Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu fasilitas milik PT Widodo Makmur Unggas (WMU). Foto: Perseroan.

Salah satu fasilitas milik PT Widodo Makmur Unggas (WMU). Foto: Perseroan.

IPO Bernilai Jumbo Berlanjut, Widodo Makmur Unggas Gaet 'Anchor Buyer'

Selasa, 5 Januari 2021 | 23:15 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Widodo Makmur Unggas (WMU) bersiap melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham bernilai jumbo pada Januari ini. Perseroan dikabarkan membidik dana hingga Rp 2 triliun dan memiliki anchor buyer. WMU menambah daftar IPO bernilai besar tahun ini, setelah PT FAP Agri Tbk (FAPA) yang berhasil meraup dana Rp 1 triliun dari aksi korporasi tersebut.

WMU adalah satu dari 28 perusahaan yang masuk pipeline Bursa Efek Indonesia (BEI) perihal rencana IPO dan pencatatan perdana saham (listing) di BEI tahun ini. WMU siap melepas hingga 5,92 miliar saham ke publik atau setara dengan 35% dari modal disetor. PT CIMB Niaga Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, dan PT Samuel Sekuritas Indonesia bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Perseroan akan mengumumkan kisaran harga IPO pada Rabu (6/1). Pendiri Widodo Makmur Perkasa Group Tumiyana mengakui, pihaknya telah memiliki anchor buyer untuk IPO WMU. Namun, dia belum bersedia mengungkap detail kesepakatan dengan pembeli utama tersebut. “Semoga dana IPO sesuai target,” kata dia kepada Investor Daily, Selasa (5/1).

Selain penawaran saham ke publik, perseroan akan melaksanakan program employee stock allocation (ESA) dan management employee stock option program (MESOP) sebanyak-banyaknya 7,5% dan 1% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor setelah IPO.

Adapun sebesar 74,5% dari dana hasil IPO akan digunakan untuk membiayai ekspansi perseroan dengan menambah serta memperluas sarana produksi. Perseroan juga akan menggunakan 25,7% dana IPO untuk modal kerja, terutama pembelian bahan baku pada feedmill dan pembelian ayam broiler untuk slaughterhouse.

Perseroan siap menjalankan kegiatan usaha secara sendiri di bidang feedmill di Ngawi, Jawa Timur, dan anak usaha perseroan, PT Adijaya Unindo Perkasa (AUP), juga akan menjalankan usaha feedmill di Balaraja, Banten. Adapun kegiatan usaha slaughterhouse berlokasi di Giritontro, Jawa Tengah.

Sebagai informasi, WMU merupakan satu dari lima lini bisnis Widodo Makmur Perkasa Group. Kelompok usaha itu telah berdiri sejak 1995 dan memiliki lini bisnis peternakan dan komoditas. Widodo Makmur Perkasa Group didirikan oleh Tumiyana, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai direktur utama PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT PP Tbk (PTPP).

Per 31 Oktober 2020, total aset WMU mencapai Rp 1,33 triliun, total liabilitas Rp 670,44 miliar, dan ekuitas sebanyak Rp 666,43 miliar. Perseroan tercatat membukukan pendapatan Rp 940,91 miliar, melonjak 109,7% dibandingkan Oktober 2019 yang sebesar Rp 448,66 miliar. Laba bersih perseroan mencapai Rp 62,62 miliar, melesat 135,9% dari Rp 26,54 miliar.

WMU akan menggelar masa penawaran awal (bookbuilding) pada 7 Januari-13 Januari, kemudian pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ditargetkan pada 20 Januari. Perseroan menjadwalkan masa penawaran umum pada 21 Januari-25 Januari dan penjatahan pada 27 Januari. Selanjutnya, distribusi saham diperkirakan pada 28 Januari, sehingga pencatatan saham di BEI bisa terlaksana pada 29 Januari.

Pipeline IPO

Hingga 4 Januari 2020, sebanyak 28 perusahaan masuk dalam pipeline BEI terkait rencana IPO saham. Perusahaan tersebut terdiri atas enam perusahaan dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi; dua perusahaan dari sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan; dua perusahaan dari sektor aneka industri.

Lebih lanjut, sebanyak dua perusahaan dari sektor keuangan; dua perusahaan dari sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi; satu perusahaan dari sektor agrikultur; satu perusahaan dari sektor tambang. Sementara, 12 perusahaan tengah dalam proses evaluasi dan pemetaan sektor di BEI, lantaran dokumen baru diterima pekan terakhir Desember 2020.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, pihaknya optimistis 2021 dapat menjadi tahun pemulihan ekonomi. Hal itu mempertimbangkan indikator-indikator ekonomi yang telah memberikan sinyal penguatan, baik di sektor riil maupun sektor keuangan sejak akhir 2020.

“Mengiringi hal tersebut dan juga melihat animo para pengusaha untuk naik ke level selanjutnya, yang tercermin dari pipeline pencatatan saham saat ini, bursa berharap landscape IPO dari berbagai jenis dan ukuran perusahaan, serta penerbitan efek melalui pasar modal semakin marak dilakukan pada 2021,” kata Nyoman.

Dia menambahkan, akan menjadi suatu kebanggaan bagi Indonesia jika jumlah IPO 2021 dapat melebihi target yang telah ditentukan dan bahkan melebihi negara lain di Asia Tenggara. Adapun dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2021, BEI menargetkan bisa menjaring 30 perusahaan untuk melangsungkan IPO saham.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN