Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen.

OJK: Aturan IPO Unicorn Terbit Akhir Tahun Ini

Jumat, 17 September 2021 | 15:45 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan aturan tentang penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham untuk unicorn alias perusahaan rintisan teknologi (startup) bervaluasi minimal US$ 1 miliar diterbitkan akhir tahun ini.

“Posisinya saat ini masih dalam proses, mudah-mudahan pada akhir tahun ini kita sudah memiliki peraturan untuk mengakomodasi IPO unicorn,” tutur Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen saat mendampingi Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi di Jakarta, Kamis (16/9) malam.

Acara itu juga dihadiri para petinggi OJK lainnya secara virtual, di antaranya Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank OJK Riswinandi, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana, serta anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara.

Hoesen mengungkapkan,  seiring tingginya minat perusahaan unicorn dan decacorn (startup bervaluasi minimal US$ 10 miliar) untuk melantai di bursa domestik, OJK tengah mempersiapkan beberapa peraturan OJK (POJK)  terkait perkembangan pasar. Aturan IPO unicorn adalah salah satunya.

Hoesen menjelaskan, indikator pasar modal terus membaik, antara lain ditandai melonjaknya jumlah investor dan maraknya fundraising, baik melalui IPO saham, penerbitan saham baru untuk menambah modal (rights issue), maupun emisi obligasi korporasi atau sukuk korporasi.

Hoesen mencontohkan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang telah mencatatkan (listing) sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan mendapatkan animo luar biasa dari para investor.

Nilai IPO Bukalapak yang mencapai Rp 21,9 triliun merupakan yang terbesar sepanjang sejarah pasar modal domestik. IPO Bukalapak yang dilaksanakan secara elektronik (e-IPO) juga memecahkan rekor investor yang subscribe dengan jumlah 98 ribu.

“Kalau kita lihat kualitas IPO Bukalapak, jumlah investornya memang banyak. Alokasi untuk investor ritel dan public float-nya juga besar dibanding aksi IPO sebelumnya yang tidak menggunakan e-IPO,” ujar Hoesen.

Sejak e-IPO diterapkan, menurut Hoesen, alokasi saham IPO untuk investor ritel lebih besar dengan pertimbangan e-IPO merupakan salah satu akses investor ritel untuk mendapatkan alokasi di pasar primer.

“Ke depan, investor ritel bisa mengkases primary market. Selama ini kan hanya di secondary market. Jadi, kami buka akses lebih besar untuk investor ritel supaya supply and demand-nya lebih stabil,” papar dia.

Penghimpunan dana di pasar modal
Penghimpunan dana di pasar modal

Berdasarkan data  BEI dan OJK, sejak Januari hingga saat ini terdapat 38 perusahaan yang melangsungkan IPO saham dengan nilai penggalangan dana Rp 32,15 triliun. Sebanyak 25 calon emiten lainnya sudah masuk pipeline BEI tahun ini.

Jika semua terealisasi, IPO saham tahun ini mengalahkan tahun lalu (51 IPO) dan menjadi IPO terbanyak sepanjang sejarah.

Di sisi lain, sudah ada 22 emiten yang melakukan penerbitan saham baru untuk menambah modal (rights issue) dengan nilai total Rp 109,07 triliun. Jumlah ini meningkat pesat dibandingkan periode September tahun lalu sebanyak 13 rights issue dengan dana Rp 11,85 triliun.

Kecuali itu, hingga kini terdapat 73 emisi surat utang dari 47 perusahaan penerbit (issuer) dengan total penggalangan dana Rp 69,44 triliun. Itu belum termasuk yang berada dalam pipeline (11 emisi dari sembilan issuer). Jumlah investor saham juga meningkat pesat dengan Single Investor Identification (SID) sebanyak 2,73 juta.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN