Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dari kiri ke kanan, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, Dirut PT Bank Amar Indonesia Tbk Vishal Tulsian, Head Of Finance Bank Amar Indonesia David Wirawan, Komut BNI AM Eddy Siswanto, Direktur Utama BNI-AM Reita Farianti, Direktur Utama PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSR) Gita Sapta Adi, Komisaris Utama CSR Erwin Kurniawan, Managing Director Mandiri Sekuritas Silva Halim dan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono W. Widodo saat pencatatan perdana bersama di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (9/1/2020).  Foto: UTHAN A RACHIM

Dari kiri ke kanan, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, Dirut PT Bank Amar Indonesia Tbk Vishal Tulsian, Head Of Finance Bank Amar Indonesia David Wirawan, Komut BNI AM Eddy Siswanto, Direktur Utama BNI-AM Reita Farianti, Direktur Utama PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSR) Gita Sapta Adi, Komisaris Utama CSR Erwin Kurniawan, Managing Director Mandiri Sekuritas Silva Halim dan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono W. Widodo saat pencatatan perdana bersama di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (9/1/2020). Foto: UTHAN A RACHIM

MELANTAI DI BEI

Bank Amar Fokus ke Digital, Cisadane Naikkan Produksi

Thereis Kalla, Jumat, 10 Januari 2020 | 14:22 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Bank Amar Indonesia (AMAR) akan fokus mengembangkan produk digital, setelah melakukan pencatatan perdana (listing) saham di BEI pada Kamis (9/1). Sedangkan PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA), yang juga listing kemarin, memproyeksikan kenaikan produksi 15% tahun 2020.

AMAR tercatat menjadi emiten baru kedua yang listing saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) awal tahun ini. Pada perdagangan perdananya, harga saham AMAR menguat 68,97% ke level Rp 294 per saham atau naik 120 poin, setelah ditransaksikan 444 kali dengan volume 6,54 juta lot saham.

Bank Amar Indonesia melepas 1,2 miliar lembar saham melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dengan harga penawaran umum Rp 174 per saham. Dana yang dihimpun dari IPO sebanyak Rp 209 miliar.

Executive Finance and Accounting Manager Bank Amar Indonesia David Wirawan mengatakan, selama masa penawaran umum pada 2-6 Januari 2020, saham AMAR kelebihan permintaan (oversubscribed) sekitar 200%. “Oversubscribed sekitar 200%, yang menyerap dari institusional dan retail,” ujarnya pada konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/1).

Berdasarkan prospektus perseroan, seluruh saham yang ditawarkan dalam IPO merupakan saham milik pendiri. Oleh karena itu, seluruh dana hasil IPO sebesar Rp 209 miliar akan diterima oleh Tolaram Group Inc selaku pendiri, sedangkan perseroan tidak menerima dana.

Direktur Utama Bank Amar Vishal Tulsian mengungkapkan, perseroan akan fokus mengembangkan produk digital setelah menjadi perusahaan terbuka. Perseroan mengandalkan produk financial technology (fintech) miliknya, yaitu Tunaiku. Sejak diluncurkan pada 2014, Tunaiku mengusung konsep digital dengan memanfaatkan teknologi internet.

“Kami akan lebih kembangkan sisi digital, kami sudah luncurkan beberapa produk digital. Untuk Tunaiku sendiri telah menyalurkan kredit lebih dari Rp 3 triliun, sejak diluncurkan pada tahun 2014," katanya.

Vishal menambahkan, Tunaiku mengalami perkembangan yang signifikan. Sepanjang tahun 2019, Tunaiku menyalurkan kredit sebesar Rp 2 triliun. Capaian ini naik 100% dari 2018 yang hanya mencapai Rp 1 triliun.

Ekuitas Rp 1 Triliun

Vishal menuturkan, Tunaiku menjadi produk andalan Bank Amar, karena dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi perseroan. Ke depan, perseroan memperluas manfaat Tunaiku agar bisa digunakan masyarakat di berbagai macam tempat perbelanjaan.

“Lebih dari 50% pendapatan Amar Bank disumbang dari Tunaiku. Pada kuartal I-2020, Tunaiku akan mengeluarkan produk digitalnya, namun kami belum bisa menyebutkan detail rencana tersebut,” kata dia.

Vishal juga menjelaskan, pihaknya belum bisa mengatakan jumlah anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) yang disiapkan perseroan pada tahun ini. “Dalam ekosistem digital dan teknologi yang sangat dinamis, kami agak berbeda dengan perusahaan konvensional yang bisa menyebutkan jumlah capex per kuartal. Capex kita tahun ini difokuskan untuk pengembangan teknologi,” imbuhnya.

Bank Amar merupakan Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 2 dengan total ekuitas Rp 1 triliun. Hingga November 2019, net interest margin Bank Amar sebesar 18,83%.

Cisadane Sawit

PT Cisadane Sawit Raya (CSR). ( Foto: profil perusahaan / csr.co.id/id )
PT Cisadane Sawit Raya (CSR). ( Foto: profil perusahaan / csr.co.id/id )

Sementara itu, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menjadi emiten baru ketiga yang melakukan listing di BEI pada tahun 2020. Saham CSRA naik 87 poin atau 69,6% ke level Rp 212 pada perdagangan perdananya.

Perusahaan memproyeksikan kenaikan produksi sebesar 15% di tahun 2020. Perseroan menargetkan bisa menghasilkan total 350 ribu ton tandan buah segar (TBS) dan lebih dari 62 ribu ton crude palm oil (CPO).

Direktur Cisadane Sawit Raya Seman Sendjaja optimistis, hasil produksi akan naik mengingat profil umur tanaman kelapa sawit milik perseroan relatif muda. Hal ini menjamin keberlanjutan peningkatan produksi dalam tahun-tahun mendatang.

Dalam IPO saham, emiten produsen kelapa sawit ini melepas 410 juta saham baru. Besaran saham baru yang diterbitkan tersebut setara dengan 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Saham CSRA ditawarkan dengan harga Rp 125 per unit. Perseroan menunjuk PT UOB Kay Hian Sekuritas selaku penjamin pelaksana emisi efek.

Seman mengungkapkan, dana yang diperoleh dari IPO sekitar Rp 51,2 miliar. Dana rencananya digunakan untuk modal kerja perseroan. “Kami harapkan dana yang dikumpulkan sekitar Rp 51 miliar. Hasil IPO kami gunakan untuk working capital, untuk membeli TBS dari masyarakat, membeli pupuk, serta pembayaran kontraktor untuk biaya sewa alat berat dan konstruksi,” ujarnya.

Efisiensi

Seman menambahkan, dana yang dihimpun dari masyarakat melalui IPO bakal mendorong pertumbuhan dan pengembangan bisnis perseroan semakin baik di masa mendatang. Saham CSRA mengalami oversubscribed lebih dari 3 kali, setelah masa penawaran umum berlangsung.

Dia menjelaskan lebih lanjut, perseroan telah menyiapkan anggaran belanja modal hingga Rp 35 miliar, yang bersumber dari internal kas perusahaan. Namun, jumlah capex tersebut bisa berubah mengikuti harga komoditas CPO.

“Capex tahun ini kami sudah persiapkan beberapa versi. Versi optimistis maupun versi konservatif, tergantung dari harga CPO nanti. Kalau harga CPO bisa tinggi, cash flow kami bagus, capex kami bisa versi optimistis,” ujarnya.

Jika pada tahun ini harga CPO tak sesuai yang diharapkan, perseroan akan menggunakan capex versi konservatif. Konservatifnya bisa cuma Rp 2-3 miliar.

Dukung Mandatori B30

Seman juga menjelaskan, pihaknya mendukung kebijakan pemerintah terkait program mandatori B30 (pencampuran biodiesel 30% dan 70 solar). Program B30 diharapkan dapat mengangkat harga CPO. “Itu sangat membantu, kami sangat happy dengan kebijakan biodiesel, karena itu akan membantu kenaikan harga CPO,” tandasnya.

Kendati demikian, Seman belum mau memprediksi besaran target pendapatan dan laba perseroan hingga akhir tahun 2020. Menurut dia, hal tersebut diluar kontrol perseroan, sehingga tidak bisa diprediksi untuk saat ini.

“Dari segi finansial, kami hanya bisa mengontrol produksi dan cost. Tapi kalo dari segi top line atau revenue, terus terang tergantung harga CPO. Kami cuma bisa berharap harga CPO bisa terus bertahan di level yang cukup tinggi,” tandasnya.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2019, perseroan mencatatkan penjualan neto sebesar Rp 223,46 miliar atau turun 19,64% dari periode sama tahun 2018 sebesar Rp 278,08 miliar. Laba tahun berjalan per Juni 2019 tercatat sebesar Rp 4,43 miliar, atau turun 69,24% secara tahunan dari Rp 14,4 miliar pada periode sebelumnya. Aset perseroan mencapai Rp 1,35 triliun, yang terdiri atas liabilitas Rp 907,07 miliar dan ekuitas Rp 438,24 miliar.

Seman menuturkan, turunnya pendapatan perseroan terimbas dari turunnya harga CPO tahun kemarin. Sedangkan dari sisi produksi naik.

“Penurunan itu disebabkan harga CPO yang turun. Tapi, dari segi produksi secara compounded annual growth rate (CAGR) kami selama lima tahun terakhir, setiap tahun naik sekitar 15%,” ungkapnya

Sementara itu, Direktur Utama Cisadane Sawit Raya Gita Sapta Adi menjelaskan, unit pabrik pengolahan di Labuhan Batu berkapasitas 60 ton per jam. Pabrik memiliki tingkat utilisasi yang stabil antara 80-85%, dengan tingkat oil extraction rate (OER) sekitar 20% dan kernel extraction rate (KER) 5%.

“Kami juga meningkatkan efisiensi dan produktivitas dari kebun-kebun yang kami miliki. Ini adalah proses yang senantiasa dilakukan dalam rangka peningkatan produksi TBS maupun CPO,” kata Gita.

Head of Corporate Finance UOB Kay Hian Sekuritas Daud Gunawan mengatakan, ia optimistis atas IPO Cisadane. Perusahaan berpeluang bertumbuh ke depan. (en)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA