Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Suasana Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Dongkrak Perusahaan "Go Public", Ekonomi Nasional Bisa Cepat Pulih

Minggu, 30 Agustus 2020 | 13:06 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – Grant Thornton Indonesia menyebutkan langkah perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka (go-public) melalui penawaran umum perdana (intial public offering/IPO) saham atau obligasi di bursa efek menjadi satu dari beberapa cara untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Advisory Director Grant Thornton Indonesia Marvin E Camangeg mengatakan, perekonomian dunia masih dalam pelemahan didasarkan data Grant Thornton yang menyebutkan bahwa optimisme ekonomi global turun 16 poin pada semester I-2020. Sedangkan optimisme ekonomi Indonesia turun hingga 22 poin.

Meskipun terjadi penurunan optimisme ekonomi Indonesia, dia menyebutkan, secara total optimisme ekonomi Indonesia masih tinggi dan menduduki peringkat keenam secara global. Walaupun hanya 50% dari pasar bisnis menengah di Indonesia yang berekspektasi mengalami peningkatan pendapatan dan profitabilitas dalam setahun ke depan.

“Saat ini, memang tingkat optimisme ekonomi Indonesia lebih tinggi, dibandingkan angka global dan Asia Pasifik dengan rata-rata sebesar 32-34%. Namun diharapkan dengan lebih banyak perusahaan membangun kapabilitasnya dan tergerak untuk go public, pemulihan ekonomi di Indonesia diharapkan lebih cepat,” kata Marvin dalam keterangan resmi perseroan, seperti dikutip Investor Daily, Minggu (30/8).

Selain itu, Marvin menyatakan, perusahaan diharapkan untuk menerapkan manajemen keuangan atau arus kas untuk menjaga likuiditas perusahaan tetap terjaga selama masa pandemi Covid-19 ini. Sebab, dengan likuiditas yang bagus, perusahaan akan diuntungkan dalam memilih model pendanaan guna ekspansi di kemudian hari, seperti emisi obligasi atau go public di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Partner & Head of Assurance Grant Thornton Indonesia Hanny Prasetyo mengungkapkan, ada lima hal yang perlu dipersiapkan perusahaan sebelum menerbitkan obligasi maupun go public, yaitu laporan keuangan, transaksi yang kompleks, ketepatan waktu, strategi dan rencana bisnis dan proyeksi, dan yang terakhir uji tuntas dan valuasi.

“Disinilah peran BEI sebagai sarana untuk mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang membutuhkan sarana investasi pada saham, obligasi, DIRE, dan lain-lain. Satu dari beberapa opsi pendanaan dapat dilakukan melalui pasar modal dengan melibatkan investor publik atau go public,” ujarnya.

Menurut Hanny, saham dan obligasi masih menjadi bentuk investasi favorit yang dilirik investor. Sebab, obligasi memiliki tiga keuntungan dari sisi investor, yaitu mendapatkan pendapatan bunga secara rutin, mendapat keuntungan atas penjualan obligasi (capital gain), dan juga memiliki risiko yang lebih rendah, dibandingkan dengan saham.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, minat perusahaan dan institusi di Indonesia untuk go-public pada semester II-2020 masih tinggi. Minat yang tinggi tersebut menggambarkan kepercayaan para pemilik dan manajemen perusahaan untuk menjadikan bursa sebagai rumah pertumbuhan bagi perkembangan bisnisnya.

Go public tidak hanya menjadi sumber pendanaan yang menjanjikan untuk mengembangkan perusahaan, tapi juga mengangkat citra perusahaan menjadi lebih profesional, transparan, dan akuntabel,” ujarnya.

BEI mencatat sebanyak 36 perusahaan yang sudah menatatkan saham di BEI hingga per 27 Agustus 2020. Sedangkan dalam pipeline BEI, masih ada 11 calon perusahaan yang akan melantai di bursa.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN