Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Emiten Baru Terus Bertambah Meski Pandemi

Selasa, 8 September 2020 | 07:15 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com) ,Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Para pengamat pasar modal menilai PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu mencapai target pencatatan saham 57 emiten baru tahun ini. Pada Selasa (8/9), dua emiten baru kompak listing di bursa, yaitu PT Puri Global Sukses Tbk (PURI) dan PT Soho Global Health Tbk (SOHO). Dengan demikian, jumlah emiten baru per hari ini mencapai 42 perusahaan.

Pada Senin (7/9), sebanyak tiga emiten terlebih dahulu masuk bursa. Tiga perusahaan yang serentak listing di BEI tersebut adalah PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI), PT Kurnia Mitra Duta Sentosa Tbk (KMDS), dan PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP). Bank Bisnis menjadi emiten baru ke-38, Kurnia Mitra ke-39, dan Selaras Citra Nusantara ke-40.

Saham tiga pendatang baru itu pun kompak terkena penolakan otomatis (auto rejection) batas atas pada perdagangan perdana, kemarin. BBSI ditutup melonjak Rp 120 (25%) ke posisi Rp 600, KMDS melejit Rp 74 (24,67%) ke level Rp 374, dan SCNP melesat Rp 38 (34,55%) ke posisi Rp 148.

Pengamat pasar modal yang juga Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan, dengan melihat realisasi emiten baru yang bakal mencapai 42 perusahaan pada hari ini, kemudian menyusul empat perusahaan lagi yang akan listing pada September, maka target 57 emiten baru sepanjang 2020 bisa tercapai. Sebab, pada September ini, jumlah emiten baru bisa mencapai 46 perusahaan. BEI masih punya waktu selama tiga bulan, yaitu Oktober-Desember, untuk menerima kedatangan 11 emiten baru guna mencapai target.

Meski demikian, pelaku pasar tetap berharap ada penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dan pencatatan saham bernilai jumbo dari perusahaan beken. “Tahun lalu ada Unicharm yang IPO Rp 1,2 triliun. Sementara tahun ini hingga September, belum ada IPO yang sebesar itu, meski bisa dipahami karena terjadi pandemi Covid-19,” kata Teguh kepada Investor Daily, Senin (7/9).

Dia menegaskan, IPO bernilai besar memang membutuhkan strategi yang berbeda dalam menjaring investor. Hal ini menyangkut kemampuan penjamin pelaksana emisi efek untuk menyerap saham baru, jika ada potensi saham IPO tidak terserap maksimal oleh pasar. Saat ini, tak bisa dipungkiri, investor ritel tetap melihat seberapa populer nama dan latar belakang perusahaan yang akan IPO.

Namun, bukan berarti tidak ada harapan bagi emiten kecil dan menengah untuk dilirik oleh investor. Menurut Teguh, ada beberapa contoh perusahaan yang semula dikategorikan kurang terkenal, lalu menjadi potensial dan sahamnya menjadi likuid di pasar.

“Ketika Metrodata Electronics listing pada 1990 belum banyak yang mengenal perusahaan itu, tapi kemudian mereka menjadi besar. Ada istilah growth investing, di mana investor membeli saham sebuah perusahaan kecil dengan harapan perusahaan ini terus bertumbuh. Tapi perusahaannya memang harus meyakinkan,” jelas dia.

Hingga akhir tahun ini, Teguh menyarankan kepada investor untuk mempertimbangkan saham-saham IPO dari perusahaan di sektor kesehatan, teknologi, dan keuangan. Apabila BEI dapat meyakinkan perusahaan rintisan (start-up) kelas unicorn untuk melantai di bursa, hal itu akan menjadi kabar sangat baik bagi pelaku pasar modal.

Secara terpisah, analis BCA Sekuritas Achmad Yaki mengemukakan, saat ini saham-saham IPO sebaiknya digunakan untuk transaksi jangka pendek. Sebab, dari sisi fundamental, belum terlihat dampak kinerja emiten baru setelah IPO. Namun, pemodal dapat mencermati saham-saham di sektor kesehatan dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Sektor kesehatan memang diminati lantaran faktor pandemi Covid-19, sedangkan saham-saham emiten CPO terapresiasi oleh faktor kenaikan harga CPO.

“Sektor keuangan juga bisa dipertimbangkan, tergantung modal bisnis dan kinerjanya. Ada emiten yang punya net margin cukup tebal seperti PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR),” kata dia.

Sebelumnya, saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Pasar Modal ke-43, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, pada akhir Juli 2020, jumlah emiten baru BEI sempat tertinggi di antara negara-negara Asean dalam tiga tahun terakhir. Hal ini menjadi pencapaian tersendiri bagi BEI kala pandemi.

Sedangkan Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna pernah mengatakan, BEI tetap fokus pada kualitas para emiten baru sepanjang tahun ini. Jika selama proses penilaian, calon emiten baru dinilai belum memenuhi persyaratan go public, BEI memberikan waktu untuk emiten tersebut melakukan penyempurnaan sampai dinyatakan siap.

Ekspansi

Sementara itu, tiga emiten yang baru listing, yaitu Bank Bisnis Internasional, Kurnia Mitra Duta Sentosa, dan Selaras Citra Nusantara Perkasa menyiapkan berbagai rencana untuk memacu kinerjanya.

Bank Bisnis Internasional telah mencatatkan sahamnya dengan porsi kepemilikan publik sebesar 15%. Melalui IPO, perseroan meraup dana segar sebesar Rp 189,48 miliar. Sekretaris Perusahaan Bank Bisnis Internasional Paulus Tanujaya mengatakan, dana hasil IPO akan dipakai untuk perluasan kantor cabang, mengembangkan sistem teknologi informasi, dan penyaluran kredit sebagaimana fungsi bank pada umumnya.

“Untuk pembukaan cabang baru akan direalisasikan pada kuartal III-2020 dan kuartal IV-2021. Rencananya akan berlokasi satu di Cirebon dan satu di Semarang,” kata Paulus.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Bisnis Laniwati Tjandra menyatakan, perseroan akan fokus pada nasabah segmen Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang diyakini masih akan terus tumbuh seiring dengan stimulus pemerintah terhadap UMKM dengan memberikan fasilitas subsidi kredit.

“Keyakinan tersebut mendorong langkah perseroan untuk go public sebagai salah satu strategi dalam mendapatkan sumber pendanaan untuk meningkatkan kinerja usaha serta menunjang perseroan dalam memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait Modal Inti Minimum Bank Umum,” jelasnya.

Menurut Laniwati, selama penawaran umum, saham BBSI mendapatkan minat yang besar dari para investor. Tercatat, BBSI mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 15,28 kali dari jumlah saham yang ditawarkan untuk porsi pooling, jauh melebihi ekspektasi perseroan.

Di lain pihak, Direktur Utama Kurnia Mitra Duta Sentosa Hengky Wijaya menyatakan, pihaknya telah menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perseroan, yaitu mendirikan pusat distribusi baru di kota-kota besar di Indonesia untuk menjangkau para pelanggan baru, mengembangkan sistem informasi teknologi terintegrasi antara distributor dengan sub-distributor, pengembangan terhadap varian produk, serta peningkatan kapabilitas tenaga penjual produk perseroan.

“Ke depannya, kami akan berupaya memperluas pasar dengan melakukan penambahan varian produk prinsipal maupun pelanggan kota besar di Indonesia,” tutur Hengky.

Adapun perseroan menerbitkan 160 juta saham baru atau sebanyak 20% melalui IPO, dengan harga penawaran sebesar Rp 300 per saham. Perseroan memperoleh dana sebesar Rp 48 miliar dari IPO.

Sementara itu, pada emiten lainnya, Direktur Utama Selaras Citra Nusantara Perkasa Hendrik Nursalim mengatakan, strategi diversifikasi pasar, diversifikasi produk, dan diversifikasi channel menjadi strategi perseroan untuk ke depannya. Perseroan akan masuk ke bisnis produksi alat kesehatan dengan tetap mempertahankan lini bisnis yang ada, yakni peralatan elektronik rumah tangga.

“Dua bulan yang akan datang, air purifier yang baru akan kami rilis, baik untuk pengembangan pasar lokal dan Amerika. Dengan IPO ini juga diharapkan bisa mengembangkan perusahaan menjadi global player dengan joint venture bersama Guangdong Xinbao Donlim,” ungkap Hendrik.

Selaras Citra Nusantara melepas 500 juta saham atau 20% ke publik melalui IPO. Dana hasil aksi korporasi tersebut akan digunakan untuk membiayai ekspansi binis guna meningkatkan volume produksi.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN