Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi IPO. Foto: Pixabay.

Ilustrasi IPO. Foto: Pixabay.

6 Perusahaan akan IPO, 5 Emiten Siap Terbitkan Surat Utang

Selasa, 22 September 2020 | 09:13 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menjaring minat perusahaan untuk menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dan penerbitan surat utang. Saat ini, sebanyak enam calon emiten baru masuk dalam pipeline rencana IPO, sedangkan lima perusahaan tengah menyiapkan emisi obligasi dan sukuk.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, dalam pipeline terbaru IPO, terdapat dua perusahaan dari sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan; dua perusaahan dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi; satu perusahaan dari sektor aneka industri; satu perusahaan dari sektor pertanian.

Selain itu, terdapat lima perusahaan yang akan menawarkan tujuh emisi obligasi dan sukuk. BEI belum menyebut secara rinci mengenai nama-nama perusahaan tersebut beserta target perolehan dana.

“Kami percaya pelaku bisnis memiliki minat dan harapan besar tumbuh bersama pasar modal Indonesia. Ke depan, masih akan banyak pelaku bisnis yang memanfaatkan pasar modal untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan dengan melakukan pencatatan saham maupun penerbitan efek lainnya,” kata Nyoman, Senin (21/9).

Dia menegaskan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO) senantiasa memperhatikan kebutuhan dan kondisi terkini, serta berusaha memberikan berbagai kemudahan bagi calon emiten maupun investor. Saat ini, BEI terbuka bagi perusahaan skala aset kecil dan menengah, sehingga nilai emisi akan menjadi beragam sesuai dengan ukuran dan kebutuhan perusahaan.

Lebih lanjut Nyoman mengatakan, mengenai pelaksanaan IPO termasuk waktu, besaran dana, serta penggunaan dana merupakan sebuah rencana strategis masing-masing perusahaan. “Bursa selalu memperhatikan investor dengan memberikan kesempatan hanya kepada perusahaan yang prospektif,” ujar dia.

Adapun BEI telah soft launching Sistem Electronic Indonesia Public Offering (e-IPO) pada 10 Agustus 2020. BEI membuka peluang bagi calon emiten dan sekuritas melakukan uji coba secara sukarela menggunakan sistem e-IPO dalam penawaran umum perdana saham sampai akhir 2020.

Sistem e-IPO bertujuan membuat proses IPO dapat dilakukan secara transparan, meningkatkan coverage investors, serta stakeholders yang terkait lainnya. Pada akhirnya, upaya ini diharapkan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Tanah Air.

Relaksasi

Menurut Nyoman, saat ini OJK dan SRO terus memperhatikan perkembangan situasi dan kondisi serta berkoordinasi dalam mengkaji kebijakan baru yang dapat mendukung pelaku pasar modal. Selama pandemi ini, setidaknya sudah ada lima relaksasi di pasar modal.

Semisal, penurunan tarif PPh badan sebesar 3% lebih rendah untuk perusahaan terbuka yang mencatatkan sahamnya di BEI. Hal ini telah diatur di UU No 2 Tahun 2020, Perppu No 1 Tahun 2020, dan PP No 30 Tahun 2020. Berdasarkan sumber data yang disampaikan oleh Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, terdapat 163 perusahaan tercatat yang memenuhi syarat dan memperoleh penurunan tarif PPh Badan untuk tahun 2019.

“Pandemi ini memiliki dampak tehadap dunia usaha. Tentunya BEI berharap seluruh sektor usaha dapat segera pulih dan memiliki performa yang baik,” kata dia.

Sementara itu, stimulus lain untuk pelaku pasar modal khususnya calon emiten tercatat dan emiten yang sudah tercatat adalah relaksasi batas waktu penyampaian laporan keuangan tahunan per akhir Desember 2019, kuartal I-2020, dan kuartal II-2020 serta batas waktu pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Kini, emiten diperbolehkan menyelenggarakan public expose secara electronik, dimana BEI menyediakan peminjaman akun aplikasi pendukungnya. Selanjutnya, emiten dibolehkan melakukan buyback saham tanpa RUPS.

Tak ketinggalan, BEI memperpanjang jangka waktu berlakunya laporan keuangan dan laporan penilai di pasar modal, perpanjangan masa penawaran awal, dan penundaan atau pembatalan penawaran umum. BEI pun memberikan diskon biaya pencatatan awal saham dan saham tambahan sebesar 50%.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN