Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Penawaran Umum di Pasar Modal Tembus Rp 100 Triliun

Jumat, 27 November 2020 | 21:46 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai penawaran umum sudah melebihi Rp 100 triliun atau lebih tepatnya Rp 100,1 triliun dari 149 aksi penawaran umum hingga 24 November 2020. Pandemi Covid-19 tidak menjadi penghalang bagi emiten untuk melakukan penawaran.

"Sebanyak 44 dari 149 penawaran umum dilakukan oleh emiten baru," ungkap Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangan resmi, Jumat (27/11).

Anto menjelaskan, di dalam pipeline OJK saat ini juga terdapat 58 emiten yang akan melakukan penawaran umum. Indikasi dari penawaran umum tersebut mencapai Rp 21,76 triliun.

Dengan adanya 149 penawaran umum ini, berarti terdapat satu penawaran umum baru yang dilakukan setelah 17 November 2020. Sepekan sebelumnya, total penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp 99,59 triliun dari 148 aksi .

Secara rinci, penawaran umum tersebut berasal dari 40 aksi penawaran perdana (initial public offering/IPO) saham dengan dana Rp 4,54 triliun, sebanyak 14 penawaran umum terbatas atau rights issue dengan perolehan dana Rp 16,93 triliun, dan sebanyak 94 penawaran surat utang korporasi yang bisa menghimpun dana Rp 78,15 triliun.

Emiten di sektor keuangan menguasai hampir separuh nilai penawaran umum di pasar modal, yakni mengambil porsi 47,72%. Kemudian emiten sektor infrastruktur dan transportasi 20,91%, emiten industri dasar dan kimia 9,4%, emiten pertambangan 8,73%, emiten properti, real estate dan konstruksi 4,15%, emiten pertanian 3,96% emiten jasa dan investasi 3,52%, dan barang konsumsi 1,57%, dan emiten aneka industri 0,05%. 

Sementara itu, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menjelaskan, pandemi juga tidak menjadi alasan bagi perusahaan untuk menjadi perusahaan terbuka. Data terbaru menunjukkan, sebanyak 20 perusahaan berencana melantai di bursa pada akhir 2020 atau pada awal 2021 mendatang.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, sebanyak 20 perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya paling banyak berasal dari sektor tradeservices and investment sebanyak 6 perusahaan. Kemudian dari sektor propertyreal estate and building construction sebanyak 3 perusahaan.

Perusahaan yang akan menjadi emiten di bursa juga berasal dari sektor consumer goods industry sebanyak 2 perusahaan, dari sektor miscellaneous industry sebanyak 2 perusahaan, dan dari sektor agrikultur sebanyak 2 perusahaan.

"Selanjutnya dari sektor infrastructure, utilities and transportation sebanyak 2 perusahaan, dari sektor keuangan sebanyak 2 perusahaan serta dari sektor pertambangan sebanyak 1 perusahaan," ujar Nyoman.

Bursa juga mencatat ada 10 penerbit yang akan menerbitkan 11 emisi obligasi dan sukuk. Adapun 1 dari 10 penerbit tersebut merupakan calon emiten obligasi. "Selain itu, terdapat 3 Exchange Traded Fund (ETF) di pipeline bursa," kata dia.

Emiten Infrastruktur

Beberapa perusahaan memang tercatat akan melakukan IPO. Seperti sejumlah emiten infrastruktur dan konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah mempersiapkan IPO anak usahanya.

Emiten infrastruktur pertama adalah PT Jasa Marga Tbk (JSMR) yang berencana melakukan IPO anak usahanya, yakni PT Jasa Marga Related Business (JMRB). Sekretaris Perusahaan Jasa Marga Agus Setiawan mengatakan, rencana IPO ini akan dilakukan dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut Agus, JMRB memiliki bisnis yang prospektif di bidang pengembangan kawasan di sekitar jalan tol dan usaha lainnya. Sehingga dengan melakukan IPO, JMRB bisa memiliki pendanaan yang cukup untuk mendukung hal tersebut.

Selain Jasa Marga, emiten infrastruktur lain yang akan melakukan IPO untuk anak usaha adalah PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya mengatakan, Wijaya Karya berencana melakukan IPO untuk anak usahanya, PT Wika Realty. Rencana ini sebelumnya akan dilakukan tahun ini, namun perusahaan masih menunggu kelanjutan rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan membentuk holding perhotelan.

Kemudian, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) juga akan melakukan IPO anak usaha, PT Adhi Commuter Properti (ACP) pada Juni tahun depan. Adapun target dana dari IPO tersebut adalah Rp 1,5 triliun.

Direktur Keuangan Adhi Karya Agung Dharmawan mengatakan, rencana IPO ACP memang sempat tertunda karena adanya pandemi Covid-19 dan sebab lainnya.

"Namun kami melihat adanya tanda-tanda pemulihan pada Desember 2020 dengan adanya penemuan vaksin dan lainnya sehingga sekitar April dan Juni 2021 kondisi mulai membaik dan ACP bisa melakukan IPO," kata dia.

Terakhir, emiten konstruksi BUMN yang akan melakukan IPO anak usaha adalah PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono mengatakan, rencana IPO akan dilakukan tahun depan, namun Waskita Karya belum mau menjelaskan secara detail anak usaha yang akan IPO dan juga target dana yang bisa diperoleh.

Adapun Waskita Karya memiliki empat anak usaha yang dimiliki secara langsung, yaitu PT Waskita Toll Road (WTR), PT PT Waskita Karya Realty (WKR), dan PT Waskita Karya Infrastruktur (WKI). Sebelumnya, anak usaha Waskita Karya yang lain, yakni PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) sudah melakukan IPO terlebih dahulu.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN