semester I-2021 bahkan ada pertumbuhan di atas 100%, hal itu tak lain diperoleh dari pasar yang lebih luas dari efek IPO. Perseroan pun meyakini di tahun ini, dengan tata kelola yang baik, performa keuangan akan makin cemerlang lagi.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani menilai, potensi startup untuk melakukan penggalangan dana di pasar modal cukup besar. Di mana sektor e-commerce, ride hailing, travel, edutech, fintech hingga healthtech berpeluang besar untuk IPO seiring dengan kian cepatnya transformasi digital.

Dia menambahkan, langkah IPO yang diambil oleh sejumlah rintisan mampu mengakselerasi potensi besar bagi perusahaan tersebut untuk dapat mewujudkan nilai mereka dalam waktu dekat, baik dalam segi nilai tambah bisnis maupun valuasi. Adapun keputusan untuk IPO tidak terbatas untuk sekadar pencarian dana, tetapi untuk meraih aspek bisnis lainnya, seperti memberikan tingkat kepercayaan lebih ke platform, vendor, consumer, rekan bisnis, dan lainnya.

Edward memprediksi, tren perusahaan rintisan menjalankan exit strategy pada 1-2 tahun depan masih akan ramai dilakukan. Exit strategy adalah pendekatan yang direncanakan untuk mengakhiri investasi dengan cara yang berfokus memaksimalkan keuntungan dan atau meminimalkan kerugian, seperti IPO, merger, dan akuisisi.

Berdasarkan laporan Ernst & Young (EY), perusahaan teknologi mendominasi IPO secara global selama semester I-2021. Volume IPO secara global meningkat 140% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 1.070. Selain itu, dari sisi nilai pun langkah IPO turut meningkat hingga 215% secara tahunan (yoy) atau US$ 222 miliar. Adapun, sebanyak 27% di antaranya atau 284 perusahan yang melakukan IPO merupakan perusahaan teknologi.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN