Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel. Foto: Perseroan.

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel. Foto: Perseroan.

Market Cap Mitratel Dekati Tower Bersama

Selasa, 23 November 2021 | 05:50 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel memiliki nilai kapitalisasi pasar (market capitalization) sebesar Rp 63,89 triliun hingga penutupan perdagangan Senin (22/11) atau hari pertama pencatatan MTEL di Bursa Efek Indonesia (BEI). Market cap Mitratel berada di posisi 26 atau mendekati pesaingnya, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), yang senilai Rp 64,57 triliun di posisi 24.

Saat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dengan harga Rp 800 per saham, market cap Mitratel sempat mencapai Rp 66,3 triliun atau di atas Tower Bersama. Namun, karena kemarin harga MTEL turun 4,38% ke level Rp 765 atau di bawah harga IPO, market cap Mitratel ikut turun.

Sementara itu, kompetitor lainnya, yaitu PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), bertengger di posisi 28 dengan nilai market cap Rp 61,47 triliun. Sedangkan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) di posisi 83 dengan nilai market cap Rp 17,49 triliun. Solusi Tunas baru saja diakuisisi oleh Sarana Menara, perusahaan menara telekomunikasi milik Grup Djarum.

Analis Henan Putihrai Steven Gunawan menilai, pelemahan harga MTEL tersebut sebatas efek jangka pendek dari para pelaku pasar. Sebab secara fundamental, Mitratel tergolong bagus. Terlebih, anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tersebut juga akan menggunakan dana hasil IPO untuk ekspansi usaha. “Ini efek jangka pendek (short term) yang merah pada hari pertama," kata dia kepada Investor Daily, kemarin.

Steven menegaskan, Mitratel merupakan perusahaan telko-infrastruktur yang ke depannya masih prospektif. Kalaupun terjadi fluktuasi atas pergerakan harga sahamnya, hal itu lebih pada sudut pandang teknis pelaku pasar. “Kalau saya hitung sederhana pakai valuasi relatif. Malah MTEL dapat target harga saham Rp 1.300 untuk 12 bulan ke depan,” ungkapnya.

Senada dengan Steven, Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai bahwa penurunan harga saham pada perdagangan hari pertama merupakan hal wajar yang hanya berlaku dalam jangka pendek. Sedangkan untuk jangka menengah dan panjang, saham MTEL sangat bagus.

Dia menegaskan, koreksi harga itu dipicu oleh para investor besar yang ingin cepat mencetak untung di awal. “Memang logis mereka langsung keluar. Tapi, masalahnya pola ini trading short term. Padahal ini lebih cocok untuk investasi, bukan trading," jelas Wahyu.

Namun, dia mengakui, pelemahan harga MTEL bisa membuat grogi para investor ritel. Kecuali, para investor ritel siap untuk investasi jangka menengah dan panjang, maka koreksi tidak akan berlanjut. “Penurunan harga saham ke level Rp 765 masih tergolong wajar. Bahkan harganya sempat menyentuh Rp 850-890,” ujarnya.

Sementara itu, Research and Analyst CSA Ahmad Ali Ramadhan menyebutkan bahwa harga wajar saham Mitratel sebesar Rp 1.035. “Jadi, masih ada potensi upside," kata dia.

Menurut Ali, dengan metode komparatif, valuasi MTEL pada tahun ini terbilang cukup murah jika mengacu pada harga yang paling tinggi. Price to earning ratio (PER) Mitratel mencapai 32 kali. Sedangkan PER TBIG mencapai 51,5 kali dan TOWR 18,3 kali.

Jika diambil metode rata-rata antara TBIG dan TOWR kemudian dikalikan dengan laba per saham (earning per share/EPS) MTEL sebesar Rp 30, maka valuasi saham perseroan pada harga Rp 1.035. Dengan target harga Rp 1.035, berarti market cap Mitratel bisa menembus Rp 85 triliun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN