Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Saham IPO 2022 Diprediksi Berikan Gain 85%

Selasa, 11 Januari 2022 | 14:18 WIB
Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id) ,Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com) ,Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Saham penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) diprediksi memberikan keuntungan (capital gain) berkisar 82-85% pada 2022, lebih tinggi dari pencapain tahun lalu sebesar 76% dan juga di atas kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 10%.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada menerangkan, gain saham IPO tahun ini diprediksi tetap tinggi tahun ini. Sebab, kondisi perekonomian sudah pulih, sehingga mendorong lebih banyak perusahaan masuk bursa saham.

“Tahun 2020 dan 2021 saja, saat ekonomi dihantam pandemi, banyak perusahaan menggelar IPO. Apalagi, saat ini, di mana pandemic Covid-19 sudah mulai terkendali. Ini akan mendorong perusahaan masuk bursa untuk mencari pendanaan,” kata dia, Senin (10/1).

Analis CSA Research Institute. Foto: IST
Analis CSA Research Institute. Foto: IST

Dia memprediksi jumlah IPO tahun ini masih bisa 50 lebih, seperti tahun lalu 54. Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan jumlah IPO mencapai 55.

Dia menilai, saham IPO yang mencetak gain tinggi tahun lalu berada di sektor digital, seperti DCII dan BANK. Dua sektor ini memang tengah digemari investor, karena memiliki prospek cerah.

Reza menambahkan, IPO raksasa teknologi GoTo bakal ditunggu pelaku pasar, karena nilainya besar.

Dia menilai, GoTo pasti sudah belajar dari IPO PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) tahun lalu.

“Itu sebabnya, GoTo bakal berhati- hati dalam menetapkan harga dan penjamin emisi, belajar dari kasus BUKA,” tegas dia.

Saham-saham calon pendatang baru dengan kapitalisasi jumbo seperti GoTo dengan raihan dana sekitar US$ 2-3 miliar, akan menjadi magnet baru di pasar modal tahun ini. Kesuksesan kinerja saham-saham IPO sudah terlihat di awal tahun ini. Saham IPO pertama yang listing 3 Januari 2022, PT Adaro Minerals Indonesia (ADMR) berhasil mencapai auto reject atas (ARA) berturut-turut hingga sepekan perdagangannya.

Saham emiten anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO) ini mampu memberikan gain 380% hanya dalam seminggu pertama sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada penutupan perdagangan bursa Senin (10/1), ADMR menguat 24,% ke level Rp 480 dibanding hari sebelumnya Rp 340. Dalam sepekan perdagangannya, saham emiten pertambangan batu bara ini naik 380% dibanding harga penawaran IPO sebesar Rp 100 per saham. Tidak jauh berbeda dengan ADMR, saham PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) juga mencapai ARA pada hari pertama listing, 10 Januari kemarin.

Saham kedua yang melantai di bursa tahun ini tersebut melonjak 34,44% atau 62 poin ke level 242 dari harga penawaran umum perdananya di level 180. Menurut Reza, tingginya peminat SEMA disebabkan oleh bisnis yang dilakukan perseroan sebagai produsen panel listrik yang dapat membantu pengoptimalan program penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang sedang digalakkan oleh pemerintah Indonesia.

“Perusahaan seperti SEMA menjanjikan prospek jangka panjang atau yang kiranya pada masa depan nanti produknya akan diperlukan,” kata Reza.

Karyawan melintas di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Karyawan melintas di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengatakan, sudah ada 25 perusahaan yang antre untuk mencatatkan sahamnya di bursa. Salah satu di antaranya adalah perusahaan unicorn.

Reza mengatakan, sejatinya naik atau tidaknya harga sebuah saham bergantung pada sentimen yang menjadi pengaruh utama kinerja saham emiten atau juga indeks.

Seharusnya, tahun 2022 bisa jadi tahun kebangkitan para emiten sejalan dengan kegiatan perekonomian yang mulai berjalan dengan normal akibat kebijakan percepatan program vaksinasi dan juga pelonggaran pembatasan aktivitas oleh pemerintah.

“Namun, dalam perjalanannya kekhawatiran tetap ada dari potensi mutasi virus Covid-19 yakni Omicron yang bila tidak ditangani dengan benar oleh pemerintah berisiko menghambat laju pemulihan yang sedang berjalan,” jelasnya.

Terlepas dari itu, Reza melanjutkan, jumlah IPO saham tahun ini harusnya bisa lebih tinggi dari tahun 2021. Pasalnya, jumlah emiten yang melakukan pencatatan saham terbukti tetap bertumbuh selama pandemi.

Dia menyebutkan, hal-hal yang perlu dicermati dalam memilih saham IPO adalah kinerja fundamental perusahaan, adanya kelebihan permintaan (oversubscribe), besaran jumlah saham yang beredar di publik, hingga potensi pihak-pihak tertentu yang memiliki ke pentingan terhadap saham tersebut.

Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo
Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo menargetkan adanya 55 emiten baru yang akan melakukan pencatatan saham di BEI. Target itu meningkat dari realisasi pada tahun 2021 sejumlah 54 emiten. Bahkan di antaranya dikabarkan adalah perusahaan berskala unicorn.

“Dengan kondisi bisnis yang lebih baik, seharusnya bisa meningkat lebih, selain itu para calon perusahaan tercatat dapat memanfaatkan beberapa kemudahan yang diberikan oleh BEI dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujarnya.

Sangat Menarik Dikoleksi

Pengamat Pasar Modal yang juga Founder Sahamology.id Satrio Utomo. Foto: linkedin
Pengamat Pasar Modal yang juga Founder Sahamology.id Satrio Utomo. Foto: linkedin

Pengamat Pasar Modal yang juga Founder Sahamology.id Satrio Utomo mengatakan, saham-saham IPO sangat menarik untuk dikoleksi, terutama saat di pasar primer. Investor berpeluang mendapatkan gain di hari pertama listing sahamnya di Bursa. Terlebih, apabila saham tersebut berhasil mencapai ARA, yang berarti menjanjikan keuntungan hingga 35%.

Meski demikian, Satrio Utomo mengingatkan investor untuk tidak gegabah dalam memilih saham IPO baru. Karena bisa saja, saham tersebut justru mengalami auto reject bawah (ARB).

Satrio Utomo juga mengingatkan investor untuk berhati-hati terhadap potensi permainan bandar yang bisa memainkan pergerakan harga saham. Investor, lanjut dia, harus jeli melihat persentase price to earning ratio (PER) saham tersebut.

“Kalau saham itu PER-nya sudah di atas 30 kali, saham itu sebenarnya sudah tidak layak untuk investasi. Artinya, kalau kita mau masuk ke saham IPO, perhatikan PER-nya. Jika PER-nya sudah di atas 50 kali, saham itu hanya layak untuk trading,” jelas dia.

Bagi investor pemula, kata Satrio Utomo, sebaiknya membeli saham IPO di pasar primer. “Dan jangan langsung kalap masuk ke pasar sekunder kalau tidak dapat saham waktu di pasar primer, apalagi kalau PER-nya sudah di atas 50 kali,” ujar dia.

Satrio Utomo mengatakan, investor perlu mengetahui laba per saham (earning per share/EPS) saham tersebut, dan titik tertinggi harga setelah IPO tersebut biasanya antara 25-35 kali. “Dan ingat, jangan mengumbar nafsu dan emosional, harus tetap rasional,” ungkap dia.

Pengamat pasar modal Marolop Alfred Nainggolan. Foto: IST
Pengamat pasar modal Marolop Alfred Nainggolan. Foto: IST

Sementara itu, Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan mengatakan, pada 2022, masih banyak emiten IPO yang akan memberikan gain tinggi di hari pertama listing, khususnya emiten-emiten yang memiliki size perusahaan kecil dengan kapitalisasi < Rp 200 miliar.

“Pilihlah saham IPO dari sektor, besaran pertumbuhan, dan valuasi yang masih atraktif,” ujar dia.

Alfred berpendapat, target IPO sebanyak 55 perusahaan pada 2022 sangat realistis di tahun pemulihan perekonomian baik global maupun domestik pasca krisis ekonomi oleh pandemi Covid-19.

Selain fase pemulihan, langkah ekspansi emiten ke depan juga akan semakin meningkat se hingga sangat memerlukan pendanaan.

“Perusahaan-perusahaan tersebut juga melihat bagaimana investor (penyerapan dana) pasar modal kita juga semakin baik yang semakin meyakinkan momentumnya di tahun ini untuk mencari pendanaan di pasar modal (IPO),” kata Alfred.

Kinerja spektakuler IPO emiten 2021
Kinerja spektakuler IPO emiten 2021

Tingginya minat dari masyarakat pada pasar modal, tercermin dari performa saham IPO di hari pertama listing untuk tahun 2021 yang rata-rata naik 9,74% dimana dari 54 emiten, sebanyak 8 perusahaan di antaranya mencatatkan penurunan di hari pertama listing. Secara historis, selama tahun 2020 dari 51 emiten IPO, seluruhnya mencatatkan kenaikan di hari pertama listing dengan rata-rata kenaikan 40,96%.

Berdasarkan pengamatan Alfred, PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) yang dilepas pada harga Rp 180 per saham termasuk saham yang tidak murah. Hal itu didasari dengan proyeksi laba 2021 selama setahun yang memiliki rasio PE sebesar 24x rasio.

SEMA berada di sektor Energy de ngan spesialisasi energi baru ter barukan (EBT) yang memiliki proyeksi pertumbuhan yang tinggi dalam 4 tahun mendatang, kurang dari 100% sampai 2025. Sehingga pasar mengasumsikan tahun ini SEMA akan bisa kembali mendapatkan pertumbuhan yang tinggi.

“Asumsi pertumbuhan laba 2022 sebesar 50%, Pada level PE 2021 di kisaran 25x - 30x range harga SEMA di Rp 278 - Rp 330 per saham. Para investor tinggal menunggu berapa target manajemen untuk pertumbuhan laba di tahun ini,” kata dia.

Kiswoyo Adi Joe. Foto: BSTV
Kiswoyo Adi Joe. Foto: BSTV

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe mengatakan, investor bisa masuk ke saham IPO melalui pasar primer. “Kalau penjatahan yang didapatkan investor ritel sedikit, ada potensi sahamnya akan naik,” ujar dia.

Diakui Kiswoyo, saham-saham IPO juga masih menyimpan risiko penurunan harga saat sudah di pasar sekunder.

“Karena kita juga tidak bisa  melihat fundamental perusahaannya. Fundamentalnya baru bisa dilihat setelah dua tahun, sehingga risikonya memang besar,” terang dia. (jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN