Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu bendungan untuk PLTA Inalum. Foto: Perseroan.

Salah satu bendungan untuk PLTA Inalum. Foto: Perseroan.

Inalum akan IPO Akhir 2022

Selasa, 28 September 2021 | 07:25 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, sub holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, direncanakan akan melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) pada akhir 2022. Dana hasil IPO akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas perusahaan.

“Inalum akan IPO seperti halnya PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Timah Tbk (TINS),” kata Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR, Senin (27/9).

Dana hasil IPO akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas Inalum. Sebab, selama 40 sampai 50 tahun dari dulu hingga sekarang, kapasitas produksi Inalum stagnan hanya 250 ribu ton. Selain itu, dana IPO juga akan dipakai untuk mengambil boxit agar boxit hingga aluminium terintegrasi dalam satu perusahaan.

Ia menjelaskan, IPO Inalum tersebut sudah masuk dalam rencana aksi korporasi pemegang saham, dalam hal ini Kementerian BUMN. Kini sedang dipersiapkan untuk pemisahan antara MIND ID dan Inalum operating yang prosesnya sudah sampai di Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Jadi sudah ada surat permohonan dari Kementerian BUMN kepada Kemenkeu untuk melanjutkan proses penerbitan PP pemisahan fungsi Inalum sebagai operating dan fungsi Inalum holding,” imbuh Orias.

Seperti diketahui, sesuai PP Nomor 47 Tahun 2017, Inalum ditetapkan sebagai holding dimana saham pemerintah di Antam, Bukit Asam, dan Timah di-inbreng kepada Inalum. Sejak saat itu, Inalum menjalankan dua fungsi yaitu operating dan holding.

Orias menjelaskan, Inalum difungsikan sebagai holding agar menjadi katalis apabila anak-anak perusahaannya mengalami kesulitan. Namun, ketika dibuat menjadi holding, Inalum tidak disiapkan untuk memiliki operation. “Jadi sekarang sedang dibuat split off dimana MIND ID akan ditimbulkan di atas. Kemudian, semua BUMN akan diinjeksi ke dalam MIND. Termasuk, Inalum yang 100% akan dimiliki MIND ID,” terang Orias.

Jika proses pemisahan kedua fungsi Inalum tersebut dapat terealisasi pada akhir 2021 atau awal tahun depan, maka IPO diperkirakan akan dilaksanakan pada akhir 2022. Setelah IPO Inalum selesai, jika diperlukan dan dimungkinkan selanjutnya dipersiapkan untuk IPO MIND ID.

Pada semester I-2021, Orias melaporkan bahwa utang Inalum mencapai Rp 96 triliun dengan posisi cash sebesar Rp 32 triliun dan total aset sebesar Rp 193 triliun. Utang tersebut berasal dari pembelian PT Freeport Indonesia.

“Jadi, (pembelian itu) tidak ada rekayasa apa-apa. Itu simpel, pinjam uang. Jadi tidak mengambil dari negara. Melainkan pinjam sebesar US$ 4 miliar dari pasar modal yang kemudian kita pakai untuk membeli Freeport,” ungkap Orias.

Setelah itu, pihaknya juga kembali meminjam sebesar US$ 2,5 miliar, dimana US$ 1 miliar di antaranya digunakan untuk membayar utang kepada pasar modal dari total utang US$ 4 miliar. “Jadi posisi utang kami saat ini kurang lebih US$ 5,5 miliar,” jelasnya.

Adapun posisi keuangan per Agustus 2021, laba bersih perseroan telah mencapai Rp 7,8 triliun. Karena itu, utang dan cash menunjukkan posisi yang aman. Di samping itu, Inalum juga memiliki line dari perbankan yang cukup signifikan. Jika sewaktu-waktu dihadapkan pada kebutuhan-kebutuhan mendesak, perseroan akan bisa membayar utang. Dengan demikian, posisi perusahaan cukup baik dari sisi keuangan.

“Kita kalau mau IPO itu kan harus sehat. Jadi kalau kita mau IPO, kita lebih dulu melihat size, price, dan timing yang harus pas. Itulah yang akan kita lakukan,” pungkas Orias.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Layanan Strategis MIND ID Ogi Prastomiyono juga menyampaikan, rencana IPO Inalum ini sedang proses persiapan. “Kita melakukan due diligence mendalam dari aspek keuangan, legal, dan bagaimana kita bisa mempersiapkan agar IPO ini mendapatkan interest dari para investor yang akan membeli saham Inalum,” kata dia.

Sejauh ini, pihaknya belum menentukan terkait berapa porsi saham yang akan dijual. Namun yang jelas, integrasi boxit, alumina, dan aluminium akan menjadi strategi Inalum ke depan. Intinya, rencana IPO Inalum operating akan dilaksanakan setelah rencana pemisahan fungsi operating dan holding.

Pemisahan Inalum dari fungsi holding dan operating ini juga berkaca dari proses holding instansi BUMN lain seperti yang dulu pernah dilakukan di PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Semen Indonesia Tbk. “Kami berharap holding akan bersifat strategis dan menjadi bentuk akhir dari rencana holdingisasi yang dilakukan pada 2017,” ujar Ogi.  

Menurut dia, pemisahan Inalum dari fungsi holding tersebut akan memungkinkannya untuk melakukan IPO berdasarkan performa. Mengingat, sejak menjadi BUMN pada 2014, Inalum telah menunjukkan kinerja baik ketika menjadi Penanaman Modal Asing (PMA). Apalagi, kinerja Inalum dari waktu ke waktu sudah semakin baik, sehingga bisa siap untuk menjadi perusahaan publik.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN