Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

BEI Ingin Lima BUMN IPO Tahun Depan

Farid Firdaus, Kamis, 24 Oktober 2019 | 20:51 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mendekati Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dan pencatatan perdana saham (listing) sejumlah BUMN pada 2020.

“Pendekatan dengan BUMN selalu dilakukan. Mudah-mudahan ada lima BUMN yang bisa go public tahun depan,” kata Direktur Utama BEI Inarno Djajadi, usai RUPSLB BEI di Jakarta, Kamis (24/10).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, selama ini BUMN yang tercatat di bursa memiliki kinerja baik, akuntabel, serta terjaganya profesionalitas. Pihaknya menekankan, inti dari menjadi perusahaan terbuka adalah transparansi.

“Kami sudah sampaikan hal tersebut kepada Kementerian BUMN. Yang lebih penting, kami juga bisa mengusulkan mana saja dari BUMN atau anak-anak BUMN yang siap IPO,” jelas dia.

Sepanjang tahun berjalan ini, tidak ada satupun BUMN atau anak-anak BUMN yang go public. Sementara, dalam daftar 35 calon emiten di pipeline BEI juga terpantau tak ada dari kelompok BUMN.

Adapun tahun depan, BEI menargetkan sebanyak 76 aksi pencatatan efek baru yang terdiri atas saham, obligasi korporasi, Efek Beragun Aset (EBA), Exchange Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE), dan Dana Investasi Infrastruktur (Dinfra).

Target anyar ini masuk dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) BEI 2020 yang disetujui pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Tercatat, RUPSLB dihadiri oleh 105 pemegang saham dari 105 anggota bursa aktif atau 100% dari jumlah pemegang saham yang memiliki hak suara.

Selain target pencatatan efek baru, BEI juga mengasumsikan rata-rata nilai transaksi harian saham pada RKAT 2020 sebesar Rp 9,5 triliun, atau naik tipis dibanding RKAT 2019-Revisi yang sebesar Rp 9,25 triliun.

Menurut Inarno Djajadi, target-target konservatif yang ditetapkan dalam RKAT 2020 telah mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang diprediksi mengalami gejolak pada tahun depan. “BEI melihatnya tetap optimistis, mudah-mudahan bisa tercapai. Ada kemungkinan gejolak di tahun depan yang mesti kita antisipasi,” jelas dia.

Inarno mengatakan, untuk mengejar target pencatatan perdana dari penawaran umum (initial public offering/IPO) saham, pihaknya terus melakukan sosialisasi, workshop, dan juga pendekatan dengan lembaga swasta dan pemerintah.

Investasi BEI

Dalam RKAT 2020, anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) BEI mengalami kenaikan signifikan menjadi Rp 211 miliar, dari capex tahun ini Rp 138 miliar.

Menurut Inarno, capex akan digunakan untuk kebutuhan sistem perdagangan dan pengewasan, perkantoran, serta keperluan bisnis secara umum. Investasi ini sejalan dengan fokus BEI pada 2020 dalam pengembangan pasar dan produk alternatif. Semisal, BEI berencana membangun electronic trading platform perdagangan pasar surat utang yang investasinya mencapai Rp 40 miliar.

Selain itu, capex sebanyak Rp 26 miliar akan dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas perdagangan dan pengawasan salah satunya reflikasi Jakarta Automatic Trading Sistem (JATS).

Implementasi reflikasi sistem JATS akan membuat uji coba perdagangan nantinya tidak lagi dilakukan di hari libur bursa, tapi bisa pada hari perdagangan karena tidak menggunakan main sistem perdagangan. Dengan tidak menggunakan main sistem maka risiko pada main produksi tidak lagi ada,” kata Inarno.

Memperhatikan seluruh target dan rencana kegiatan BEI di tahun 2020, BEI memproyeksikan total pendapatan tahun depan ditargetkan Rp 1,18 triliun atau meningkat 1,71% dibandingkan total pendapatan RKAT 2019-Revisi senilai Rp 1,16 triliun.

Sementara, proyeksi atas biaya usaha BEI untuk tahun 2020 adalah sebesar Rp 1,02 triliun sehingga laba sebelum pajak menjadi Rp 160,54 miliar. Setelah dikurangi estimasi beban pajak sebesar Rp 59,19 miliar maka perkiraan perolehan laba bersih BEI di tahun 2020 adalah sebesar Rp 101,36 miliar.

Adapun total aset BEI pada 2020 ditargetkan sebesar Rp 3 triliun atau naik 17,3% dari RKAT 2019-Revisi yang berjumlah Rp 2,56 triliun. Tahun depan, posisi saldo akhir kas dan setara kas, termasuk investasi jangka pendek BEI diproyeksikan mencapai Rp 1,34 triliun. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA