Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

IPO Indonesia Terbesar Selama Masa Covid-19

Imam Suhartadi/Farid Firdaus, (elgor)  Rabu, 24 Juni 2020 | 14:33 WIB

JAKARTA, investor.id -- Setelah WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi, 11 Maret 2020, para calon emiten tidak mengurungkan rencana mereka untuk mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak Januari hingga Maret, terdapat 18 emiten baru dan jika dihitung sejak Januari hingga 23 Juni 2020, new listing di BEI mencapai 28 emiten.

Jumlah initial public offering (IPO) atau penawaran umum perdana saham di Indonesia terhitung terbesar di Asean, bahkan dunia.

Jumlah IPO saham Indonesia Terbesar di Asean dan 7 besar Dunia
Jumlah IPO saham Indonesia Terbesar di Asean dan 7 besar Dunia

Selain itu, jumlah pemodal ritel lokal naik sekitar 10% menjadi 2,7 juta. Pandemi justru mendorong investor lokal memanfaatkan teknologi digital untuk mempelajari seluk-beluk investasi dan mulai berinvestasi di pasar modal dengan membeli saham dan produk reksadana.

“Minat IPO (initial public offeringRed) tetap tinggi di era pandemi,” kata Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat PT BEI Saptono Adi Junarso dalam Zoom with Primus dengan topik “Prospek IPO Saat Pandemi”, Selasa (23/6/2020).

Zooming with Primus: IPO Saat Pandemi, di BeritasatuTV, Selasa (23/6/2020). Sumber: BSTV
Zooming with Primus: IPO Saat Pandemi, di BeritasatuTV, Selasa (23/6/2020). Sumber: BSTV

Diskusi virtual yang disiarkan langsung Beritasatu TV dan dipandu Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu menghadirkan juga Dirut PT Danareksa Sekuritas Friderica Widyasari dan Dirut PT Cashlez Wolrdwide IndonesiaTbk Tee Teddy Setiawan.

Saptono menjelaskan lebih lanjut, 28 emiten baru dari berbagai sektor yang dijaring BEI sepanjang tahun berjalan (year to date) tersebut mampu menggalang dana total IPO senilai Rp 3,61 triliun. “Masuknya emiten baru tersebut membuat jumlah total emiten saham yang tercatat di BEI kini mencapai 692. Selain itu, sebanyak 21 perusahaan lain berniat menggelar IPO saham (masuk pipeline) di BEI tahun ini,” papar Saptono.

Jumlah IPO Tumbuh Tinggi

Saptono Adi Junarso. Foto: IST
Saptono Adi Junarso. Foto: IST

Saptono Adi Junarso mengatakan, berdasarkan data BEI selama 10 tahun terakhir, sebelum 2017, jumlah IPO saham di BEI per tahun di kisaran belasan atau di bawah 30 perusahaan. Namun, dalam periode 2017-2020, jumlah perusahaan IPO tumbuh cukup tinggi.

“Pertumbuhan ini tidak lepas dari mulai dibukanya keran untuk perusahaan- perusahaan yang menengah-kecil. Sebelum tahun 2017-2018, mayoritas emiten yang IPO didominasi oleh perusahaan beraset besar, tahun berikutnya tren mulai bergeser ke perusahaan kecil dan menengah,” kata dia. 

Saptono mengatakan, jika dilihat dari penyebaran sektor, jumlah emiten di BEI didominasi dari sektor investasi, keuangan, dan properti. Hal ini juga terlihat pada emiten baru yang masuk ke BEI pada 2020.

“Adapun hal yang membanggakan adalah aksi IPO di BEI merupakan salah satu yang terbanyak dari sisi jumlah. Tak hanya di kawasan Asia Tenggara, tapi juga secara global. Berdasarkan data Ernst & Young (EY) Global IPO Trends, pada kuartal I-2020, Indonesia menjadi negara dengan IPO terbanyak yakni 18 IPO, atau 58% dari total 31 IPO di Asia Tenggara,” imbuhnya.

Jumlah IPO saham di BEI
Jumlah IPO saham di BEI

Sementara itu, sepanjang 2019, Indonesia berada di peringkat 7 di antara bursa-bursa dunia dalam hal volume IPO terbanyak, dan tertinggi di Asia Tenggara. Selama 2019, BEI berhasil menjaring 55 emiten baru dengan total penggalangan dana Rp 14,7 triliun. Sedangkan bila dilihat dari sisi penghimpunan dana IPO, Indonesia menempati peringkat tiga di antara Negara Asia Tenggara.

Saptono menambahkan, sejak 2018 hingga saat ini, perusahaan dengan aset kecil dan menengah banyak mencari dana lewat IPO. Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53 Tahun 2017, perusahaan beraset kurang dari Rp 50 miliar masuk kategori kecil, perusahaan beraset antara Rp 50 miliar-250 miliar berada pada kelompok sedang, sedangkan perusahaan dengan aset di atas Rp 250 miliar termasuk golongan besar.

Saptono Adi Junarso, Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat PT BEI,  dalam Zooming with Primus: IPO Saat Pandemi, di BeritasatuTV, Selasa (23/6/2020). Sumber: BSTV
Saptono Adi Junarso, Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat PT BEI, dalam Zooming with Primus: IPO Saat Pandemi, di BeritasatuTV, Selasa (23/6/2020). Sumber: BSTV

Sementara itu, berdasarkan data BEI, selama periode Januari- Juni dari tahun 2018-2020 dengan cut off date 17 Juni 2020, rata-rata dana dihimpun melalui IPO saham turun 20,41% pada 2020 dibanding tahun sebelumnya.

Selain itu, terjadi penurunan  yang signifikan dari sisi aset, dana dihimpun, dan kapitalisasi pasar pada IPO 2019 dibanding tahun 2018. Masing-masing penurunannya sebesar 87,42%, 60,1% dan 70,23%.

Dari data tersebut dapat disimpulkan ukuran IPO Indonesia mengalami pergeseran dari IPO ukuran besar ke IPO ukuran kecil dan menengah. BEI juga sejak tahun lalu memiliki papan akselerasi untuk emiten kecil-menengah, dan sampai saat ini sudah ada dua perusahaan yang tercatat.

Dengan adanya papan akselerasi, lanjut dia, semakin membuka perusahaan kecil-menengah mengakses pendanaan di pasar modal. Berdasarkan POJK No 53 Tahun 2017, ada berbagai kemudahan bagi perusahaan tersebut dari sisi proses dan biaya fee.

Ke depan, lanjut dia, BEI akan memperketat syarat emiten untuk masuk ke papan pengembangan dan papan utama. Jika ada emiten yang dinilai tak mampu masuk ke dua papan tersebut,

Profil Pasar Modal
Profil Pasar Modal

BEI lebih menganjurkan emiten tercatat di papan akselerasi. Emiten yang tercatat di papan akselerasi bisa mendapat promosi atau naik kelas ke papan yang lebih tinggi.

Proses ini dilakukan BEI dengan menilai laporan keuangan emiten setiap tahun. “Kalau untuk turun papan bagi emiten di papan utama ke papan di bawahnya, saat ini belum ada. Selama ini apabila ada perusahaan yang terganggu going concern-nya, pilihannya hanya suspensi saham atau delisting. Tapi kebijakan turun papan akan kami pertimbangkan ke depan,” jelas dia.

Sedangkan dari sisi penggunaan dana IPO, lanjut dia, trennya tidak banyak berubah. Dana ini digunakan untuk ekspansi bisnis dan modal kerja.

Saptono menambahkan, BEI telah beradaptasi dengan kondisi pandemi terkait penerapan operasional di new normal, termasuk sosialisasi IPO secara online. BEI memanfaatkan media sosial dan seminar secara online untuk mempromosikan IPO ke berbagai asosiasi-asosiasi perusahaan. Ini membuat BEI optimistis jumlah IPO terus bertambah tahun 2020. (hg/en)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN