Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi start-up. (Pixabay)

Ilustrasi start-up. (Pixabay)

'Start-up' Bisa Manfaatkan Pendanaan dari Modal Ventura, ECF, dan IPO

Kamis, 22 Oktober 2020 | 13:45 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Kesulitan pendanaan menjadi kendala utama yang menyebabkan perusahaan rintisan (start-up) sulit berkembang. Namun, saat ini tersedia tiga alternatif pendanaan bagi start-up yang bisa digunakan, yakni melalui modal ventura, equity crowdfunding (ECF) dan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Opsi pertama adalah melalui modal ventura. CEO PT Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro mengatakan, pendanaan melalui modal ventura berbeda dengan pemberian kredit oleh bank. Pasalnya, perusahaan rintisan tidak memiliki aset yang bisa dijaminkan ke bank untuk mendapatkan kredit. 

"Laporan keuangan perusahaan rintisan juga banyak yang belum menunjukkan profitabilitas," kata Eddi dalam seminar Capital Market Summit and Expo (CMSE) 2020, baru-baru ini.

Oleh karena itu, perusahaan rintisan ini mencari alternatif pendanaan melalui modal ventura. Bentuk pendanaan yang dilakukan oleh model ventura adalah melalui penyertaan saham sekitar 10-20% di perusahaan bersangkutan. 

Di Mandiri Capital, perseroan menyertakan modal di perusahaan rintisan untuk memberikan modal kerja. Penyertaan modal ini bisa dilakukan selama kurang lebih 12-18 bulan hingga perusahaan tersebut bisa fund raising dan kemudian IPO.

Saat ini, sekurangnya ada 14 start-up yang sudah didanai oleh Mandiri Capital seperti Investree, Crowde, Amartha, Cashlez, LinkAja dan lainnya. Start-up ini rata-rata bergerak dalam bidang financial enabler atau bidang usaha yang masih berhubungan dengan layanan keuangan (financial services). "Dari 14 start-up yang sudah didanai, satu perusahaan sudah berhasil exit, satu sudah partial exit dan satu sudah IPO," ucap dia.

Menurut Eddi, perusahaan start-up yang bisa memanfaatkan pendanaan dari modal ventura adalah perusahaan yang berada dalam fase permulaan (early stage). Sementara pada tahap awal (seed stage), perusahaan start-up bisa memanfaatkan pendanaan dari angel investor atau ECF.

Pada fase pertumbuhan dan seterusnya, perusahaan rintisan bisa memanfaatkan sumber dana melalui fund raising dari Series A sampai Series D dan seterusnya. Setelah melalui fase ini, perusahaan start-up baru bisa melakukan IPO atau akuisisi. "Dari fase awal hingga perusahaan bisa exit membutuhkan waktu sekitar 3-8 tahun dengan target 5 tahun bisa exit atau partial exit," kata dia.

Salah satu perusahaan rintisan yang sudah melakukan IPO adalah PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH). CEO Cashlez Worldwide Teddy Setiawan Tee mengatakan, perusahaannya berdiri pada 2015 dengan fokus bisnisnya sebagai katalis pembayaran non tunai di Indonesia. Kemudian, pada September 2016, perseroan mulai beroperasi dengan 50 sampai 100 merchant.

Berbekal ide yang solutif dan founder yang berpengalaman, perseroan berhasil menggaet Sumitomo Corporation sebagai investor baru. Kemudian, seiring dengan adanya papan akselerasi di bursa, perseroan akhirnya memutuskan untuk melakukan IPO pada Mei 2020. "Melalui IPO, kami bisa mendapat dana sebesar Rp 88 miliar," terang dia.

Kepala Divisi Pengembangan Start-Up dan SMEs BEI Aditya Nugraha mengatakan, pihaknya mendukung pengembangan start-up dalam bentuk penyediaan papan khusus IPO, yakni papan akselerasi. Papan ini berbeda dengan papan utama yang ada di bursa. "Di papan akselerasi, maksimum fund raising adalah Rp 250 miliar dan aset maksimum Rp 250 miliar dan tidak dikendalikan oleh perusahaan besar," ucap dia.

Lebih lanjut, apabila perusahaan rintisan belum bisa melakukan IPO atau tidak mendapatkan pendanaan dari modal ventura, perusahaan tersebut bisa memanfaatkan ECF. Direktur Utama Santara Avesena Reza mengatakan, pendanaan dari ECF memang diperuntukkan bagi usaha yang masih berada dalam seed stage

Jenis perusahaan yang dibidik adalah sektor UMKM atau perusahaan aset skala kecil di Indonesia memang sangat membutuhkan pendanaan. Pada 2018, Avesena kekurangan pendanaan bagi UMKM mencapai Rp 1.000 triliun.

Dengan melihat hal tersebut, pihaknya ingin menjadi solusi dari pengembangan UMKM. "Saat ini, kami sudah mengumpulkan dana sekitar Rp 100 miliar dengan 232.328 pengguna terdaftar," ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN