Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tokopedia.

Tokopedia.

Valuasi US$ 7,5 Miliar, IPO Tokopedia Bisa Dongkrak Kapitalisasi Pasar di BEI

Kamis, 22 Oktober 2020 | 14:00 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Tokopedia fokus membangun kepercayaan investor sebelum menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham nantinya. Saham salah satu e-commerce terbesar di Indonesia dengan valuasi US$ 7,5 miliar ini berpeluang masuk indeks LQ45 dan mendongkrak nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Komisaris BEI Pandu Sjahrir mengatakan, potensi start-up bervaluasi besar masuk bursa bisa terlihat dari nilai penggalangan dana yang diraih para start-up tersebut dari private equity maupun venture capital. Dalam beberapa tahun terakhir, start-up Indonesia mampu mengantongi pendanaan sekitar US$ 2-3 miliar per tahun.

“Menurut saya sebagai investor, ada beberapa nama start-up yang kalau diperingkat bukan lagi small player. Kita bisa contoh komposisi indeks MSCI yang berisi perusahaan teknologi, potensi upside saham-saham teknologi sangat besar,” kata Pandu dalam webinar Capital Market Summit and Expo (CMSE) 2020, Rabu (21/10).

Berdasarkan data yang dihimpun, kata Pandu, nilai penggalangan dana IPO start-up dengan status unicorn sangat menarik yang tercermin dari valuasi masing-masing unicorn. Semisal, saat ini valuasi Gojek diperkirakan mencapai US$ 10 miliar, Tokopedia US$ 7,5 miliar, Traveloka US$ 2,7 miliar, dan Bukalapak US$ 2,5 miliar.

Menurut Pandu, Omnibus Law UU Cipta Kerja yang baru disahkan DPR akan menjadi game changer bagi ekonomi Indonesia, termasuk sektor teknologi karena mengundang minat investor. Hal ini harus dimanfaatkan dan dilihat sebagai momentum positif, termasuk untuk pasar modal.

Pandu yang juga bergelut di sektor venture capital menyoroti pendanaan start-up yang kerap dilakukan oleh investor asing. Hal ini bisa dilihat dari dua sisi, yakni kuatnya daya tarik start-up domestik, namun juga merefleksikan ketergantungan pendanaan dari pihak luar. “Fund besar selalu datang dari luar. Jadi perlu edukasi untuk pelaku fund lokal seperti dana pensiun dan perbankan. Selama ini tantangannya memang di regulasi,” jelas Pandu.

Sementara itu, CEO Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan, pihaknya selalu berupaya membangun tim manajemen yang baik demi mendapatkan kepercayaan investor. Pihaknya berpegang teguh pada misi perseroan, yakni membawa pemerataan ekonomi secara digital.

William berharap, Tokopedia terus berkembang secara jangka panjang. Strategi perseroan adalah membangun budaya kerja seperti universitas, dimana tugas pemimpin adalah menciptakan pemimpin lain yang lebih baik. Dengan demikian, pihaknya juga berkeinginan suatu saat tidak hanya Tokopedia yang bisa melantai di bursa, tapi juga membawa brand lokal atau seller di Tokopedia menjadi perusahaan tercatat. “Kami berharap bisa menjadi platform yang melahirkan banyak brand-brand lokal melantai di bursa,” jelas dia.

Hingga saat ini, William memang belum spesifik menentukan kapan Tokopedia merealisasikan IPO. Pada 2019, William pernah mengatakan setelah 10 tahun berdiri, perseroan fokus mencapai break even point pada 2020. Tokopedia terus bertransformasi menjadi super ecosystem yang bisa mempermudah masyarakat lewat kolaborasi dengan berbagai mitra strategis

Pada Juli silam, Bloomberg sempat melaporkan bahwa Google dan Temasek Holdings dalam tahap negosiasi mengucurkan pendanaan sekitar US$ 500 juta hingga US$ 1 miliar ke Tokopedia. Para institusi tersebut akan menambah daftar investor besar Tokopedia selain Softbank.

Sementara di dalam negeri, persaingan pemain e-commerce semakin ketat. Berdasarkan data iprice.co.id, Shopee menjadi pesaing terkuat Tokopedia dalam hal kunjungan konsumen. Shopee telah menggeser posisi Tokopedia dari tempat teratas sejak kuartal IV-2019.

Pada kuartal II-2020, rata-rata pengunjung aplikasi Shopee mencapai 93,44 juta lebih pengguna per bulan, sehingga menjadikan Shopee sebagai platform e-commerce yang paling sering dikunjungi masyarakat Indonesia. Sementara, Tokopedia menduduki posisi kedua sebagai e-commerce yang paling banyak dikunjungi dengan rata-rata 86,10 juta pengunjung setiap bulan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN