Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi digital. Foto: Fancycrave1 (Pixabay)

Ilustrasi digital. Foto: Fancycrave1 (Pixabay)

Revisi Aturan, BEI Akomodasi IPO 'Start-up'

Minggu, 10 Januari 2021 | 20:28 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah memfinalisasi perubahan peraturan nomor I-A tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas yang diterbitkan oleh perusahaan tercatat. Perubahan aturan ini dinilai akan mengakomodasi berbagai karakteristik emiten, termasuk perusahaan rintisan (start-up) teknologi untuk melaksanakan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan bahwa dunia bisnis terus berkembang dan berevolusi. Sebagai penyedia infrastruktur pasar modal, BEI wajib mengikuti perkembangan tersebut dan mengambil langkah melakukan adaptasi, sehingga dapat memberikan value proposition bagi calon emiten. BEI pun proaktif mendapatkan masukan mengenai kebutuhan calon emiten dan melihat acuan ke bursa-bursa global.

“Rancangan peraturan pencatatan nomor I-A ini masih dalam tahap rule-making-rule, dimana pada Desember yang lalu bursa telah melakukan public hearing dan mengundang para stakeholder untuk menyampaikan tanggapan atas rancangan peraturan tersebut,” kata dia dalam keterangan resmi.

Tahap berikutnya, kata Nyoman, BEI akan mematangkan rancangan tersebut berdasarkan masukan yang diperoleh dan menyampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pihaknya menargetkan peraturan tersebut segera rampung.

Nyoman menambahkan, dalam rancangan perubahan peraturan nomor I-A, BEI menyiapkan beberapa alternatif persyaratan pencatatan, sehingga lebih dapat mengkomodasi berbagai karakteristik perusahaan, termasuk namun tidak terbatas kepada start-up sekelas unicorn di Indonesia.

BEI berupaya menjadi lebih inklusif tidak hanya untuk perusahaan-perusahaan teknologi namun juga perusahaan lainnya yang mempunyai karakteristik beragam dalam rangka mendukung pengembangan bisnis melalui pasar modal. “Berbagai upaya yang terus kami lakukan antara lain melalui program IDX Incubator, papan akselerasi dan pengembangan peraturan serta kebijakan lainnya,” jelas dia.

Rangkaian strategi tersebut, kata Nyoman, diharapkan mendukung para perusahaan-perusahaan teknologi dan start-up untuk memanfaatkan pasar modal Indonesia sebagai rumah pertumbuhan. Sepanjang 2020, BEI telah berdiskusi dengan para founders serta manajemen perusahaan teknologi dan para pemodal seperti private equity.

Dari hasil tersebut, pihaknya optimistis para perusahaan teknologi tersebut bisa segera melakukan IPO. “Berdasarkan catatan kami terdapat dua binaan IDX Incubator yang saat ini sedang dalam proses evaluasi IPO dan masuk ke dalam pipeline,” jelas dia.

Sementara itu, hingga 4 Januari, sebanyak 28 perusahaan berada dalam pipeline BEI perihal pencatatan saham. Para perusahaan tersebut terdiri atas enam perusahaan dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi, dua perusahaan dari sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan, serta dua perusahaan dari sektor aneka industri.

Lebih lanjut, sebanyak dua perusahaan dari sektor keuangan, dua perusahaan dari sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi, satu perusahaan dari sektor agrikultur, dan satu perusahaan dari sektor tambang. Sementara 12 perusahaan tengah dalam proses evaluasi dan pemetaan sektor di BEI, ini lantaran dokumen baru diterima minggu terakhir Desember 2020.

Sebelumnya Nyoman mengatakan, BEI optimistis 2021 dapat menjadi tahun pemulihan ekonomi. Hal itu mempertimbangkan indikator-indikator ekonomi yang telah memberikan sinyal penguatan, baik di sektor riil maupun sektor keuangan sejak akhir 2020.

“Mengiringi hal tersebut dan juga melihat animo para pengusaha untuk naik ke level selanjutnya, yang tercermin dari pipeline pencatatan saham saat ini, bursa berharap landscape IPO dari berbagai jenis dan ukuran perusahaan, serta penerbitan efek melalui pasar modal semakin marak dilakukan pada 2021,” kata Nyoman.

Dia menambahkan, akan menjadi suatu kebanggaan bagi Indonesia jika jumlah IPO 2021 dapat melebihi target yang telah ditentukan dan bahkan melebihi negara Asia Tenggara lainnya. Adapun pada Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT), BEI menargetkan bisa menjaring 30 perusahaan melakukan IPO sepanjang 2021.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN