Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Adhi Karya. Foto: IST

Adhi Karya. Foto: IST

Adhi Karya Tunda IPO Saham Dua Anak Usaha Hingga 2020

Gita Rossiana, Rabu, 21 Agustus 2019 | 21:09 WIB

JAKARTA, Investor.id - PT Adhi Karya Tbk (Adhi) memutuskan penundaan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dua anak usahanya, yaitu PT Adhi Commuter Properti (ACP) dan PT Adhi Persada Gedung (AGP), hingga tahun 2020. Awalnya pelepasan saham kedua perusahaan ini ke publik ditargetkan tahun ini.

Direktur Keuangan Entus Asnawi menjelaskan, penundaan IPO saham kedua anak usaha tersebut didasarkan kondisi pasar modal."Kami menunggu pasar modal stabil, kalau situasi pasar modal lebih baik, IPO saham kemungkikan dilaksanakan tahun depan," ujarnya di Jakarta, Rabu (21/8).

Pihaknya menargetkan perolehan dana IPO saham kedua anak usaha ini sekitar Rp 3-4 triliun. Sekitar Rp 2-2,5 triliun diharapkan berasal dari pelepasan sebesar 30-35% saham ACP dan sisanya berkisar Rp 1-1,5 triliun berasal dari divestasi saham AGP.

Selain IPO anak usaha, dia menjelaskan, Adhi Karya akan melaksanakan aksi korporasi lain tahun ini. Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto menjelaskan, perseroan berencana menerbitkan obligasi lagi dengan nilai maksimal Rp 2 trilium tahun ini. Sebelumnya, pada semester I-2019, perseroan sudah menerbitkan obligasi sebesar Rp 1 triliun.

Opsi pendanaan lain yang akan dilakukan adalah pembentukan perusahaan equity fund. Perusahaan ini nantinya tidak dimiliki Adhi Karya, namun oleh perusahaan lain. Sejauh ini, perseroan sudah menjajaki kerjasama dengan PT Indonesia Infrastruktur Finance (IIF) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

"Struktur kepemilikan sahamnya, kami 51% dan 49% akan diserahkan ke pihak lain," kata dia.

Proyek yang akan dikelola oleh perusahaan equity fund tersebut adalah proyek jalan tol Yogyakarta-Solo, jalan tol Cikunir-Ulujami, proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan proyek jalan tol yang ditangani PT Jakarta Tollroad Development (JTD). Keseluruhan proyek ini diharapkan bisa menghasilkan dana investasi sebesar Rp 3 triliun tahun ini.

Dari dana yang diperoleh dari berbagai aksi korporasi tersebut, perseroan sudah memiliki sejumlah proyek yang akan dilakukan tahun ini dan tahun depan. Budi mengungkapkan, perseroan bersiap untuk membangun proyek light rail transit (LRT) jalur Cibubur - Bogor mulai 2021.

Sementara uji coba LRT jalur Jakarta - Bogor - Depok - Tangerang diharapkan dilakukan bulan depan. Proyek LRT ini merupakan bagian dari LRT Jabodetabek fase I yang telah dibangun sejak 1 September 2015 dengan total biaya Rp 22,8 triliun.

Budi mengatakan, untuk jalur LRT baru, biaya investasinya lebih murah, karena sebagian besar kereta dibangun di atas tanah. Jalur ini memiliki panjang lebih dari 25 kilometer dengan perkiraan investasi Rp 10 triliun.

Sedangkan tahun ini, perseroan berencana membangun 18 transit oriented development (TOD) di sepanjang jalur light railway transit (LRT). Perseroan juga sedang melakukan studi untuk membuat loop line untuk elevated railway di sekitar wilayah Jakarta untuk mengurangi kemacetan antara jalan dan pintu kereta. Kereta api layang direncanakan akan dibangun 20 kilometer dengan perkiraan investasi Rp 15 triliun.

Dengan adanya ekspansi tersebut, perseroan berharap bisa mencapai target tahun ini. Perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 18,4 triliun tahun ini dengan realisasi hingga Juni 2019 sebesar Rp 6,08 triliun. Sementara untuk perolehan laba bersih ditargetkan sebesar Rp 755 miliar dengan realisasi Juni 2019 sebesar Rp 215 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA