Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi rapat. Foto: rawpixel (Pixabay)

Ilustrasi rapat. Foto: rawpixel (Pixabay)

Tetapkan Harga IPO, Kencana Energi Raup Dana Rp 290 Miliar

Farid Firdaus, Minggu, 25 Agustus 2019 | 18:01 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Kencana Energi Lestari menetapkan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) pada harga Rp 396 per saham. Alhasil, calon emiten baru ini berpeluang meraih dana segar dari IPO sebesar Rp 290,3 miliar.

Berdasarkan pengumuman PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akhir pekan lalu, perseroan menawarkan sebanyak 733,26 juta saham. Masa penawaran umum dilakukan selama 23-27 Agustus 2019. Jumlah saham yang ditawarkan tersebut terpangkas dari rencana semula yang maksimal sebanyak 977,68 juta saham.

“Bersamaan dengan IPO, perseroan mengadakan program alokasi saham karyawan sebanyak 0,17% dari jumlah saham yang ditawarkan dalam penawaran umum perdana saham atau setara 1,26 juta saham,” tulis KSEI.

PT Bahana Sekuritas, PT Mirae Asset Sekuritas dan PT RHB Sekuritas menjadi penjamin pelaksana emisi efek (lead underwriter) dalam rencana IPO Kencana Energi. Tiga lead underwriter tersebut dibantu para penjamin emisi efek, yakni PT Indosurya Bersinar Sekuritas, PT MNC Sekuritas, PT NH Korindo Sekuritas, PT Philip Sekuritas, dan PT Reliance Sekuritas Indonesia.

Sesuai rencana, tanggal penjatahan dan distribusi saham secara elektronik dilakukan masing-masing pada 29 Agustus dan 30 Agustus 2019. Sementara pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditargetkan pada 2 September 2019.

Sebelumnya, Direktur Utama Kencana Energi Lestari Henry Maknawi mengatakan, dana hasil IPO akan digunakan untuk mengembangkan bisnis perseroan di bidang pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang memiliki potensi besar seiring elektrifikasi Energi Terbarukan (EBT) di Asia Tenggara yang masih rendah “Karena tingkat elektrifikasi Indonesia yang masih rendah, kita punya peluang tingggi untuk berkembang,” kata dia, baru-baru ini.

Henry menambahkan, perseroan sedang dalam proses pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Matahari (PLTM) Madong yang direncanakan akan selesai pada kuartal III-202. PLTM ini berkapasitas 10 Megawatt yang menelan investasi sekitar Rp 300 miliar. “Dana IPO sebesar 25% akan digunakan untuk menyelesaikan proses pembangunan tersebut,” paparnya.

Selanjutnya, sisa dana IPO juga akan diserap perseroan untuk mengakusisi PLTA lain atau yang sedang terkendala biaya. Perseroan berharap dengan strategi tersebut fundamental perseroan menjadi lebih kuat.

Hingga saat ini perseroan telah membangun tiga proyek PLTA di pulau Sumatera dan Sulawesi dengan total kapasitas produksi sebesar 49 MW. Dari jumlah tersebut, proyek PLTA Pakkat berkapasitas 18 MW telah beroperasi di Sumatera Utara, sementara proyek PLTA Air Putih berkapasitas 21 MW saat ini sedang menunggu Commercial Operation Date (COD) yang dijadwalkan pada Agustus-September 2019 dan berlokasi di Bengkulu.

Sebagai informasi, pemasukan terbesar perseroan saat ini masih ditopang dari PLTA yang sudah beroperasi juga kontrak penyediaan listrik jangka panjang atau Power Purchase Agreement dengan PLN yaitu selama 20-30 tahun. Pembangunan dan pengoperasian aset pembangkit listrik dilakukan dengan pola Build-Own-Operate (BBO) maupun Build-Own-Operate-Transfer (BOOT).

Ke depan, perseroan berencana untuk dapat mengoperasikan hingga sekitar 200 MW yang berasal dari proyek-proyek PLTA diantaranya di Sumatera dan Sulawesi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA