Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI)  Laniwati Tjandra bersama Presiden Komisaris BBSI Sundjono Suriadi dan jajaran manajemen lainnya memperlihatkan Sertifikat Pencatatan Saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) usai pencatatan perdana saham perusahaan tersebut di Bandung, Senin (7/9/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas BEI

Direktur Utama PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI) Laniwati Tjandra bersama Presiden Komisaris BBSI Sundjono Suriadi dan jajaran manajemen lainnya memperlihatkan Sertifikat Pencatatan Saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) usai pencatatan perdana saham perusahaan tersebut di Bandung, Senin (7/9/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas BEI

Usai Go Public, Bank Bisnis Bersiap Ekspansi

Selasa, 8 September 2020 | 04:44 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Bank Bisnis Internasional Tbk resmi menjadi perusahaan publik setelah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) usai melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Dana hasil IPO tersebut akan digunakan untuk ekspansi bisnis, seperti pengembangan teknologi, perluasan jaringan, dan menyalurkan kredit kepada nasabah secara bertahap.

Perseroan mencatatkan sahamnya dengan porsi kepemilikan publik sebanyak 394.764.700 saham atau sebesar 15% dari jumlah modal disetor dan ditempatkan. Penawaran umum sejak 31 Agustus hingga 1 September 2020 dan tanggal pencatatan di BEI pada 7 September 2020. Dengan total nilai penawaran umum Rp 189,48 miliar dengan harga penawaran Rp 480.

Berdasarkan prospektus perseroan, Bank Bisnis Internasional yang berkode emiten BBSI ini menyebut, seluruh dana hasil IPO setelah dikurangi biaya-biaya emisi dan pengeluaran tertentu yang berhubungan dengan penawaran umum perdana, akan digunakan sebagai perluasan jaringan untuk bertujuan meningkatkan pelayanan kepada nasabah sebanyak-banyaknya sebesar Rp 15 miliar.

Perseroan akan mendirikan satu kantor cabang baru di Cirebon pada kuartal III-2021 dan satu cabang baru di Semarang pada kuartal IV-2021, serta proses renovasi atas kantor cabang perseroan yang saat ini telah beroperasi.

Kemudian, sebanyak-banyaknya sebesar Rp 18 miliar akan digunakan perseroan untuk pengembangan teknologi sistem informasi guna meningkatkan pelayanan kepada nasabah.

"Sisanya akan digunakan perseroan untuk modal kerja dalam rangka pemberian kredit kepada nasabah yang akan direalisasikan secara bertahap," jelas Manajemen Bank Bisnis, Senin (7/9).

Direktur Utama Bank Bisnis Internasional Laniwati Tjandra mengatakan perusahaan mendapatkan minat positif dari para investor dan seluruh saham yang ditawarkan dapat diserap dengan baik dengan mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 15,28 kali dari jumlah saham yang ditawarkan untuk porsi pooling, jauh melebihi ekspektasi.

"Hal ini merupakan key milestone dalam perjalanan perusahaan untuk melangkah sebagai perusahaan publik yang accountable, transparan dan bertanggung jawab kepada seluruh investor, masyarakat dan seluruh stakeholders dalam menjalankan bisnis ke depan," ungkap dia.

Menurut dia industri perbankan secara nasional masih menunjukan pertumbuhan yang baik, khususnya pada kuartal pertama sebelum pandemi, meskipun kinerja keuangan bank umum kegiatan usaha (BUKU) I secara nasional masih mengalami penurunan.

"BBSI yang masuk dalam kategori Bank BUKU I tidak mengalami penurunan kinerja keuangan baik dari segi laba bersih maupun total DPK pada kuartal I-2020," ucapnya.

Sesuai dengan target pasar perseroan, skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kredit konsumer dan kredit produktif, maka perseroan tetap berkeyakinan bahwa prospek industri perbankan ke depan khususnya UMKM, kredit konsumer dan produktif masih memiliki ruang yang sangat besar dan prospektif.

Peluang untuk memberikan kredit kepada UMKM semakin terbuka lebar dengan beberapa peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam menanggulangi resiko kredit macet yang berasal dari UMKM. Pemerintah memberikan fasilitas subsidi kredit untuk UMKM yang tertuang pada peraturan PMK 65/PMK.05/2020 mengenai subsidi bunga atau subsidi margin untuk kredit UMKM dalam rangka mendukung pelaksanaan program pemulihan ekonomi nasional.

Pada peraturan tersebut perusahaan UMKM yang dalam kondisi sesuai dengan peraturan PMK tersebut akan mendapatkan subsidi bunga dari pemerintah untuk kurun waktu 6 bulan sejak bulan Mei 2020. Hal ini akan membantu perseroan dalam meminimalisir resiko kredit macet dan membantu dalam restrukturisasi kredit yang bermasalah akibat efek dari pandemik Covid -19.

Sampai dengan kuartal I, laba bersih perseroan sebesar Rp 6,16 miliar, dengan jumlah aset mencapai Rp 985,88 miliar. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) Bank Bisnis sangat tinggi mencapai 60,29% dengan rasio kredit macet (non performing loan/NPL) gross terjaga 1,32%, untuk loan to deposit ratio (LDR) 136,19%, dan margin bunga bersih (NIM) 7,07%.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN