Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (dua dari kiri) bersama Direktur Utama BEI Inarno Djajadi, Direktur Utama KPEI Sunandar (kiri) dan Direktur Utama KSEI Urip Budhi Prasetyo (kanan) dalam Diskusi HUT Pasar Modal dengan tema

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (dua dari kiri) bersama Direktur Utama BEI Inarno Djajadi, Direktur Utama KPEI Sunandar (kiri) dan Direktur Utama KSEI Urip Budhi Prasetyo (kanan) dalam Diskusi HUT Pasar Modal dengan tema " Memperluas Layanan dan Memperkuat Perlidungan Pasar Modal Untuk Semua" disela acara Media Gathering Pasar Modal 2019 di Lombok, NTB, Jumat (25/10/2019).

Taklukkan Bursa Singapura, Jumlah Emiten yang Listing di BEI Naik 25,3%

Mashud Toarik, Sabtu, 26 Oktober 2019 | 11:00 WIB

Lombok, Investor.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi jawara diantara negara-negara ASEAN dari sisi pencatatan perdana saham (listing) dalam lima tahun terakhir, atau sejak tahun 2014 hingga 2019.

BEI mencatat jumlah emiten yang listing pada tahun 2014 sebanyak 506 perusahaan, sementara hingga periode akhir Agustus 2019 total emiten di BEI telah mencapai 647 perusahaan atau menunjukan kenaikan 25,3%. Adapun per 18 Oktober 2019 BEI telah mengumpulkan sebanyak 655 emiten.

Di bawah BEI terdapat bursa Vietnam dengan pertumbuhan jumlah emiten 23,6% lalu bursa saham Thailand sebesar 16,2%. Bursa Malaysia dan Filiphina tumbuh masing-masing 1,4% dn 1,1%, posisi paling buncit adalah Bursa Singapura yang justru minus 4,8%.

Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi mengatakan selain mempu menambah jumlah emiten paling banyak, pasar saham di BEI juga memiliki pertumbuhan tingkat likuiditas yang tinggi diantara negara-negara ASEAN.

“Angka likuiditas pasar yang terekam dalam jumlah frekuensi transaksi harian di BEI tercatat mencapai 449 ribu kali transaksi per hari per akhir Agustus 2019, padahal pada tahun 2014 hanya berada di angka 213 ribu kali transaksi,” ujar Inarno di acara Media Gathering Pasar Modal di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Jumat (25/10/2019).

Kenaikan frekuensi ini menurutnya mengalahkan bursa Thailand dengan frekuensi transaksi harian sebanyak 315 ribu kali transaksi, begitu juga dengan bursa saham Malaysia sebanyak 172 ribu transaksi, bursa Filiphina sebanyak 90 ribu kali transaksi dan bursa Vietnam sebanyak 78 ribu transaksi.

Inarno meyakini angka pertumbuhan jumlah emiten di BEI akan terus menjadi yang tertinggi mengingat masih besarnya potensi pada perusahaan yang belum melakukan IPO. Kondisi ini berbeda dengan bursa Singapura yang sdah relatif terbatas.

Kinerja BEI dari sisi aktivitas transaksi menurutnya juga akan makin tinggi seiring gencarnya sosialisasi dan edukasi dalam menggaet jumlah investor baru, terutama pada kalangan generasi muda.

Pada kesempatan tersebut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hoesen mengatakan dalam melakukan pengembangan Pasar Modal Indonesia OJK melakukan tiga strategi yakni; Meningkatkan suplai di pasar dengan menambah jumlah emiten dan instrumen atau produk, lalu inisiatif penambahan dari sisi demand atau jumlah investor baru serta pengembangan infrastruktur perdagangan dan bisnis proses di pasar modal.

“Tiga ini akan terus dilakukan, serta banyak inisiatif lain yang akan dilakukan di tahun-tahun mendatang. Sementara dalam mengatisipasi pertumbuhan jumlah investor, mengharuskan OJK dan SRO meningkatkan bisnis proses yang lebih efisien,” urainya.

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA