Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pesawat Lion Air di bandara. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Pesawat Lion Air di bandara. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Lion Air Bersiap Masuk IPO Terbesar

Farid Firdaus, Rabu, 9 Oktober 2019 | 15:35 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Lion Mentari Airlines masuk dalam daftar pipeline calon emiten Bursa Efek Indonesia (BEI). Rencana penawaran perdana (intial public offering) saham maskapai low cost carrier (LCC) ini diprediksi akan menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah BEI.

Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, Lion Air menggunakan dasar valuasi IPO dengan laporan keuangan Juni 2019. Dengan demikian, perseroan yang masuk kategori perusahaan di sektor infrastruktur, utilisasi dan transportasi ini memiliki tenggat waktu mengeksekusi rencananya Desember tahun ini.

“Detail rencana mereka belum bisa disampaikan. Nanti pekan depan akan ada mini expose,” jelas dia di Jakarta, Rabu (9/10).

Secara terpisah, Corporate Communication Strategic Lion Air Group Danang Mandala juga enggan berkomentar lebih jauh. “Sementara ini kami belum dapat memberikan keterangan mengenai informasi itu,” kata dia.

Sementara itu, sumber Investor Daily mengatakan, Lion Air telah melakukan konsultasi dengan sejumlah penjamin emisi (underwriter). Sebagian saham perdana perseroan nantinya bakal ditawarkan kepada sejumlah investor asing.

Sumber itu membenarkan, aksi ini IPO akan menjadi salah satu yang terbesar di Tanah Air. Lion Air percaya diri menggalang dana dengan nilai jumbo lantaran sudah membukukan laba bersih di tengah persaingan LCC yang sangat kompetitif.

Sebagai informasi, Maret 2019, laporan Bloomberg menyebutkan, Lion Air berupaya memulai persiapan IPO awal tahun ini setelah melewati tragedi kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8 pada 29 Oktober 2018. Lion Air dikabarkan mengincar dana IPO hingga US$ 1 miliar.

Berdasarkan laman resmi Lion Air, hingga kuartal I-2019 Lion perseroan mengoperasikan tipe pesawat, terdiri dari 66 Boeing 737-900ER (215 kelas ekonomi), 38 Boeing 737-800NG (189 kelas ekonomi) dan tiga Airbus 330-300 (440 kelas ekonomi).

Untuk pengaturan mekanisme operasi pesawat, Lion Air mempunyai utilisasi 8-9 jam per hari, rata-rata enam pesawat menjalani perawatan berjadwal atau schedule maintenance serta rata-rata lima pesawat sebagai cadangan atau stand by.

Sebagai informasi, rekor aksi IPO terbesar, setidaknya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir masih dipegang oleh Adaro Energy dengan nilai emisi Rp 12,2 triliun pada Juli 2008. Sedangkan dalam empat tahun terakhir, Waskita Beton Precast  tercatat unggul dengan perolehan IPO Rp 5,16 triliun pada September 2016.

Tahun ini, aksi IPO Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG menjadi yang paling jumbo dengan perolehan dana Rp 4,76 triliun. Namun aksi ini merupakan divestasi saham yang dilakukan oleh induk usaha PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA).

Rekor Baru

Apabila Lion Air merealisasikan aksi IPO tahun ini, maka hal tersebut akan mendongkrak total nilai aksi IPO di BEI, yang berpotensi mencetak rekor baru.

Saat ini, BEI berada pada peringkat ke-7 di antara bursa-bursa efek global dalam daftar jumlah IPO saham selama periode Januari-September 2019. Posisi BEI berada di atas Bursa Efek Korea Selatan, New York, Australia, dan Italia.

Data terbaru lembaga riset global EY mengungkapkan, total aksi IPO secara global selama Januari-September 2019 mencapai 768 emiten. Dari jumlah tersebut, BEI berhasil menjaring 38 emiten baru.

Sebagai pembanding, selama 2018, BEI berada di posisi 10 dengan total 57 emiten baru. Bursa Efek Hong Kong masih mempertahankan posisinya sebagai jawara bursa dengan aksi IPO terbanyak, yakni 97 emiten atau setara 12,6% dari total IPO global secara year to date (Ytd).

Tahun lalu, negara yang kini terkenal dengan umbrella movement tersebut berhasil mencatatkan 205 emiten baru. Dari sisi perolehan dana IPO, NASDAQ dan NYSE berada di posisi puncak. NASDAQ mencatatakan total raihan dana IPO sebesar US$ 22,3 miliar dari 95 perusahaan, sementara NYSE menyusul dengan nilai emisi US$ 22,2 miliar dari 32 perusahaan.

Riset EY mencatat, total nilai IPO global selama Januari-September 2019 menembus US$ 114,1 miliar. Sebagai pembanding, tahun lalu total emisi IPO global menyentuh US$ 205,6 miliar dari 1.384 emiten. Dari nilai itu, Bursa Efek Hong Kong berhasil merajai IPO dengan nilai emisi US$ 36,5 miliar, atau 17,7% dari total emisi global. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA