Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana main hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Suasana main hall di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

BEI akan Akomodasi Permintaan 'Unicorn'

Minggu, 14 Februari 2021 | 23:00 WIB
Primus Dorimulu dan Farid Firdaus

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengakomodasi tiga syarat utama yang diminta para perusahaan rintisan teknologi (startup) yang memiliki valuasi di atas US$ 1 miliar atau unicorn untuk mencatatkan saham perdana (listing) di BEI. Salah satu permintaan khusus para unicorn tersebut adalah pencatatan saham di papan utama.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pihaknya sangat serius mendorong unicorn untuk masuk ke pasar modal. BEI telah bertemu dan berdikusi secara intensif dengan para founder dan top manajemen dari para unicorn. Dari diskusi tersebut, muncul tiga hal yang perlu diakomodasi.

“Perhatian mereka adalah masuk ke papan utama. Ini matters, karena investor akan memberikan value yang lebih, saat mereka masuk papan utama,” kata dia saat gathering dengan pemimpin redaksi media massa, Kamis (11/2).

Di peraturan bursa yang berlaku saat ini, kata Nyoman, ada kewajiban perusahaan yang berniat mencatatkan saham di papan utama untuk memiliki tangible assets atau aset yang berwujud bersih. Namun, karakteristik unik dari unicorn adalah kepemilikan intangible assets atau aset yang tak berwujud, lebih besar dibanding tangible assets.

“Untuk itu kami segera melakukan follow up, dan memberikan ruang serta pilihan untuk ke main market, bukan dari sisi tangible asset saja, tapi kita masukkan unsur-unsur lain, misalnya kita buka sisi pendapatan dan market utilisasi,” jelas dia.

Nyoman menambahkan, saat ini BEI dalam proses rule making rule terkait akses papan utama bagi calon perusahaan tercatat seperti unicorn. Pihaknya menargetkan usulan ini bisa disetujui dalam waktu dekat untuk kemudian diimplementasikan.

Akses unicorn ke papan utama diupayakan dengan tetap menjaga kualitas papan utama. BEI berkomitmen tetap memperhatikan karakteristik dari perusahaan yang baru bertumbuh, dalam hal ini perusahaan rintisan teknologi atau yang memanfaatkan teknologi.

Sementara itu, permintaan kedua yang menjadi perhatian unicorn adalah adanya klasifikasi sub-sektor yang sesuai dengan bisnis unicorn tersebut. Tujuannya supaya para unicorn tersebut bisa berkompetisi dan dibandingkan secara apple to apple.

Upaya BEI untuk mengakomodasi klasifikasi sub-sektor tersebut adalah melakukan perubahan sektor industri dengan meluncurkan IDX Industrial Classification (IDX IC) pada 25 Januari lalu.

“Dengan adanya IDX IC, nanti ketika unicorn ini masuk bursa, mereka akan masuk ke sektor perusahaan yang berbasis teknologi, jadi ketika dikomparasikan mereka bisa apple to apple, sehingga bisa menyampaikan pertumbuhan atau kinerja berdasarkan peer-nya,” jelas Nyoman.

Lebih lanjut, permintaan ketiga para unicorn ini adalah hak khusus bagi para founder. Menurut Nyoman, founder yang telah memiliki kemampuan untuk membangun organisasi meminta hak khusus berupa dual class share. Kelas yang berbeda tersebut dalam bentuk multiple voting share. Artinya, satu saham milik founder mempunyai hak lebih besar dari saham biasa dalam hal pengambilan keputusan.

Demi mengakamodasi permintaan ini, BEI melakukan kajian dan komparasi dengan bursa-bursa lain di dunia, yang sudah maju dan lebih dulu menerapkan kebijakan terkait IPO unicorn. BEI juga mengajak diskusi berbagai asosiasi di pasar modal. BEI menyatakan sudah selesai melakukan kajian, yang dibantu oleh pihak independen, serta akademisi, dan BEI sudah menyampaikan kajian ke OJK.

“Saat ini kami intens berkomunikasi untuk dapat melakukan tindak lanjut terkait infrastruktur yang ada, sehingga tiga hal besar yang menjadi concern dari para unicorn itu akan kita akomodasi dengan tetap memperhatikan ketentuan dan peraturan yang ada,” jelas Nyoman.

Sebelumnya, dua perusahaan rintisan (start-up) teknologi terbesar di Indonesia, PT Tokopedia dan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek), dikabarkan tengah memfinalisasi penggabungan usaha atau merger. Kesepakatan antar dua unicorn tersebut ditargetkan paling cepat pada Februari ini.

Tokopedia dan Gojek masih membahas berbagai skenario dengan tujuan akhirnya mendapatkan entitas gabungan di Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Merger ini diperkiraan bakal menghasilkan valuasi di public market sekitar US$ 35-40 miliar.

“Ketentuan terbaru yang sedang dibahas meminta pemegang saham Gojek untuk memiliki sekitar 60% dari entitas gabungan, sementara investor Tokopedia memegang 40%, Terlepas dari rasionya, kedua perusahaan mendekati transaksi sebagai merger yang sederajat,” tulis Bloomberg dalam laporannya, Rabu (10/2).

Salah satu skenario yang dibahas adalah menggabungkan kedua perusahaan, sebelum secara bersamaan mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia dan AS. Skenario lainnya adalah mencatatkan saham Tokopedia terlebih dahulu di Indonesia, kemudian baru bergabung dengan Gojek dan akhirnya mencatatkan entitas gabungan di AS.

Namun, Gojek dan Tokopedia dikabarkan belum memutuskan apakah akan memilih listing dengan mekanisme penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham secara tradisional atau melalui special purpose acquisition company (SPAC).

Sebelumnya, Tokopedia menunjuk Morgan Stanley dan Citi sebagai penasihat dalam upaya mengakselerasi rencana perusahaan menjadi perusahaan publik. Manajemen Tokopedia mengatakan, pertumbuhan adopsi pasar semakin mendorong pertumbuhan bisnis Tokopedia selama masa pandemi.

Tokopedia tengah mempertimbangkan untuk mengakselerasi rencana menjadi perusahaan publik, namun belum memutuskan pasar dan metode secara spesifik. “SPAC juga merupakan salah satu opsi potensial yang bisa kami pertimbangkan, namun belum ada yang kami putuskan untuk saat ini,” kata manajemen baru-baru ini.

Edukasi dan Literasi

Sementara itu, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, seiring dengan peningkatan jumlah investor ritel di pasar modal, pihaknya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk sama-sama memberikan edukasi dan literasi yang positif kepada investor khususnya investor pemula. Hingga saat ini, jumlah investor pasar modal tercatat mencapai lebih dari 4 juta single investor identification (SID).

Salah satu sarana BEI melakukan edukasi adalah galeri investasi, yang mayoritas berkerja sama dengan universitas dan perguruan tinggi di Indonesia. Menurut Inarno, saat ini, BEI telah memiliki 500 galeri investasi. Pihaknya menyadari, rendahnya tingkat literasi masyarakat terkait pasar modal merupakan pekerjaan besar yang perlu dibenahi.

“Dari survei literasi di pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan, tingkat literasi di pasar modal yang terkecil daripada sektor keuangan yang lain. Kalau di pasar modal itu literasi hanya 5%, sementara di perbankan hampir 40%. Belum lagi inklusinya, kita jauh sekali dibanding sektor perbankan, asuransi dan lain-lain,” jelas Inarno.

Rangkul Influencer

Tahun ini, salah satu strategi BEI memperkuat edukasi ke masyarakat adalah merangkul tokoh ternama alias influencer dengan itikad positif lewat program influencer incubator.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi menambahkan, saat ini fenomena influencer yang kerap mempromosikan saham tertentu alias pom-pomers adalah tren yang tidak bisa dihindari, seiring perilaku mayoritas investor dalam menggunakan sosial media.

“Investor dekat sekali dengah hal-hal yangg sifatnya sosial media, smartphone, dan komunitas. Ada sisi positif tapi juga ada excess yang perlu kita antisipasi,” kata dia.

Hasan menjelaskan, pihaknya menyadari pola investor-investor pemula yang berinvestasi di pasar modal karena terpengaruh komunitas atau ajakan teman. Dalam mencermati hal ini, BEI tengah memilah-milah komunitas yang masih sejalan dengan strategi edukasi yang positif.

BEI, lanjut Hasan, tidak memungkiri terdapat komunitas yang mempengaruhi investor pemula untuk tujuan kurang positif. Di silah BEI akan hadir. Pada tiga pekan lalu, pihaknya telah mengadakan diskusi dan memberikan pembekalan dengan sejumlah selebgram sebagai upaya bagian dari program edukasi dan literasi.

“Kami merangkul influencer yang kami anggap masih punya itikad baik menyadarkan masyarakat perlunya investasi,” kata dia.

Hasan menambahkan, fenomena pom-pomers belakangan ini juga sudah mulai berubah. Jika sebelumnya sejumlah influencer -tanpa perlu disebutkan namanya- terus berpromosi terhadap sejumlah saham tanpa pemaparan fundamental yang jelas, kini prilaku komunikasi influencer tersebut cenderung ke upaya menyadarkan masyarakat perihal manfaat investasi.

Strategi merangkul influencer juga tidak menyurutkan peran otoritas dalam hal pengawasan di pasar. Menurut Hasan, apabila ada pola-pola transaksi saham oleh pihak-pihak terkait yang melanggar ketentuan di bursa, tentu akan diberikan sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Hal ini pun sudah dalam pemantauan BEI.

BEI berharap sebagian influencer yang semula katakanlah diklaim melakukan pom-pom dalam konteks kurang baik, untuk memperbaiki cara sosialisasi. Sehingga selanjutnya, para influencer bersama BEI lebih menguatkan lagi edukasi di pasar modal.

Influencer ini luar biasa pengaruhnya, sekali mereka bicara, jutaan followers akan langsung mendengar. Kalau saya yang ngajak mungkin baru tahun depan mereka sadar. Kalau saya sebut nama, misalnya Luna Maya yang mengajak, maka follower dia akan cari buku atau referensi yang baik,” kata Hasan.

Menurut Hasan, BEI sebenarnya tidak bersikap alergi terhadap influencer. BEI akan pastikan, influencer kembali ke jalur sosialisasi yang benar. Bahkan, BEI tengah menyiapkan influencer incubator, yakni sebuah lembaga resmi yang tidak bersifat ad hoc. Program ini bertujuan memberikan edukasi kepada influencer sehingga nanti influencer bisa terjun melakukan sosialisasi di pasar.

Komisaris BEI Pandu Sjahrir menambahkan, ada sekitar 20 tokoh ternama yang dipertimbangkan BEI untuk diajak berkolaborasi. Para tokoh ini punya jutaan follower di sosial media. Pihaknya sedang mencari para influencer dengan kriteria-kriteria tertentu.

“Kita ingin orang yang passionate, dan background yang positif dan membantu kita berkomunikasi. Bagaimana perkembangan influencer di Instagram, Facebook dan Tiktok itu pergerakan yang harus kita perhatikan dengan baik,” jelas dia.

Transaksi Harian

Adapun BEI mencatat pertumbuhan yang mengesankan untuk rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) dan volume perdagangan saham pada awal 2021. Selama Januari-5 Februari 2021, RNTH telah mencapai Rp 20,02 triliun dengan rata-rata volume perdagangan 22,90 miliar saham per hari.

Direktur Perdagangan dan Penilaian Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengatakan, 2020 adalah tahun kebangkitan investor ritel, dan masih berlanjut hingga 2021. Ini artinya, mayoritas pasar saham digerakkan oleh investor ritel.

“Tahun 2021 baru berjalan satu setengah bulan, namun transaksi harian sudah mencapai mencapai Rp 20 triliun, atau dua kali lebih tinggi dari RNTH selama 2020 yang sebesar Rp 9,21 triliun,” kata dia.

Sementara itu, rata-rata volume perdagangan yang mencapai 22,90 miliar saham per hari hingga 5 Februari 2021, juga tercatat lebih tinggi dua kali lipat dibanding rata-rata volume transaksi sepanjang 2020 yang sebesar 11,37 miliar per hari.

Lebih lanjut, BEI memimpin dalam hal frekuensi perdagangan di antara bursa-bursa lain di Asia Tenggara. BEI mencatat frekuensi perdagangan sebanyak 1,56 juta transaksi per hari hingga 5 Februari 2021. Sepanjang 2020, rata-rata frekuensi perdagangan BEI sebanyak 677.430 transaksi per hari.

Untuk kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG), kata Laksono, posisi Indonesia berada di tengah-tengah dalam hal kenaikan, jika dibandingkan dengan bursa-bursa global. Sejak awal tahun hingga 5 Februari, IHSG menguat 2,89%. Kenaikan IHSG ini masih bisa lebih tinggi dibanding saham-saham pada indeks LQ45 yang hanya menguat 2%.

“Kalau dilihat terdapat indeks yang berisi saham-saham teknologi atau IDXtechno mengalami penguatan hingga 108,74% per 5 Februari. Hal ini yang menjadi salah satu pendorong IHSG bisa naik lebih cepat dibanding LQ45, meskipun LQ45 berisi saham-saham emiten yang sudah established,” kata Laksono.

BEI mencatat, demografi investor usia di bawah 30 tahun mengambil porsi 55% dari total investor pada akhir 2020. Tapi kelompok ini memiliki aset investasi paling kecil yakni Rp 30 triliun. Sedangkan demografi investor yang paling sedikit adalah kelompok investor di atas usia 60 tahun yang hanya 4% dari total investor. Namun kelompok ini punya aset paling besar yakni Rp 360 triliun.


 

 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN