Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Perusahaan Menengah dan Besar Dominasi Rencana IPO

Kamis, 22 April 2021 | 21:54 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, terdapat 19 perusahaan yang berencana melaksanakan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dalam waktu dekat. Sebanyak 13 dari 19 perusahaan itu adalah perusahaan dengan skala aset menengah dan besar.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, berdasarkan pipeline BEI hingga 21 April 2021, terdapat 19 perusahaan yang sedang dalam proses evaluasi untuk melakukan IPO saham. Namun, Nyoman belum bisa menyebutkan target dana yang bisa dihimpun dari aksi tersebut karena harga penawarannya belum terbentuk.

"Untuk estimasi nilainya belum dapat kami sampaikan, karena dari 19 perusahaan tersebut belum ada yang terbentuk harga penawarannya," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (22/4). 

Sementara itu, berdasarkan klasifikasi asetnya, sebanyak 6 perusahaan yang akan melakukan IPO termasuk dalam perusahaan dengan skala aset kecil atau di bawah Rp 50 miliar. Kemudian, 8 perusahaan termasuk dalam skala aset menengah atau antara Rp 50-250 miliar, dan 5 perusahaan merupakan perusahaan aset skala besar atau di atas Rp 250 miliar.

Di lihat dari sektornya, sebanyak 2 perusahaan berasal dari sektor basic materials, 2 perusahaan dari sektor industri, 2 perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals, 6 perusahaan dari sektor consumer cyclicals, serta 2 perusahaan dari sektor properti dan real estat. Kemudian, 2 perusahaan dari sektor teknologi, 1 perusahaan dari sektor kesehatan, 1 perusahaan dari sektor energi, dan 1 perusahaan dari sektor keuangan.

Dengan adanya pipeline itu diharapkan bisa mendukung target IPO saham tahun ini yang sebanyak 54 perusahaan. Target itu sebelumnya direvisi dari 30 perusahaan karena melihat adanya perbaikan di industri pasar modal.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi menjelaskan, target yang ditetapkan sebelumnya cukup moderat apabila melihat perkembangan sejauh ini. "Dampak pandemi Covid-19 yang sebelumnya diasumsikan bisa mengurangi minat IPO saham, namun setelah melihat realisasi satu kuartal ini kami menilai tidak perlu terlalu khawatir," ujar dia.

Hasan menjelaskan, revisi target ini sejalan dengan komunikasi yang dilakukan dengan berbagai pihak, seperti anggota bursa yang akan menjadi calon underwriter yang akan melakukan IPO. Dari diskusi dan masukan yang disampaikan, manajemen berkeyakinan kuat untuk merevisi target IPO tahun ini. "Kondisi kondusif yang terjadi pada kuartal I-2021 kami harapkan juga tetap berlangsung, dan minat IPO akan terus tinggi sampai akhir tahun ini," jelas dia.

Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI Saptono Adi Junarso menambahkan, hingga 15 April 2021, sudah ada 15 emiten baru yang tercatat di BEI. Nilai penggalangan dana dari emiten baru tersebut mencapai lebih dari Rp 3 triliun atau sekitar Rp 200 miliar per satu perusahaan.

Nilai penggalangan dana dari emiten baru ini, lanjut Saptono, mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal I-2020, nilai penggalangan dana IPO sedikit menurun akibat pandemi Covid-19 dan pada kuartal I-2019 baru mencapai Rp 2 triliun. "Jadi, saat ini sudah ada sinyal perbaikan yang kami harapkan terus membaik sampai akhir tahun, targetnya Rp 30 triliun, kemungkinan bisa reach ke Rp 50 triliun lebih,” imbuhnya.

Tahun lalu, BEI mencatat sebanyak 51 emiten baru yang tercatat di bursa, lebih rendah dari 2019 yang mencapai 55 perusahaan. Berdasarkan nilai emisinya, nilai penggalangan dana dari IPO tahun lalu hanya sekitar Rp 5,2 triliun atau jauh berada di bawah capaian 2019 yang mencapai Rp 15 triliun. Meski begitu, Indonesia menduduki peringkat keenam di dunia, di bawah bursa Tiongkok (Shanghai) yang mencatatkan 180 IPO, Amerika Serikat (Nasdaq) dengan 119 IPO, Tiongkok (Shenzhen) 115 IPO, Hong Kong 99 IPO, dan Jepang 54 IPO.

Untuk mendorong minat perusahaan untuk IPO, BEI sedang merevisi peraturan untuk memudahkan proses IPO, termasuk untuk papan utama dan pengembangan. Selain itu, otoritas terus mengkaji kembali peraturan dengan memperhatikan perkembangan di bursa-bursa lain. “Sehingga kami bisa menjadi bursa yang menarik di salah satu bursa Asean lainnya, karena sekarang ini kita tidak bisa bicara Indonesia sebagai sebuah negara, tapi merupakan bagian kawasan Asean yang terintegrasi,” pungkas Saptono.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN