Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung berada di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Calon Emiten Baru Terus Bertambah

Thereis Love Kalla, Senin, 7 Oktober 2019 | 21:37 WIB

JAKARTA, investor.id – Minat perusahaan untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dan pencatatan perdana saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga akhir tahun ini terus bertambah. Jumlah calon emiten baru yang masuk pipeline kini mencapai 31 perusahaan. Sebelumnya ada 23 perusahaan.

Dengan jumlah tersebut, BEI optimistis jumlah emiten baru sepanjang tahun ini mencapai 70 perusahaan. “Ada 31 perusahaan yang sedang dalam proses pendaftaran untuk melakukan IPO. Mereka sudah submit dokumen lengkap,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna di Jakarta, Senin (7/10).

Adapun nama-nama calon emiten tersebut, antara lain PT Ifishdeco Tbk, PT Dana Brata Luhur Tbk, PT Alamanda Investama Tbk, PT Asia Sejahtera Mina Tbk, PT Singaraja Putra Tbk, dan PT Sinergi Inti Plastindo Tbk.

Selanjutnya, PT Aneka Minera Indonesia Tbk, PT Palma Serasih Tbk, PT Mulia Boga Raya Tbk, PT Prima Globalindo Logistik Tbk, PT Cisadane Sawit Raya Tbk, serta PT Indo Bintang Mandiri Tbk.

Selain itu, PT Repower Asia Indonesia Tbk, PT SAM Indonesia Tbk, PT Bank Amar Indonesia Tbk, PT Graha Belitung Utama Tbk, PT Harvest Time Tbk, dan PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk.

Sementara itu, kemarin, PT Gaya Abadi Sempurna Tbk (SLIS) resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Produsen kendaraan listrik itu menjadi emiten baru ke-39 tahun ini.

Gaya Abadi Sempurna memperoleh dana sebesar Rp 57,5 miliar dari IPO. Perseroan melepas 500 juta saham dengan harga penawaran Rp 115 per saham. PT Investindo Nusantara Sekuritas menjadi penjamin pelaksana emisi efek, bersama PT Panca Global Sekuritas, PT Binaartha Sekuritas, dan PT Corpus Sekuritas Indonesia.

Menurut Direktur Investment Banking Investindo Nusantara Sekuritas Anshy M Sutisna, selama penawaran umum, tercatat sebanyak 1.619 pemodal melakukan pemesanan saham SLIS. "Dari total pemesanan saham yang masuk, lebih dari 1 miliar saham merupakan permintaan dari pooling allotment, sehingga oversubscribed sebanyak 108,52 kali. Kalau dari total saham yang ditawarkan dalam IPO, kelebihan permintaannya sebanyak 2 kali," ujar Anshy.

Pada perdagangan kemarin, harga saham Gaya Abadi Sempurna berkode SLIS ditutup melonjak Rp 80 (69,5%) ke posisi Rp 195. SLIS terkena penolakan otomatis (auto rejection) batas atas.

Peringkat 7

BEI berada pada peringkat ke-7 di antara bursa-bursa efek global dalam daftar jumlah IPO saham selama periode Januari-September 2019. Posisi BEI berada di atas Bursa Efek Korea Selatan, New York, Australia, dan Italia.

Data terbaru lembaga riset global EY mengungkapkan, total aksi IPO secara global selama Januari-September 2019 mencapai 768 emiten. Dari jumlah tersebut, BEI berhasil menjaring 38 emiten baru. Sebagai pembanding, selama 2018, BEI berada di posisi 10 dengan total 57 emiten baru.

Bursa Efek Hong Kong masih mempertahankan posisinya sebagai jawara bursa dengan aksi IPO terbanyak, yakni 97 emiten atau setara 12,6% dari total IPO global secara year to date (Ytd). Tahun lalu, negara yang kini terkenal dengan umbrella movement tersebut berhasil mencatatkan 205 emiten baru.

Dari sisi perolehan dana IPO, NASDAQ dan NYSE berada di posisi puncak. NASDAQ mencatatakan total raihan dana IPO sebesar US$ 22,3 miliar dari 95 perusahaan, sementara NYSE menyusul dengan nilai emisi US$ 22,2 miliar dari 32 perusahaan. Riset EY mencatat, total nilai IPO global selama Januari-September 2019 menembus US$ 114,1 miliar.

Sebagai pembanding, tahun lalu total emisi IPO global menyentuh US$ 205,6 miliar dari 1.384 emiten. Dari nilai itu, Bursa Efek Hong Kong berhasil merajai IPO dengan nilai emisi US$ 36,5 miliar, atau 17,7% dari total emisi global.

BEI memang tidak masuk dalam daftar 12 bursa efek global jika dilihat dari perolehan nilai IPO. Namun, di Asia Tenggara, posisi BEI mampu mengungguli bursa efek Thailand dan Malaysia. Masing-masing bursa membukukan nilai emisi IPO US$ 0,8 miliar (38 emiten), US$ 0,6 miliar (15 emiten), dan US$ 0,4 miliar (22 emiten).

Sementara, Bursa Efek Singapura tetap menjadi pengumpul emisi IPO terbanyak yakni senilai US$ 2,6 miliar, meskipun hanya dari 11 emiten baru. Sedangkan, total aksi IPO di Asia Tenggara menembus 89 emiten dengan nilai US$ 4,9 miliar selama Januari-September 2019. Pencapaian tersebut naik 13% dibanding periode sama tahun lalu.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA