Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

LISTING AWAL JANUARI

FAP Agri, DCI Indonesia, dan Diagnos Laboratorium Himpun Dana Rp 1,2 T dari IPO

Minggu, 3 Januari 2021 | 22:14 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT FAP Agri Tbk, PT DCI Indonesia Tbk, dan PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk bersiap mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal Januari 2021. Tiga emiten baru ini melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dengan total target dana Rp 1,2 triliun.

FAP Agri telah menyelesaikan masa penawaran umum pada Desember lalu. Emiten di sektor bisnis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ini melepas hingga 544,41 juta saham pada harga Rp 1.840 per saham. Dengan demikian, perseroan meraih dana IPO sekitar Rp 1 triliun.

Sesuai rencana, FAP Agri akan tercatat dengan kode saham FAPA pada Senin (4/1). Hal ini membuat perseroan menjadi emiten pertama yang tercatat pada awal tahun ini dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 6,6 triliun. PT BCA Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

FAP Agri beroperasi pada 1994 dan memiliki kebun sawit seluas lebih dari 110 ribu hektare (ha) per akhir 2019. Lahan operasional FAP Agri saat ini terletak di Kalimantan Utara dan Kalimatan Timur, serta Riau.  Seluruh lahan dikelola 11 anak perusahaan. Saat ini, perseroan mengoperasikan lima pabrik kelapa sawit (PKS). Total kapasitas produksi lima unit pabrik ini sekitar 200 ton per jam. Perusahaan juga memiliki satu pabrik pengolahan kernel.

Sementara itu, emiten baru lainnya, Diagnos Laboratorium Utama menawarkan 250 juta saham baru dengan harga penawaran Rp 200 per saham. Dari IPO tersebut, perseroan membidik dana Rp 50 miliar. Perseroan menjadwalkan masa penawaran umum selama 4-8 Januari, kemudian listing pada 15 Januari. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

“Sekitar 42,6% dana hasil penawaran umum akan digunakan untuk pengembangan usaha dan sisanya 57,4% akan digunakan untuk modal kerja perseroan,” jelas manajemen dalam prospektus.

Pengembangan usaha yang dimaksud adalah pembangunan laboratorium utama, pembangunan kantor cabang di Makassar, Surabaya, dan Medan yang ditargetkan selesai pada 2021. Selain itu, perseroan siap mengoptimalkan operasional cabang dan gerai dengan pembelian kendaraan dan alat-alat laboratorium. Selain di Makassar, cabang dan gerai Diagnos Laboratorium berada di Menteng dan Ciputat (Jakarta), Margonda (Depok), Surabaya, Padang, dan Medan.

Sebagai informasi, Diagnos adalah entitas anak dari Bundamedik Healthcare (BMHS) Group yang memiliki jaringan rumah sakit seperti RSIA Bunda Jakarta, RSU Bunda Jakarta, RSU Bunda Margonda, Klinik Spesialis BIC, Morula IVF Indonesia, Emergency Response, IRSI, Bunda Global Pharma, dan Bunda Diklat Indonesia.

Salah satu layanan Diagnos adalah mendiagnosa potensi penyakit yang bisa didapat oleh calon bayi pelanggan BMHS Group. Diagnosa bisa dilakukan pada ibu yang sedang dalam masa kehamilan dengan jangka waktu kehamilan kurang lebih 11 minggu dengan teknologi genomics.

Lebih lanjut, DCI Indonesia yang bergerak di sektor teknologi informasi melepas 357,56 juta saham dengan harga penawaran Rp 420 per saham. Alhasil, perseroan akan mengantongi Rp 150,17 miliar. Perseroan telah melakukan masa penawaran umum pada Desember lalu dan menjadwalkan listing di BEI pada 6 Januari. PT Buana Capital Sekuritas menjadi penjamin pelaksana emisi efek.

Berdasarkan prospektus, perseroan akan menggunakan 80% dana IPO untuk belanja modal berupa low voltage panel sebanyak 51 unit. Peralatan ini bagian dari elektrikal pusat data keempat dengan estimasi biaya Rp 67,28 miliar pada tahun 2021 dan genset 6 unit untuk elektrikal fase 1 dengan estimasi biaya Rp 58,36 miliar.

Adapun pemegang saham utama DCI Indonesia adalah DCI International Holding Pte Ltd dengan kepemilikan 85% setelah IPO. Sebagai penyedia pusat data, perseroan memiliki pusat data yang dibangun dengan total lahan 8,5 hektar (ha) dan siap ekspansi menambah gedung dengan total kapasitas hingga 200 megawatt (MW).

Seperti diketahui, BEI memasang target konservatif jumlah emiten baru lewat IPO yakni sebanyak 30 perusahaan pada 2021. Sebelumnya, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, BEI berharap calon-calon emiten dengan valuasi jumbo dapat merealisasikan aksi IPO pada 2021. Pihaknya menegaskan, Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2021 akan terus ditinjau secara berkala dan menyesuaikan dengan kondisi pasar modal.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN