Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

BEI Revisi Target IPO Jadi 54 Perusahaan

Kamis, 8 April 2021 | 06:02 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) merevisi target penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tahun ini menjadi 54 perusahaan dari semula 30 perusahaan. Revisi target tersebut seiring optimisme membaiknya pasar modal.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan, target yang ditetapkan sebelumnya cukup moderat apabila melihat perkembangan sejauh ini. Adapun hingga saat ini, terdapat 12 perusahaan yang melakukan IPO dan 20 perusahaan yang berada dalam pipeline BEI.

"Dampak pandemi Covid-19 yang sebelumnya diasumsikan bisa mengurangi minat IPO saham, namun setelah melihat realisasi satu kuartal ini, kami menjadi lebih optimistis," kata dia dalam acara Edukasi Wartawan Satu Dekade Kebangkitan Pasar Modal Syariah yang berlangsung secara virtual, Rabu (7/4).

Hasan menegaskan, revisi target itu sejalan dengan komunikasi yang dilakukan dengan berbagai pihak, seperti anggota bursa yang menjadi calon underwriter dari perusahaan yang akan melakukan IPO. Dari diskusi dan masukan yang disampaikan, manajemen berkeyakinan kuat untuk merevisi target IPO tahun ini.

"Kondisi kondusif yang terjadi pada kuartal I-2021 kami harapkan juga tetap berlangsung dan minat IPO akan terus tinggi sampai akhir tahun ini," jelas dia.

Sementara itu, salah satu anggota bursa, yakni PT Mandiri Sekuritas sebelumnya juga optimistis bisa menangani lebih banyak IPO saham tahun ini. Pada 2020, Mandiri Sekuritas hanya menangani IPO satu perusahaan.

Plt Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silva Halim menjelaskan, dalam dua tahun terakhir, Mandiri Sekuritas memang sedikit sekali menangani IPO perusahaan. Mandiri Sekuritas sangat memilih emiten yang akan dibawa melantai ke bursa. Hal ini dilakukan demi kepentingan investor.

Namun, tahun ini, Silva melihat kondisi ekonomi dan pasar modal mulai membaik. Pelaku pasar juga sudah mulai beradaptasi dengan keadaan new normal, yakni dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dalam menjalankan bisnis. "Sehingga kami yakin akan lebih banyak dari 2020 yang hanya satu, dengan nilai transaksi yang lebih besar," jelas dia.

Kendati demikian, Silva belum bisa menyebutkan mandat IPO yang saat ini digenggam Mandiri Sekuritas. Sebab, korporasi yang akan IPO sedang dalam tahap persiapan untuk melakukan IPO atau tidak. "Apakah ada BUMN yang akan IPO? ini juga masih dalam persiapan untuk memutuskan akan IPO atau tidak," terang dia.

Sebelumnya, sebanyak dua perusahaan menggalang dana melalui IPO saham. Total dana yang bisa diraih dari IPO tersebut adalah Rp 94,8 miliar. Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan pada Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), perusahaan pertama adalah PT Nusa Palapa Gemilang Tbk. Perusahaan pupuk ini menawarkan 648,02 juta saham baru kepada publik dengan harga penawaran Rp 100 per saham, sehingga dana yang diraih adalah Rp 64,8 miliar.

Masa penawaran umum berlangsung pada 31 Maret hingga 7 April 2021. Distribusi secara elektronik pada 13 April 2021 dan pencatatan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 14 April 2021. PT UOB Kay Hian Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Dana dari hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja. Sekitar 82% atau sebesar Rp 50,04 miliar akan dipakai untuk akuisisi lahan di Sidoarjo yang nantinya akan digunakan untuk pembangunan pabrik. Lalu, sekitar 17% atau sebesar Rp 10,15 miliar akan digunakan untuk belanja modal untuk pelunasan pembelian mesin produksi. Sisanya akan digunakan untuk membeli bahan baku produksi.

Kemudian, perusahaan kedua adalah PT Imago Mulia Persada Tbk (LFLO). Adapun jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO adalah 300 juta unit dengan harga penawaran Rp 100 per saham, sehingga dana yang diperoleh mencapai Rp 30 miliar. Bersamaan dengan penerbitan saham baru, perseroan juga menawarkan waran seri I sebanyak 350 juta waran.

PT Danatama Makmur Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek. PT Henan Putihrai Sekuritas dan PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk bertindak sebagai penjamin emisi efek.

Dengan kehadiran dua perusahaan tersebut tentunya akan menambah jumlah perusahaan yang tercatat di bursa. Hingga 30 Maret 2021, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, terdapat 11 perusahaan yang tercatat di bursa. Selain itu, di pipeline BEI, masih ada 22 perusahaan yang mengantre untuk IPO.

Rinciannya, dua perusahaan dari sektor energi, tiga perusahaan dari sektor basic materials, dua perusahaan dari sektor industrials, dua perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals, enam perusahaan dari sektor consumer cyclicals, tiga perusahaan dari sektor properties dan real estate, tiga perusahaan dari sektor teknologi, dan satu perusahaan dari sektor infrastruktur.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN