Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Papan elektronik yang menampilkan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Butuh Dana Ekspansi, 18 Perusahaan akan IPO

Selasa, 21 Juli 2020 | 09:52 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 18 perusahaan bersiap melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Kebutuhan pendanaan untuk ekspansi dan operasional perusahaan menjadi alasan utama aksi korporasi tersebut.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan, hingga 17 Juli 2020, terdapat 18 perusahaan yang telah menyampaikan rencana IPO dan pencatatan saham (listing) kepada BEI. Namun, dia belum bersedia merinci nama-nama calon emiten baru tersebut.

Nyoman hanya menyebutkan bahwa terdapat delapan perusahaan dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi yang akan IPO. Kemudian di sektor properti, real estat, dan konstruksi gedung terdapat tiga perusahaan. Di sektor industri barang konsumsi, ada dua perusahaan. Di sektor agrikultur juga dua perusahaan. Sisanya tiga perusahaan berasal dari sektor industri dasar dan kimia, utilitas infrastruktur dan transportasi, serta keuangan.

“Selain itu, dalam pipeline kami, terdapat 29 penerbit yang akan emisi 34 obligasi dan sukuk. Dengan catatan, satu perusahaan dapat menerbitkan lebih dari satu emisi obligasi,” kata Nyoman kepada Investor Daily, Senin (20/7).

Dia menambahkan, kebutuhan pendanaan perusahaan mendasari calon emiten baru untuk melaksanakan IPO di tengah pandemi Covid-19. Sebab, pendanaan merupakan salah satu komponen penting untuk keberlangsungan ekspansi bisnis dan operasional perusahaan. Terlebih, saat kondisi yang menantang seperti saat ini.

Lebih lanjut Nyoman mengatakan, masih tingginya minat perusahaan mencari sumber pendanaan melalui IPO merupakan bentuk kepercayaan dan optimisme para pengusaha di dalam negeri terhadap kondisi ekonomi Indonesia, khususnya terhadap pasar modal ke depan.

Beberapa kebijakan relaksasi yang telah dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) diharapkan dapat mendorong perusahaan untuk tetap IPO di tengah pandemi. Adapun beberapa kebijakan relaksasi yang telah diterbitkan, seperti relaksasi penyampaian laporan keuangan dan laporan penilai dalam rangka penawaran umum. Kemudian, potongan 50% untuk initial listing fee (ILF) saham di BEI.

Sementara itu, Direktur CSA Institute Aria Santoso mengatakan, volatilitas yang terjadi di pasar saham Indonesia tidak terlalu berpengaruh terhadap minat perusahaan untuk melangsungkan IPO saham. Sebab, tujuan dari perusahaan untuk melakukan IPO agar mendapatkan dana segar dari masyarakat yang dapat digunakan untuk tambahan likuiditas dana untuk ekspansi ataupun memperbaiki rasio utang. “Selain itu, dana yang didapatkan juga bisa dipakai untuk pengembangan usaha. Jadi, tidak terlalu dipengaruhi oleh volatilitas harga di bursa,” jelas Aria.

Dia menegaskan, apabila investor ingin membeli saham IPO, sebaiknya investor memperhatikan kondisi perusahaan, baik dari laporan keuangan maupun strategi manajemen dalam mengelola perusahaan. Prospek perusahaan di sektor bisnisnya pada masa mendatang juga menjadi hal yang penting untuk dicermati investor sebelum membeli saham IPO.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN