Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu fasilitas PT Gunung Raja Paksi. Foto: Perseroan.

Salah satu fasilitas PT Gunung Raja Paksi. Foto: Perseroan.

Bidik Dana Rp 1 Triliun, Gunung Raja Paksi Segera IPO

Gita Rossiana, Minggu, 25 Agustus 2019 | 16:10 WIB

JAKARTA, investor.id – Produsen lembaran baja, PT Gunung Raja Paksi akan melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada September 2019. Perseroan menargetkan perolehan dana sebesar Rp 1 triliun dari IPO tersebut.

Direktur Utama PT Kresna Sekuritas Octavianus Budiyanto mengatakan, pihaknya telah ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek (underwriter) dalam rencana IPO Gunung Raja Paksi. “Gunung Raja Paksi akan melepas 10% saham dengan menggunakan laporan keuangan per April 2019, sehingga IPO diharapkan bisa terlaksana pada pertengahan September 2019," kata dia di Jakarta, baru-baru ini.

Gunung Raja Paksi yang merupakan bagian dari Gunung Steel Group tersebut berdiri sejak 2001. Tahun lalu, total produksi perseroan mencapai 1,2 juta ton. Penjualan produk perseroan masih mengandalkan pasar domestik. Sedangkan ekspor mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Pada 2018, Gunung Raja Paksi berhasil meningkatkan ekspor produknya ke Malaysia, Selandia Baru, Srilanka, Australia, dan Vietnam sebanyak 42 ribu ton. Segmen ekspor menyumbang sekitar US$ 31 juta pada tahun 2018 atau tumbuh sekitar 129% secara year on year (yoy).

Adapun pendapatan bersih Gunung Raja Paksi mencapai kisaran US$ 1 miliar. Dengan pertumbuhan industri baja yang rata-rata setiap tahunnya sebesar 8-9%, tahun ini perseroan diproyeksikan tumbuh pada kisaran tersebut.

Selain Gunung Raja Paksi, Kresna Sekuritas juga akan menangani IPO PT Digital Mediatama Maxima (DMM) dengan target dana Rp 500-600 miliar. Perusahaan menggunakan laporan keuangan per Maret 2019 dan IPO diharapkan terlaksana pada akhir 2019.

Managing Director PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN) Suryandy Jahja sebelumnya mengatakan, Digital Mediatama merupakan anak usaha PT NFC Indonesia Tbk (NFCX), yang merupakan bagian dari grup perseroan. Selain Kresna Sekuritas, pihaknya akan menggandeng satu sekuritas asing dan satu sekuritas lokal untuk menjadi underwriter IPO saham Digital Mediatama.

Menurut Suryandy, bisnis digital yang dilakukan oleh Digital Mediatama termasuk yang menjanjikan pada masa mendatang. Salah satu produk besutan Digital Media adalah iklan digital pada layar kaca di gerai-gerai minimarket seperti Indomaret dan Alfamart.

Direktur Utama Digital Mediatama Maxima Budiasto mengatakan, hingga saat ini, terdapat 110 ribu warung binaan SRC yang tersebar di 34 provinsi. Tahap awal, sudah ada sekitar 40 ribu outlet yang menggunakan platform Digimax.

Selain akan menangani IPO DMM dan Gunung Raja Paksi, Kresna Sekuritas juga sedang menangani IPO PT Telefast Indonesia. Telefast Indonesia akan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 September 2019. Dari IPO tersebut, perseroan berharap bisa meraup dana sebesar Rp 70-82 miliar.

Menurut rencana, perseroan akan menawarkan sebanyak 414,66 juta saham atau setara dengan 25% dari modal disetor dengan harga berkisar Rp 170-210 per saham.

Direktur Utama PT Telefast Indonesia Jody Hedrian mengatakan, dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja sebesar 70%, belanja modal sebesar 25%, dan sisanya sebesar 5% yang akan diarahkan untuk investasi sumber daya manusia (SDM). 

Sementara itu, pada semester II-2019, BEI mencatat sebanyak 16 perusahaan yang akan melaksanakan IPO. Mayoritas calon penghuni baru bursa ini menggunakan dasar valuasi laporan keuangan Maret-April 2019.

Namun, masih ada dua calon emiten yang tetap terdaftar atau belum menyatakan mundur dengan menggunakan laporan keuangan Desember 2018. Dua perusahaan tersebut adalah PT Dana Brata Luhur yang bergerak di sektor pertambangan dan PT Itama Ranoraya yang berkecimpung di sektor perdagangan dan jasa.

Data BEI teranyar juga menunjukkan empat perusahaan di sektor properti dan real estat berminat menjadi emiten baru tahun ini. Perusahaan itu adalah PT Bhakti Agung Propertindo, PT Dynatal Tatapersada Sampurna, PT Nusantara Almazia, dan PT Alamanda Investama.

Sedangkan di sektor industri dasar, muncul nama PT Optima Prima Metal Sinergi yang tercatat sebagai salah satu perusahaan besi scrap terbesar di Indonesia, serta PT Saraswanti Anugerah Makmur. Selanjutnya, ada PT Trinitan Metals and Minerals yang bergerak di bisnis pengelolaan logam dan mineral di Bogor, Jawa Barat.

Di sektor aneka industri, BEI mencatat PT Gaya Abadi Sempurna, PT Ifishdeco di sektor tambang, dan PT Meka Adipratama di sektor jasa yang juga berniat melantai di BEI.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA