Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pengguna layanan belanja di Bukalapak.com melakukan pembayaran di minimarket di Jakarta, beberapa waktu lalu. (BeritaSatu Photo)

Seorang pengguna layanan belanja di Bukalapak.com melakukan pembayaran di minimarket di Jakarta, beberapa waktu lalu. (BeritaSatu Photo)

IPO Bukalapak Diprediksi Oversubcribed Lebih dari Empat Kali

Rabu, 21 Juli 2021 | 15:40 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Aksi penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) selama masa bookbuilding (penawaran awal) berhasil melebihi jumlah saham yang ditawarkan ke pasar (oversubscribed) hingga empat kali. Bahkan, oversubscribed itu terjadi pada harga yang dipatok perusahaan pada batas atas penawaran yakni Rp 850 per saham.

Berdasarkan tiga sumber Reuters yang mengetahui informasi ini, pesanan IPO Bukalapak mencapai lebih dari US$ 6 miliar atau Rp 87,6 triliun. Padahal, Bukalapak hanya menargetkan dana IPO hingga US$ 1,5 miliar atau setara Rp 21,9 triliun pada aksi korporasinya ini. Calon emiten yang akan tercatat dengan kode BUKA tersebut seperti diketahui telah menggelar bookbuilding pada 9 Juli hingga 19 Juli 2021.

“Bukalapak menetapkan harga IPO di batas atas dari harga Rp 750-850 per lembarnya dengan permintaan yang masuk lebih dari US$ 6 miliar,” tulis Reuters berdasarkan laporannya pada Rabu, (21/7).

Adapun, IPO oleh perusahaan e-commerce terbesar keempat di Indonesia ini turut didukung oleh investor pelat merah Singapura, yakni GIC dan juga Microsoft. Selain karena memiliki nilai jumbo, IPO Bukalapak juga dinilai menarik karena pasar e-commerce Indonesia senilai US$ 40 miliar diuntungkan dari permintaan yang kuat di masa pandemi.

Sumber Bloomberg dan laporan The Edge Market juga menuliskan hal demikian. Disebutkan bahwa permintaan investor yang lebih kuat dari perkiraan dipastikan membuat Bukalapak bisa menyentuh target dana IPO sebesar US$ 1,5 miliar. IPO Bukalapak dinilai berhasil menarik minat investor institusi jangka panjang, domestik investor, dan para sovereign wealth funds.

Sementara itu dari sisi penjamin emisi efek (underwriter), Direktur Mandiri Sekuritas Theodora Manik menyatakan, animo nasabah Mandiri Sekuritas terhadap IPO Bukalapak amatlah besar. Hal ini terlihat dari naiknya jumlah nasabah investor ritel baru, seiring informasi bahwa Mandiri Sekuritas merupakan salah satu penjamin emisi efek dalam hajatan besar ini. Apalagi Bukalapak merupakan perusahaan startup teknologi unicorn pertama yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Nasabah menyambut baik, tapi kita belum bisa bicarakan detailnya karena bookbuilding baru selesai. Yang pasti baik nasabah yang existing maupun nasabah baru yang berminat pada IPO ini animonya tinggi,” ujarnya dalam acara paparan kinerja Mandiri Sekuritas semester I-2021, Rabu (21/7).

Animo besar tersebut juga dilontarkan Head of Wealth Management Division Mirae Asset Sekuritas, Fajrin Noor Hermansyah. Indikatornya tercermin dari penambahan jumlah nasabah Mirae Sekuritas baru-baru ini dan juga pertanyaan yang muncul melalui sosial media dan juga customer service perseroan. Namun sayangnya, dia enggan menyebutkan berapa jumlah penambahan tersebut dan berapa minat IPO yang sudah masuk.

”Animonya besar kalau kita lihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk melalui customer service dan juga sosial media kami,” ungkapnya.

Terkait IPO Bukalapak, Komisaris Bursa Efek Indonesia Pandu Patria Sjahrir secara khusus mengatakan bahwa animo investor terhadap saham ini amatlah besar. Tak hanya dari investor ritel, investor luar negeri juga mengapresiasi langkah Bukalapak untuk IPO dan hal itu nampak dari minatnya yang besar.

”Yang saya dengar dari teman-teman underwriter, demand-nya amat besar ya buat saham BUKA ini. Sebagian besar dari luar negeri dan minat investor ritel juga cukup besar, jadi tinggal nanti kemampuan underwriter untuk balance antara local demand dan foreign demand karena ini IPO terbesar kita dalam sejarah per hari ini yah,” ungkap Pandu.

Menurutnya, minat asing terhadap saham Bukalapak amatlah masuk akal. Hal itu tak terlepas dari potensi pasar e-commerce di Indonesia yang didukung oleh bonus demografi dan juga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia bahkan Asean.

Menanggapi animo tersebut, Presiden Direktur Bukalapak Rachmat Kaimuddin mengaku, pihaknya bersyukur bahwa sejauh ini sambutan yang diperoleh terhadap rencana IPO Bukalapak baik dari investor institusi dan ritel sangat baik.

Porsi Investor

Di lain pihak, Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana juga memprediksi, minat investor untuk saham Bukalapak akan cukup besar. Minat yang tinggi ini terutama datang dari investor ritel. Untuk itu, dia menilai porsi investor dalam penjatahan pada IPO Bukalapak bisa diperbanyak, namun itu semua tergantung kebutuhan dana Bukalapak.

“Rp 75 miliar dari Rp 21,9 triliunan ya memang relatif kecil sekali yah. Bisa ditambah kalau begitu porsi retailnya, meski BUKA di awal pasti lebih suka dipegang institusi. Tapi, kalau mau harganya "gampang" naik, sebaiknya yang dipegang ritelnya kecil, di awal BUKA IPO pasti maunya ARA (auto reject atas) kan. Semakin besar yang dipegang ritel malah semakin "berat" untuk dibuat ARA. BUKA ini akan jadi preseden juga buat IPO GoTo. Kalau misalnya BUKA setelah IPO malah ARB (auto reject bawah), GoTo jadi tidak menarik nanti,” jelasnya kepada Investor Daily, Rabu (21/7).

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai, IPO Bukalapak sangat menarik, bahkan bisa oversubscribed. Apalagi, model bisnis yang berbasis teknologi juga menjadi daya tarik saat ini.

”Minat ritelnya besar, jadi perlu kasih saham lebih banyak ke ritel. Ini perlu untuk jaga harga saham tidak turun sesudah IPO meski untuk jaga saham lebih ke investor institusi, tapi ritel juga perlu dapat bagian,” katanya.

Sebelumnya, Direktur PT Buana Capital Sekuritas Ratna Karim menyampaikan, dari total saham yang dilepas, porsi penjatahan untuk investor ritel (pooling allotment) minimal 2,5% atau sekitar Rp 75 miliar. Akan tetapi, kami akan menyesuaikan penjatahan pooling ini apabila saat e-IPO terjadi kelebihan permintaan atau oversubscribed,” ucap Ratna.

Untuk informasi, dalam prospektus IPO Bukalapak mencantumkan mekanisme claw back. Dengan asumsi terjadi oversubscribed, porsi penjatahan investor ritel berpotensi dinaikkan.

Aturan claw back mengatur bila terjadi kelebihan pemesanan pada penjatahan terpusat (pooling) investor ritel, kelebihan itu dengan persentase tertentu akan diambil dari penjatahan pasti (fix allotment) yang umumnya diperuntukkan bagi institusi.

Bukalapak diketahui masuk dalam Golongan IV, yakni IPO dengan nilai emisi lebih besar dari Rp 1 triliun. Dengan kata lain, minimal alokasi penjatahan terpusat ialah 2,5% dari Misi. Jika kemudian terjadi kelebihan permintaan pada penjatahan terpusat antara 2,5-10 kali, maka porsi penjatahan terpusat akan diperbesar menjadi lebih dari minimal 5% dari target.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN