Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi kesepakatan bisnis. Foto: Gerd Altmann (Pixabay)

Ilustrasi kesepakatan bisnis. Foto: Gerd Altmann (Pixabay)

Penawaran Umum di Pasar Modal Dekati Rp 100 Triliun

Selasa, 3 November 2020 | 22:03 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total penawaran umum di pasar modal mencapai Rp 93,39 triliun hingga 26 Oktober 2020. Sedangkan yang masih dalam proses sebesar Rp 20,76 triliun oleh 49 emiten.

Berdasarkan data OJK, yang dikutip Investor Daily, Selasa (3/11), dari total penawaran umum sebesar Rp 93,39 triliun, sekitar Rp 44,35 triliun berasal dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) efek bersifat utang atau sukuk (EBUS) tahap II. Kemudian, sekitar Rp 27,9 triliun berasal dari PUB EBUS tahap I.

Selanjutnya, penawaran umum yang berasal dari EBUS mencapai Rp 2,57 triliun. Sisanya Rp 14,05 triliun berasal dari penawaran umum terbatas atau rights issue dan Rp 4,51 triliun dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Penawaran umum dari IPO berasal dari 45 emiten baru.

Penawaran umum ini paling banyak dilakukan oleh sektor keuangan sebanyak 47,42%, sektor infrastructureutilities, dan transportasi sebanyak 20,39%, sektor basic industry and chemical 9,19%, propertyreal estate, and construction sebanyak 4,14%, dan sisanya dari sektor lain.

Adapun emisi yang diperoleh dari penawaran umum paling banyak digunakan untuk modal kerja sebesar 57,35%, pembayaran utang sebesar 21,84%, ekspansi 10,11%, dan penyertaan 3,8%. Sedangkan sisanya untuk akuisisi dan biaya emisi.

Apabila dibandingkan dengan perolehan penawaran umum pada 2019, nilai penawaran umum baru mencapai 55,97% dari total penawaran umum pada 2019 yang mencapai Rp 166,9 triliun. Begitu juga dengan jumlah penawaran umum yang baru mencapai 78,77% dari keseluruhan tahun 2019.

Sementara itu, untuk penawaran umum yang saat ini sedang dalam proses, paling banyak berupa PUB EBUS Tahap I senilai Rp 7,43 triliun. Kemudian, berupa EBUS sebesar Rp 4,5 triliun, rights issue senilai Rp 3,61 triliun, IPO saham senilai Rp 3,44 triliun, dan PUB EBUS Tahap II senilai Rp 1,78 triliun.

Obligasi

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, outstanding obligasi korporasi mulai meningkat karena meningkatnya penerbitan obligasi korporasi dalam tiga bulan terakhir. Seiring dengan peningkatan obligasi korporasi ini, outstanding surat berharga negara (SBN) juga terus meningkat. "Penyerapan terbesar dilakukan oleh perbankan dengan total SBN yang dimiliki bank mencapai Rp 1.348 triliun," kata dia.

Lebih lanjut, Wimboh menjelaskan, investor asing perlahan mulai masuk ke pasar surat utang. Pada Oktober 2020, OJK mencatat terjadi inflow ke pasar SBN sebesar Rp 22,68 triliun.

Peningkatan inflow investor asing ini seiring dengan penguatan yield SBN yang rata-rata menurun 13,8 bps di seluruh tenor. Penguatan pasar SBN ini didukung oleh peningkatan partisipasi sektor perbankan di pasar SBN di saat permintaan kredit belum kuat.

Berbeda dengan pasar SBN, investor asing justru mencatat aksi jual sebesar Rp 3,7 triliun di pasar saham dan mencapai Rp 47,3 triliun secara year to date (ytd). Meski demikian, indeks harga saham gabungan (IHSG) tetap menguat 5,3% secara month to date (mtd) pada 27 Oktober 2020 ke level 5.128.

Sebelumnya, Direkur Penilaian Perusahaan Sektor Jasa OJK Maulana mengatakan, nilai penawaran umum tahun ini diproyeksi mencapai Rp 100 triliun. Nilai penawaran umum ini menurun dibandingkan 2019 yang mencapai Rp 166,9 triliun karena diakibatkan oleh pandemi Covid-19 yang berdampak hampir ke seluruh negara. 

Maulana menjelaskan, pandemi Covid-19 setidaknya mempengaruhi penawaran umum dalam tiga hal. Pertama adalah dari sisi supply side, pandemi Covid-19 membuat perusahaan menahan ekspansi karena adanya pelemahan ekonomi.

Kemudian, dari sisi demand side, investor cenderung wait and see karena pandemi Covid-19 meningkatkan risiko di pasar modal. Selain itu, pandemi Covid-19 membuat calon emiten dan emiten terhambat dalam melakukan penawaran umum karena adanya pembatasan kegiatan sosial.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN