Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Gunung Raja Paksi Tbk Selasa (3/9/2019) mengadakan Due Diligence Meeting & Public Expose di BEI. Foto: IST

PT Gunung Raja Paksi Tbk Selasa (3/9/2019) mengadakan Due Diligence Meeting & Public Expose di BEI. Foto: IST

LISTING DI BEI SEPTEMBER

Gunung Raja Paksi Wujudkan Visi sebagai Produsen Baja Terintegrasi Kelas Dunia

Selasa, 3 September 2019 | 12:27 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Gunung Raja Paksi Tbk (“Perseroan”), perusahaan baja yang menjalankan usaha-usaha dalam bidang industri peleburan dan penggilingan baja (Furnace & Steel Rolling), Selasa (3/9/2019) mengadakan Due Diligence Meeting & Public Expose (Paparan Publik) dalam rangka mengumumkan rencananya untuk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada bulan September 2019.

Perseroan, dalam keterangan tertulisnya, berencana melakukan Penawaran Umum Perdana Saham dengan jumlah penawaran sebanyak-banyaknya 1.238.000.000 lembar Saham Biasa Atas Nama dengan nilai nominal Rp500.

Adapun, kisaran harga penawaran saham IPO PT Gunung Raja Paksi Tbk adalah antara Rp825 – Rp900 per saham. Perseroan telah menunjuk PT Kresna Sekuritas dan PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Saham.

Bersamaan dengan Penawaran Umum Perdana Saham, Perseroan akan menerbitkan saham baru dalam rangka pelaksanaan Obligasi Wajib Konversi (”OWK”) yang akan jatuh tempo pada tanggal 30 September 2019.

Dengan dilaksanakannya konversi OWK bersamaan dengan terjualnya seluruh Saham Yang Ditawarkan dalam Penawaran Umum Perdana ini, persentase kepemilikan Masyarakat adalah sebanyak-banyaknya 10,2157% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah Penawaran Umum Perdana dan pelaksanaan konversi Obligasi Wajib Konversi.

Sesuai dengan yang telah disampaikan dalam Public Expose, masa penawaran awal (bookbuilding) akan berlangsung pada tanggal 3 – 5 September 2019, Pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan dapat diperoleh pada tanggal 10 September 2019 dan masa penawaran umum (perkiraan) dijadwalkan pada tanggal 12, 13 dan 16 September 2019. Sedangkan, pencatatan perdana saham di BEI diperkirakan dapat dilaksanakan pada tanggal 19 September 2019.

Penggunaan seluruh dana hasil dari Penawaran Umum Perdana Saham ini, setelah dikurangi biaya-biaya Emisi, akan digunakan sekitar 99,52% untuk pelunasan hutang dalam rangka pembelian asset tetap dan biaya operasinya, dan sekitar 0,48% akan digunakan untuk modal kerja.

Alouisius Maseimilian, Direktur Utama PT Gunung Raja Paksi Tbk mengatakan, pihaknya melihat potensi yang besar di industri ini, antara lain dilihat dari pertumbuhan konsumsi baja per kapita dengan adanya pertumbuhan GDP Indonesia, serta konsumsi baja nasional yang meningkat seiring dengan meningkatnya anggaran infrastruktur pemerintah untuk pengembangan sarana infrastruktur seperti jalan tol, pelabuhan, bandar udara, dan rel kereta api.

“Selain itu, pemain di industri baja masih memiliki ruang yang sangat luas untuk bertumbuh. Hal ini didasarkan fakta bahwa konsumsi baja per kapita Indonesia yang masih cukup rendah dan kapasitas produksi baja domestik yang masih belum bisa memenuhi permintaan, sehingga membuat Indonesia masih melakukan impor baja. Terlebih lagi, harga baja sedang mengalami tren kenaikan signifikan. Maka dari itu, kami memutuskan untuk mengambil langkah besar untuk go public, dimana secara langsung hal-hal tersebut kami yakini akan memberikan peluang besar bagi bisnis Perseroan kedepannya,” katanya.

Melalui IPO, jelas Alouisius Maseimilian, perseroan bertujuan untuk mewujudkan visi untuk menjadi produsen baja terintegrasi kelas dunia yang tumbuh bersama dalam kemitraan untuk berkontribusi positif bagi pembangunan di Indonesia dan dunia.

“Kami siap untuk membawa Perseroan melangkah lebih jauh lagi, dan kami berharap melalui langkah besar ini kami dapat berkontribusi lebih untuk Indonesia,” ungkapnya.

Sebagai satu tempat berjuta solusi tepat untuk segala kebutuhan baja, Perseroan menjalankan produksi yang meliputi produksi Baja Batangan, Baja Lembaran dan Baja Gulungan yaitu Slab, Billet, Beam Blank, Bloom serta turunannya seperti Hot Rolled Plate & Coil serta turunannya, Baja Profil seperti Angle, WF, H-Beam dan turunannya. Pabrik yang ada saat ini memiliki kapasitas produksi sebesar 2,8 juta ton baja per tahun dengan tingkat utilisisasinya hampir maksimal.

Indonesia memiliki pertumbuhan GDP rata-rata 2018 sekitar 5,17% per tahunnya dan triwulan 1 tahun 2019 sekitar 5,07%, sesuai dengan data bps.go.id. Dengan adanya pertumbuhan ini, konsumsi baja per kapita ikut bertumbuh. Menurut data South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI), konsumsi baja per kapita Indonesia paling rendah di antara negara ASEAN. Ini menunjukan bahwa Indonesia memiliki prospek usaha yang tinggi karena memiliki tingkat konsumsi yang berpotensi bertambah menyamai negara-negara tetangga di masa datang. Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau IISIA dan SEAISI memperkirakan konsumsi baja di Indonesia akan meningkat dari 57 Kg per kapita di 2018 menjadi 84 Kg per kapita di 2020.

Masih menggunakan sumber data yang sama, konsumsi baja per kapita Indonesia diproyeksikan akan naik menjadi 61 Kg per kapita pada 2019, atau tumbuh sekitar 7,02% dalam satu tahun. Target tersebut dapat tercapai mengingat Indonesia akan menikmati dampak berkelanjutan dari pembangunan termasuk pengembangan infrastruktur yang telah berjalan semenjak tahun 2015.

Produksi baja nasional tumbuh signifikan sebesar 27,3% dari 7,8 juta MT pada 2017 menjadi 10 juta MT pada 2018. Akan tetapi, hal ini masih belum cukup mengingat konsumsi baja nasional yang mencapai 15,08 juta MT pada 2018. Selisih yang cukup besar ini pun akhirnya dipenuhi melalui impor dan membuat Indonesia menjadi negara net importir baja terbesar ke-4 di dunia, di bawah Amerika Serikat, Vietnam, dan Thailand.

Dengan fakta tersebut, maka sangat diharapkan peran serta pelaku industri baja nasional untuk meningkatkan kapasitas produksi baja sehingga dapat mengurangi ketergantungan baja dari negara-negara eksportir baja seperti Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. (gr)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA