Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dua emiten baru tawarkan saham perdananya di BEI, Rabu pagi (12/2/2020). Sumber: BSTV

Dua emiten baru tawarkan saham perdananya di BEI, Rabu pagi (12/2/2020). Sumber: BSTV

Agro Yasa Lestari Bidik Pendapatan Rp 70 Miliar

Thereis Kalla, Rabu, 12 Februari 2020 | 13:26 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS) akan fokus untuk menyokong kebutuhan aspal pembangunan infrastruktur di proyek pembangunan jalan tol Trans Sumatera. Perseroan memproyeksikan pada tahun ini dapat membukukan pendapatan sebesar Rp 70 miliar.

Direktur Utama Agro Yasa Lestari Akam mengatakan, proses pembangunan infrastruktur di jalan tol Trans Sumatera yang masih akan terus berlanjut, turut meningkatkan kebutuhan aspal. Dengan meningkatnya kebutuhan aspal, ikut berdampak pada peningkatan kinerja perseroan sebagai pemasok aspal.

“Target pendapatan di tahun ini, sekitar Rp 60 miliar hingga Rp 70 miliar. Supply barang - barang kebutuhan infrastruktur seperti aspal dan Geosintetik, terutama di proyek-proyek Trans Sumatera masih akan ramai,” ujar Akam seusai pencatatan perdana (listing) saham AYLS di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (12/2).

Akam menjelaskan, di 2020 proyeksi laba bersih perseroan dapat bertumbuh hingga 10%. Harapannya, lini bisnis aspal dan Geosintetik akan menopang kinerja perseroan, sambil menggenjot kinerja segmen bisnis pakan ternak.

Hingga saat ini kontribusi pendapatan perseroan paling besar oleh lini bisnis aspal dengan porsi sebesar 80%, sedangkan segmen bisnis Geosintetik sebesar 20%, termasuk lini bisnis pakan ternak.

Ramainya pembangunan infrastruktur di pemerintahan Presiden Joko Widodo, ikut berdampak juga pada meningkatnya kinerja perseroan di tahun lalu. Hingga 31 Juli 2019, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 27,11 miliar naik 23,78% dibanding periode sama tahun 2018 sebesar Rp 21,90 miliar. Laba bersih perseroan tercatat naik 180,8% menjadi Rp 2,1 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 750 juta per Juli 2018.

“Jadi meningkatnya supply barang - barang kebutuhan proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan pemerintah yang sedang ramai. Kebetulan kami bergerak di situ, jadi ikut meningkat juga pendapatannya,” jelas Akam.

Akam memperkirakan, untuk tahun buku 2019, perseroan dapat membukukan pendapatan dua kali lipat dibanding perolehan di bulan Juli 2019. Sedangkan, laba bersih diproyeksikan akan mencapai Rp 3 miliar hingga tutup tahun buku 2019.

Sampai saat ini, perseroan telah mensupplai produk aspal sekitar 15 ribu ton per tahun kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya dan swasta. Akam menegaskan, setelah menjadi perusahaan terbuka, diharapkan secara gradual dalam lima tahun ke depan perseroan dapat menyuplai sekitar 100 ribu ton aspal per tahun. Sehingga dalam 10 tahun ke depan, perseroan ditargetkan dapat memproduksi aspal di Indonesia.

Sementara itu, perseroan membidik proyek dengan nilai sekitar Rp 100 miliar. Rencananya perseroan akan lebih fokus mengincar proyek-proyek di daerah Indonesia Timur yang sedang di prioritaskan pemerintah agar jalur transportasinya dapat saling terhubung.

Selain fokus pada lini bisnis aspal, perseroan juga tengah menggenjot kinerjanya di segmen Geosintetik. Menurut Akam, potensi bisnis Geosintetik memiliki peluang yang bagus ke depannya, terlebih masih belum banyaknya pemain di lini bisnis ini.

Akam menjelaskan, Geosintetik digunakan untuk filtrasi dan stabilisasi tanah, sehingga tanah dimana proyek pembangunan dapat menjadi lebih kokoh dan tidak cepat amblas. Namun, untuk kebutuhan pembangunan tol Trans Sumatera, perseroan masih mengimpor bahan Geosintetik dari Korea karena kebutuhan kadar Geosintetik dengan kekuatan yang lebih tinggi.

Perseroan melepas sebanyak 258 juta saham baru pada gelaran penawaran umum perdana (Initial Public Offering/ IPO) saham atau sebanyak 30,31% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Saham AYLS ditawarkan sebesar Rp100 per unit saham.

Dalam pelaksanaan IPO, perseroan berhasil menghimpun dana sebesar Rp 25,87 miliar, yang rencananya akan digunakan untuk membayar utang dan modal kerja.

Adapun secara rinci, sekitar 83,28% dana hasil IPO untuk kebutuhan modal kerja dan sekitar 16,72% untuk pembayaran sebagian hutang kepada PT Bank Danamon Indonesia Unit Usaha Syariah.

Pada perdagangan perdananya (12/2) saham AYLS langsung melonjak 70% ke harga Rp 170 dari harga penawarannya sebesar Rp 100. Dalam gelaran IPO ini, perseroan menunjuk NH Korindo Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA