Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan transaksi perbankan di kantor cabang BNI Syariah, kawasan Bendungan Hilir, Jakarta.  Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Nasabah melakukan transaksi perbankan di kantor cabang BNI Syariah, kawasan Bendungan Hilir, Jakarta. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

BNI Syariah Ditargetkan IPO Akhir 2019

Gita Rossiana, Minggu, 14 Juli 2019 | 20:23 WIB

JAKARTA, investor.id – PT BNI Syariah ditargetkan menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada akhir 2019. Saat ini, perseroan sedang berusaha untuk meningkatkan kelas ke BUKU III atau bank dengan modal inti di atas Rp 5 triliun.

Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Anggoro Eko Cahyo menjelaskan, BNI sebagai pemegang saham menginginkan BNI Syariah untuk menjadi BUKU III terlebih dahulu sebelum menjadi perusahaan terbuka. "Untuk IPO masih dalam rencana, tapi kami maunya mereka mengejar BUKU III dahulu," kata dia di Jakarta, akhir pekan ini.

Anggoro mengungkapkan, apabila menjadi BUKU III bisa direalisasikan tahun ini, maka rencana IPO bisa dilakukan pada akhir 2019.

Lebih lanjut, Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengungkapkan, pihaknya memang berencana untuk menjadi BUKU III sebelum melakukan IPO. Saat ini, modal inti perseroan sudah mencapai Rp 4,2 triliun, sehingga perseroan membutuhkan sekitar Rp 800 miliar untuk bisa BUKU III. "Dana Rp 800 miliar untuk menjadi BUKU III bisa diperoleh dari laba ditahan, inbreng, atau dana dari pemegang saham," kata dia.

Dengan menjadi BUKU III sebelum melakukan IPO, menurut Firman juga bisa meningkatkan nilai perseroan di mata investor. "Kalau menjadi BUKU III, harapan kami price to book value (PBV) bisa naik," ujar dia.

Direktur Bisnis SME dan Komersial BNI Syariah Dhias Widhyati menambahkan, tahun ini, perseroan menargetkan perolehan laba bersih bisa berada di angka Rp 550 miliar. Dana ini diharapkan bisa digunakan untuk menambah modal inti perseroan.

Sementara itu, sampai kuartal I-2019, perseroan membukukan laba bersih Rp 135 miliar atau naik 43,26% dari periode sama 2018 Rp 94,4 miliar. Kenaikan laba bersih ini didorong oleh kenaikan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang naik 18,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp 743 miliar dari periode sama 2018 Rp 626 miliar. Laba bersih sampai kuartal I-2019 juga disumbang oleh pendapatan fee based Rp 43 miliar.

Sampai kuartal I-2019, BNI Syariah juga mencatat realisasi penyaluran pembiayaan Rp 29,4 triliun atau mengalami kenaikan 23,9% yoy dari periode sama 2018 Rp 23,7 triliun.

Dari lima sektor pembiayaan yaitu komersial, SME, konsumer, mikro, dan hasanah card sampai Maret 2019, hampir seluruhnya mencatat pertumbuhan dua digit. Pertumbuhan pembiayaan tertinggi dicatat oleh pembiayaan komersial 73,7% yoy menjadi Rp 7,79 triliun dari periode sama 2018 sebesar Rp 4,5 triliun.

Sedangkan pertumbuhan pembiayaan tertinggi kedua adalah pembiayaan mikro dengan pertumbuhan 17,32% secara yoy menjadi Rp 1,5 triliun dari periode sama 2018 Rp 1,29 triliun. Sedangkan pertumbuhan pembiayaan tertinggi ketiga adalah pembiayaan SME dengan realisasi Rp 5,5 triliun naik 13,04% yoy dibanding periode sama 2018 Rp 4,9 triliun.

Pembiayaan yang naik dua digit, ini dicapai dengan realisasi rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross yang terjaga di angka 2,9% atau turun dari periode sama 2018 3,18%.

Dana pihak ketiga (DPK) BNI Syariah sampai kuartal I-2019 tercatat Rp 38,4 triliun atau naik 16,7% yoy dari periode sama 2018 Rp 32,9 triliun. DPK ini sebesar 60% disumbang dari dana murah yang berasal dari tabungan dan giro.

Dengan realisasi kinerja ini, total aset BNI Syariah sampai kuartal I-2019 Rp 44 triliun atau naik 14,16% secara yoy dibandingkan periode sama 2018 sebesar Rp 38,5 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN