Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang beraktivitas di sebuah sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pialang beraktivitas di sebuah sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

IHSG KEMBALI KE ZONA 6.000

Tren 'Auto Reject' Batas Atas Saham IPO Berlanjut

Senin, 1 Februari 2021 | 23:26 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Saham PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK) dan PT Damai Sejahtera Abadi Tbk (UFOE) terbang hingga terkena penolakan otomatis (auto rejection) batas atas pada pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (1/2). Saham Bank Net melonjak 34,95% ke posisi Rp 139, sementara saham Damai Sejahtera melesat 34,65% ke posisi Rp 136. Hal ini melanjutkan tren auto rejection batas atas pada saham-saham penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) tahun ini.

Bank Net dan Damai Sejahtera masing-masing merupakan emiten baru keempat dan kelima tahun ini. Sebelumnya, telah tercatat saham tiga emiten baru, yaitu PT FAP Agri Tbk (FAPA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dan PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS). Ketika hari pertama pencatatan, FAPA melejit 25% ke posisi Rp 2.300 pada 4 Januari. DCII naik 25% ke level Rp 525 pada 6 Januari. Selanjutnya, DGNS melesat 35% ke level Rp 270 pada 15 Januari.

Adapun dua emiten baru lainnya, yaitu PT Widodo Makmur Unggas Tbk dijadwalkan listing di BEI pada 2 Februari dan PT Indointernet Tbk pada 8 Februari.

Para pendatang baru ini setidaknya turut menyemarakkan perdagangan saham di BEI. Apalagi, indeks harga saham gabungan (IHSG) telah kembali menembus level psikologis 6.000 atau tepatnya ditutup menguat 3,5% ke level 6.067,54 pada perdagangan Senin (1/2).

Kemarin, sebanyak 350 saham harganya naik, 163 saham turun, dan 123 saham stagnan. Nilai transaksi harian di BEI mencapai Rp 24,02 triliun. Investor asing mencatat transaksi jual bersih (net sell) di semua pasar sebesar Rp 567,03 miliar.

Penguatan IHSG mengapresiasi data Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia periode Januari 2021 yang tercatat 52,2 atau lebih tinggi dari periode Desember 2020 yang sebesar 51,3. Selain itu, konsolidasi di pasar keuangan Asia menjadi penyebab membaiknya kinerja keuangan di pasar saham Indonesia.

Equity Analyst PT Phillip Sekuritas Indonesia Anugerah Zamzami Nasr mengatakan, tren ARA yang kerap terjadi pada saham-saham IPO diperkirakan terjadi karena saham IPO tersebut mengalami permintaan yang tinggi dari investor atau oversubscribed. Namun, sebenarnya dampak kepada IHSG tidak terlalu besar, lantaran emiten tersebut berkapitalisasi pasar kecil.

“Karena market cap kecil, volume dan nilai transaksinya juga kecil. Biasanya perdagangan saham mereka di-maintain sama investor yang menyerap saham IPO saja,” kata dia kepada Investor Daily.

Bank Digital

Bank Net Indonesia Syariah meraih dana segar Rp 515 miliar dari IPO. Perseroan melepas 5 miliar saham (37,9%) pada harga Rp 103 per saham.  PT NH Korindo Sekuritas Indonesia menjadi penjamin pelaksana emisi aksi IPO ini.

Selain mencatatkan sahamnya, perseroan juga menerbitkan 2,8 miliar waran seri I (34,17%) dengan harga pelaksanaan Rp 110 per saham. Alhasil, bila seluruh waran dieksekusi oleh para pemegang saham, Bank Net akan memperoleh tambahan modal sebanyak-banyaknya Rp 308 miliar.

Direktur Bank Net Syariah Basuki Hidayat mengatakan, pihaknya berencana untuk membuka dan mempermudah akses layanan perbankan syariah berbasis digital, agar dapat melayani seluruh lapisan masyarakat serta menjalin kerja sama dengan para pelaku industri berbasis digital. “Perusahaan akan memaksimalkan penggunaan teknologi informasi dalam mengembangkan produk-produk pendanaan, pembiayaan, dan jasa-jasa perbankan lainnya,” kata dia.

Dalam prospektus disebutkan, perseroan akan menggunakan 60% dana IPO untuk pemeliharaan IT dan penunjangnya. Sisanya 40% akan digunakan untuk modal kerja lainnya, seperti biaya pemasaran, sewa dan biaya lain-lain.

Ke depan, perseroan akan menerapkan strategi digital banking dengan target market sektor ritel. Perseroan berniat meninggalkan model bisnis lama yang selama ini telah dijalankan yaitu corporate banking. Transformasi strategi ini adalah upaya perseroan untuk dapat bersaing dalam mengantisipasi era banking 4.0 dan agar mampu bersaing dengan perusahaan fintech.

Sesuai rencana, Bank Net akan meningkatkan ekuitas menjadi di atas ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bagi bank syariah, yakni Rp1 triliun pada 2022.

Emiten Ritel

Sementara itu, Damai Sejahtera Abadi sebagai perusahan ritel produk elektronik dan furnitur meraih dana sebanyak Rp 46,2 miliar dengan melepas 457,5 juta saham (20%) kepada publik dengan harga penawaran Rp 101 per saham.

Direktur Utama Damai Sejahtera Abadi Poedji Harixon mengatakan, dana hasil IPO akan digunakan Perseroan untuk investasi penambahan tanah beserta bangunan untuk toko dan gudang di Gresik dan Banjarbaru serta sisanya akan digunakan untuk modal kerja perseroan. Dalam aksi korporasi ini, menunjuk penjamin pelaksana emisi efek yakni PT Investindo Nusantara Sekuritas, yang dibantu oleh PT Panca Global Sekuritas dan PT Danatama Makmur Sekuritas.

Menurut Direktur Investment Banking PT Investindo Nusantara Sekuritas, pada masa penawaran umum tercatat sebanyak 1.557 investor melakukan pemesanan saham UFOE. Dari total pemesanan saham yang masuk, sejumlah 1488 merupakan permintaan yang berasal dari pooling allotment, sehingga terjadi oversubscribed sebesar 38,05 kali dari jumlah saham yang ditawarkan, yang menyebabkan kelebihan permintaan sebanyak 1,37 kali dari total IPO. Berdasarkan sistem penjatahan yang ditetapkan, 99% adalah alokasi untuk penjatahan pasti dan 1% untuk penjatahan terpusat.

Damai Sejahtera berencana untuk membagikan dividen setelah IPO kepada pemegang saham dengan besaran dividen yakni sebesar 25% dari laba bersih tahun buku yang bersangkutan, dimulai 2021 berdasarkan laba bersih tahun buku 2020.

Lebih lanjut Poedji Harixon menjelaskan, bisnis utama perseroan berserta anak usahanya, PT Universal Joyo Lestari mencakup perdagangan produk-produk elektronik dan furnitur. Produk-produk elektronik yang dipasarkan oleh Perseroan merupakan barang siap pakai untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan terhadap produk dengan teknologi yang terbaru.

Produk terbagi menjadi 3 kategori, yaitu consumer electronics seperti TV, DVD, audio, dan smartphone, lalu kategori small appliance seperti setrika, blender, rice cooker, serta medium appliance seperti AC, kulkas, dan mesin cuci. Sedangkan untuk produk-produk furnitur yang diperdagangkan meliputi furnitur untuk melengkapi rumah, kantor, apartemen maupun hotel seperti baby box, spring bed, sofa dan sejenisnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN