Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Foto: Perseroan.

Salah satu proyek PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Foto: Perseroan.

Catat, Empat Anak Usaha Wika yang Mau IPO

Kamis, 15 April 2021 | 06:01 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menyiapkan rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham empat anak usahanya selama periode 2022-2024. Empat anak usaha tersebut adalah PT Wijaya Karya Industri & Konstruksi (Wikon), PT Wijaya Karya Realty, PT Wijaya Karya Rekayasa Konstruksi (WRK), dan PT Wijaya Karya Bitumen.

Direktur Utama Wijaya Karya atau Wika Agung Budi Waskito menjelaskan, anak usaha seperti Wika Realty saat ini dalam proses menjadi induk holding hotel BUMN. Pihaknya optimistis holding tersebut bisa launching pada Mei tahun ini. Selanjutnya, sambil menunggu sektor pariwisata pulih, Wika Realty akan melakukan peningkatan fasilitas dan renovasi hotel-hotel di dalam holding.

“Pada 2021, pariwisata kemungkinan masih kurang baik, sehingga selama 2021-2022, kami lakukan renovasi hotel dan kami upgrade yang awalnya bintang 3 menjadi 4 dan yang bintang 4 menjadi 5,” kata dia dalam webinar, Rabu (14/4).

Menurut Agung, dengan peningkatan fasilitas tersebut, hotel-hotel di dalam holding akan memberikan kontribusi pendapatan yang baik bagi Wika Realty. Pihaknya memperkirakan 22 hotel dalam holding akan memberikan tambahan nilai aset Wika Realty sekitar Rp 4,7 triliun. Alhasil, Wika Realty bisa siap menggelar IPO pada awal 2023.

Seperti diketahui, Wika Realty resmi ditunjuk oleh Kementerian BUMN pada akhir tahun lalu untuk menjadi induk holding hotel. Hal tersebut ditandai dengan kesepakatan perjanjian komitmen jual beli saham antara Wika Realty dengan PT Aero Wisata, PT Hotel Indonesia Natour (Persero), dan PT Patra Jasa, serta perjanjian komitmen jual beli aset dengan PT Pegadaian.

Pada tahap pertama, terdapat 22 hotel yang akan terkonsolidasi dalam pembentukan holding hotel BUMN, yaitu 11 hotel milik Hotel Indonesia Natour, 1 hotel milik Aero Wisata, 1 hotel milik Patra Jasa, dan 9 hotel milik Pegadaian.

Sementara itu, anak usaha seperti Wikon terlebih dahulu meningkatkan kapasitas produksi sekitar 100 ribu ton per tahun pada 2021, sebelum menggelar IPO pada 2022. Secara umum, bisnis Wikon mencakup fabrikasi baja, pabrik plastik, pressing, dan casting baja.

Tak ketinggalan, Wika menargetkan IPO WRK dan Wika Bitumen masing-masing pada 2023 dan 2024. Perseroan juga berharap Wika Bitumen bisa terlebih dahulu meningkatkan kapasitas produksi sebanyak 700 ribu ton per tahun pada 2023. Wika Bitumen merupakan bisnis pelengkap jasa Wika yang memiliki pabrik aspal.

Kereta Cepat

Biaya pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang membengkak dari anggaran awal membuat Wika menempuh negosiasi dengan pihak Tiongkok untuk mengurangi kepemilikan saham dalam megaproyek tersebut.

Konsorsium BUMN Indonesia di bawah PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memiliki 60% saham proyek Kereta Cepat, sedangkan konsorsium Tiongkok di bawah Beijing Yawan HSR Co Ltd sebesar 40%.

Dalam konsorsium BUMN, kepemilikan PT Wijaya Karya mencapai 38% atau kepemilikan terbesar di PT PSBI. Sisanya dimiliki oleh PT Kereta Api (Persero) sebesar 25%, PT Perkebunan Nusantara VII sebesar 25%, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebesar 12%.

“Memang kereta cepat akan terjadi over run cost, saat ini masih dihitung oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) besarnya pastinya. Tapi kurang lebih 20%,” kata Agung.

Menghadapi situasi ini, lanjut Agung, Wika berupaya melakukan negosiasi dengan pihak Tiongkok agar porsi Indonesia di proyek kereta cepat  bisa dipangkas lebih kecil dari 60%.

Sementara itu, Wika menargetkan nilai kontrak baru tahun ini mencapai Rp 40,12 triliun atau melonjak 71,7% dari tahun lalu yang sebanyak Rp 23,37 triliun. Dengan demikian, kontrak yang dihadapi akan menjadi Rp 115,02 triliun dari sebelumnya Rp 98,08 triliun.

Pendapatan perseroan juga diharapkan naik 58,7% menjadi Rp 26,24 triliun pada 2021 dibanding pendapatan 2020 sebesar Rp 16,53 triliun. Laba bersih ditargetkan melonjak 227,3% menjadi Rp 1,05 triliun dari sebelumnya Rp 322 miliar.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN