Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel). Foto: Perseroan.

PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel). Foto: Perseroan.

Mitratel akan IPO, Kompetisi Bisnis Menara Memanas

Senin, 19 Juli 2021 | 12:08 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), perusahaan menara telekomunikasi milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), akan melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/ IPO) tahun ini.

Kehadiran Mitratel di kancah bursa Tanah Air membuat kompetisi bisnis menara telekomunikasi bakal memanas.

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe menjelaskan, Mitratel memang merupakan salah satu perusahaan menara telekomunikasi yang disegani di Indonesia._

“Jumlah menara BTS Mitratel saat ini lebih banyak dibandingkan Sarana Menara Nusantara dan terbanyak se-Indonesia,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (18/7).

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe. Foto: IST
Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe. Foto: IST

Rencana Mitratel yang akan melantai di bursa sangat dinanti oleh para investor. Apalagi, jika Mitratel menawarkan harga yang lebih murah dengan valuasi yang lebih rendah dari dua emiten menara yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) milik Grup Djarum dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) milik Grup Saratoga.

Meski demikian, kehadiran Mitratel tidak lantas mematikan pergerakan saham TBIG dan TOWR.

Kiswoyo menilai, kedua saham tersebut masih berpotensi untuk meningkat tahun ini. Untuk TOWR, Kiswoyo memprediksi harganya bisa mencapai Rp 1.500 tahun ini. Sedangkan TBIG diprediksi akan berada di level Rp 4.500.

“Target harga TBIG seiring dengan berita divestasi oleh Saratoga yang dikabarkan harga per sahamnya bisa mencapai Rp 4.500,” jelas Kiswoyo.

Menara Telekomunikasi. (IST)
Menara Telekomunikasi. (IST)

Head of Research PT Yuanta Sekuritas Indonesia Chandra Pasaribu menjelaskan, kehadiran Mitratel bisa memperketat kompetisi di industri menara telekomunikasi. Apalagi jika Mitratel membeli menara Telkomsel dan menjadikan Mitratel sebagai pemilik menara terbanyak di Indonesia.

“IPO Mitratel juga bisa meningkatkan independensi Mitratel sehingga bisa menjadi lebih kompetitif, termasuk pergerakan harga di dalamnya,” ujar Chandra.

Pasalnya, selama ini independensi Mitratel kurang terjaga karena terafiliasi dengan Telkomsel sehingga service liability-nya dinilai bakal mendahulukan pelayanan kepada Telkomsel. Karenanya, dengan Mitratel masuk bursa, stigma ini bisa berkurang meskipun pasar masih juga memperhatikan besaran free float Mitratel di pasar kelak.

Kendati demikian, saham TBIG juga masih berpeluang untuk meningkat tahun ini. Berita akan dilepasnya saham TBIG oleh Grup Saratoga bisa menunjang valuasi dari emiten menara telekomunikasi tersebut.

Fundamental Baik

Founder & CEO Finvesol Consulting Fendi Susiyanto. Foto: IST
Founder & CEO Finvesol Consulting Fendi Susiyanto. Foto: IST

Chief Executive Officer PT Elkoranvidi Indonesia Investama Fendy Susiyanto menjelaskan, dua saham infrastruktur telekomunikasi yang perlu diperhatikan adalah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Kedua emiten itu masih berpeluang bertumbuh seiring dengan pengembangan menara telekomunikasi di luar Jawa.

“Pengembangan menara telekomunikasi sejauh ini masih terbatas di Pulau Jawa. Apabila bisa mengembangkan juga di luar Jawa, maka perusahaan masih memiliki ruang untuk bertumbuh dalam 5-10 tahun men datang,” jelas dia.

Momentum ini, lanjut Fendy yang akan dimanfaatkan oleh pendatang baru di Bursa Efek Indonesia, yakni Mitratel yang segera melantai. Mitratel pasti berencana memperluas jaringan telekomunikasinya, termasuk di luar Jawa.

Analis Sucor Sekuritas,
Analis Sucor Sekuritas,

Di lain pihak, Analis PT Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengungkapkan, dilihat dari fundamentalnya, kedua saham menara telekomunikasi (TWOR dan TBIG) masih memiliki potensi upside. Namun dilihat dari sisi teknikal, saham TBIG saat ini memasuki fase sideways.

“Sedangkan TOWR masih uptrend,” terang Hendriko. Melihat hal itu, Hendriko menilai, saham TOWR berpeluang untuk mencapai target harga Rp 1.900 atau meningkat dari posisi penutupan perdagangan Jumat, (16/7) yang mencapai Rp 1.360.

Sementara untuk TBIG, meski masih berada di fase sideways, masih berpeluang menembus angka Rp 4.000 dari penutupan perdagangan Jumat, (16/7) di level Rp 3.280.

Re-rating valuation TBIG terjadi setelah mengakuisisi me nara milik PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) dan berita akan diakuisisinya Tower Bersama,” papar Hendriko.

Dengan hadirnya Mitratel di papan perdagangan bursa domestik, menurut Hendriko, hal itu bisa meningkatkan persaingan di industri menara telekomunikasi. Apalagi, Mitratel memiliki kapasitas yang cukup besar sehingga bisa menjadi saham yang prospektif ke depannya.

Ditambah pula, Mitratel memiliki afiliasi dengan Telkom. Karenanya, Telkom akan cenderung menyewa menara ke Mitratel ketimbang perusahaan lain. “Namun untuk kontrak yang berlangsung saat ini tidak akan berubah, karena perusahaan menara rata-rata memiliki kontrak jangka panjang yang tidak bisa dibatalkan,” ucap Hendriko.

Berdasarkan data RTI, kedua saham menara telekomunikasi bergerak cukup atraktif dalam setahun terakhir. Saham TBIG sudah meningkat 96,41% dalam enam bulan terakhir dan 187,72% dalam setahun terakhir ke posisi Rp 3.280.

Begitu juga dengan saham TOWR, meski pergerakannya lebih landai dibandingkan TBIG, sahamnya sudah meningkat 40,93% dalam enam bulan terakhir.

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. Foto: Perseroan.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. Foto: Perseroan.

Sementara dalam setahun terakhir baru meningkat 32,04%, namun dalam tiga tahun bisa meningkat 102,99%.

Adapun dilihat dari fundamentalnya, Tower Bersama membukukan pendapatan sebesar Rp 5,32 triliun pada 2020 atau naik 13,3%_ dibandingkan tahun sebelumnya Rp 4,69 triliun. Emiten milik Grup Saratoga itu juga mencetak kenaikan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 23,1% menjadi Rp 1 triliun dari Rp 819,45 miliar pada 2019. Saat ini,

Tower Bersama memiliki 31.850 penyewaan dan 16.265 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik perusahaan terdiri atas 16.155 menara telekomunikasi dan 110 jaringan DAS. Dengan total penyewaan pa da menara telekomunikasi sebanyak 31.740, maka tenancy ratio perusahaan menjadi 1,96 kali.

Sementara pada kuartal I-2021, Sarana Menara berhasil membukukan laba yang bisa diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 789,23 miliar atau meningkat 52,08% dibandingkan kuartal I-2020 yang mencapai Rp 518,95 miliar. Perolehan laba ini terjadi seiring peningkatan pendapatan dari Rp 1,81 triliun pada kuartal I-2020 menjadi Rp 1,95 triliun pada kuartal I-2021.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN