Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi (kedua kiri), didampingi Direktur Hasan Fawzi (kiri), Direktur Laksono W. Widodo (kedua kanan) dan Direktur I Gede Nyoman Yetna memantau  pergerakan perdagangan harga saham melalui layar monitor elektronik di BEI, di Jakarta, Jumat (13/3/2020).  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Direktur PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi (kedua kiri), didampingi Direktur Hasan Fawzi (kiri), Direktur Laksono W. Widodo (kedua kanan) dan Direktur I Gede Nyoman Yetna memantau pergerakan perdagangan harga saham melalui layar monitor elektronik di BEI, di Jakarta, Jumat (13/3/2020). BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pangkas Biaya Pencatatan Awal Saham, BEI Dorong Perusahaan Agar IPO

Thereis Kalla, (nurjoni_id)  Rabu, 24 Juni 2020 | 19:35 WIB

JAKARTA, investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) dorong perusahaan di seluruh Indonesia untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham melalui kebijakan pemotongan 50% pencatatan awal saham.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan, kebijakan yang diberikan Self-Regulatory Organization (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada stakeholder pasar modal merupakan bagian dari kepedulian otoritas pasar modal terhadap kondisi yang sedang dihadapi saat ini.

“Kebijakan ini kami lakukan dalam rangka mendukung perusahaan-perusahaan yang ada di seluruh Indonesia untuk memanfaatkan pendanaan melalui IPO dan menjadi perusahaan tercatat,” jelas Nyoman di Jakarta, Selasa (23/6).

Nyoman menambahkan, kebijakan pemotongan 50% dari biaya pencatatan awal saham diharapkan dapat menjaga optimisme pasar terhadap stabilitas pertumbuhan pasar modal dan sektor keuangan nasional.

Menurut Nyoman, hingga saat ini minat perusahaan untuk IPO masih tinggi, hal tersebut tercermin dari jumlah perusahaan yang terdapat di pipeline IPO saham dan obligasi/sukuk. Sampai dengan 22 Juni 2020, terdapat 21 perusahaan yang berencana akan melakukan pencatatan saham di BEI.

Adapun secara rinci, 21 perusahaan tersebut bergerak pada beberapa sektor yang terdiri atas delapan perusahaan berasal dari sektor trade, service and investment. Lalu, lima perusahaan dari sektor property, real estate dan building construction. Sisanya, delapan perusahaan lainnya merupakan perusahaan yang bergerak pada sektor agriculture, basic industry and chemical, finance, serta consumer goods industry.

“Saat ini juga terdapat 25 issuer yang akan menerbitkan 30 emisi obligasi/sukuk yang berada dalam pipeline di BEI,” ujar Nyoman.

Selain itu, BEI juga memberikan pemotongan biaya pencatatan saham tambahan. Keringanan ini, lanjut Nyoman, bertujuan agar memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan aksi korporasi sebagai untuk memperkuat permodalan dan menjaga likuiditas perusahaan, terutama bagi perusahaan yang terpengaruh dengan kondisi ekonomi di era pandemi saat ini.

“SRO bersama OJK senantiasa akan terus melakukan koordinasi dan mengambil langkah serta strategis guna menciptakan situasi pasar modal Indonesia yang kondusif di tengah kondisi yang penuh tantangan saat ini,” kata Nyoman.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN