Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendungan untuk pembangkit listrik tenaga air. (Foto: Beritasatu/Antara)

Bendungan untuk pembangkit listrik tenaga air. (Foto: Beritasatu/Antara)

Kencana Energi Bidik Dana IPO Saham Maksimal Rp 410,62 Miliar

Muhammad Ghafur Fadillah, Sabtu, 20 Juli 2019 | 09:00 WIB

JAKARTA, Investor.id- PT Kencana Energi Lestari menetapkan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) berkisar Rp 250-420 per saham. Perseroan berniat melepas sebanyak 977,68 juta saham atau setara dengan 25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh, sehingga target perolehan dananya berkisar Rp 244,42- 410,62 miliar.

Perseroan menunjuk tiga perusahaan sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi underwriter) efek, yaitu PT Bahana Sekuritas, PT Mirae Asset Sekuritas dan PT RHB Sekuritas. Adapun, Book Building saham perseroan digelar 17 Juli - 30 Juli 2019, penawaran umum perdana saham diperkirakan pada 9-14 Agustus 2019, dan pencatatan saham di bursa ditargetkan 20 Agustus 2019.

Direktur Utama Perseroan Henry Maknawi mengatakan, dana hasil IPO saham akan digunakan untuk mengembangkan bisnis perseroan di bidang pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). “Karena tingkat elektrifikasi Indonesia masih rendah, perseroan memiliki peluang untuk berkembang ke depan,” ujarnya usai ditemui pada saat Paparan Publik di Jakarta, (19/7).

Saat ini, perseroan tengah memfokuskan penyelesaian pembangunan pembangkit listrik tenaga matahari (PLTM) Madong dengan kapasitas 10 Megawatt yang ditargetkan rampung pada kuartal III-2021. Proyek ini menelan investasi sekitar Rp 300 miliar yang sebagian besar danya diambil dari hasil IPO saham, yaitu 25% dari total perolehan dana.

Perseroan juga mengalokasikan sebagian dana IPO saham untuk untuk akusisi PLTA lain atau yang sedang terkendala biaya. Perseroan berharap dengan strategi tersebut fundamental perseroan akan lebih kuat. “Kami menargetkan dapat mengoperasikan pembangkit listrik sekitar 200MW yang berasal dari proyek-proyek PLTA diantaranya di Sumatera dan Sulawesi ke depan,” terangnya.

Hingga kini, perseroan memiliki tiga proyek PLTA di pulau Sumatera dan Sulawesi dengan total kapasitas sebesar 49 MW. Proyek tersebut adalah PLTA Pakkat berkapasitas 18 MW telah beroperasi di Sumatera Utara, proyek PLTA Air Putih berkapasitas 21 MW yang sedang menunggu Commercial Operation Date (COD) yang dijadwalkan Agustus-September 2019, dan proyek PLTA di Bengkullu.

Terkait pemasukan terbesar perseroan, menurut dia, masih berasal dari PLTA yang sudah beroperasi ditambah kontrak penyediaan listrik jangka panjang atau power purchase agreement dengan PLN selama 20-30 tahun, di mana pembangunan dan pengoperasian aset pembangkit tenaga listrik dilakukan dengan pola Build -Own-Operate (BBO) maupun Build-Own-Operate-Transfer (BOOT).

Hingga kuartal I-2019, perseroan berhasil mencetak pendapatan sebesar US$ 5,68 juta. Adapun, laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$ 2,10 juta. Total aset hingga 31 Maret 2019 tercatat US$ 249,98 juta, terdiri dari liabilitas US$115,55 juta dan total ekuitas sebesar US$134,42 juta.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN