Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Zooming with Primus - IPO dan Momentum Pemulihan Ekonomi, live di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV

Zooming with Primus - IPO dan Momentum Pemulihan Ekonomi, live di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV

LISTING NOVEMBER 2021

Widodo Makmur Perkasa Bidik Dana IPO Rp 5,5 Triliun

Jumat, 16 April 2021 | 14:06 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id -- PT Widodo Makmur Perkasa (WMP) membidik dana segar dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sebesar Rp 5,5 triliun. Induk usaha PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) ini menargetkan pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir November 2021.

CEO Widodo Makmur Perkasa Tumiyana mengatakan, perseroan saat ini tengah melakukan berbagai persiapan untuk IPO jumbo ini. Pendaftaran akan dimulai pada bulan Juli mendatang sehingga pada akhir November tahun ini, WMP sudah tercatat di BEI. IPO akan memakai buku Juni 2021 dan bertindak sebagai Joint Lead Underwriters (JLU) adalah PT BRI Danareksa Sekuritas. Tumiyana optimistis IPO ini akan negdisambut baik oleh para investor.

“Suasana 2021 layak secara makro untuk mencari dana yang efisien. Restrukturisasi supaya tidak masuk kesana harus cari raising fund dari luar. Pertumbuhan usaha juga harus di-develop. Jadi, Widodo Makmur Perkasa tahun ini akan IPO dengan market cap Rp 18-21 triliun. Kita akan keluar 30% dari total. Jadi, sekitar Rp 5,5 triliun,” katanya dalam acara Zooming With Primus dengan topik “Tahun Pemulihan dan Momentum IPO” yang disiarkansecara langsung di BeritaSatu TV, Kamis (15/4).

Tumiyana, CEO PT Widodo Makmur Perkasa dalam diskusi Zooming with Primus - IPO dan Momentum Pemulihan Ekonomi, live di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV
Tumiyana, CEO PT Widodo Makmur Perkasa dalam diskusi Zooming with Primus - IPO dan Momentum Pemulihan Ekonomi, live di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV

Acara yang dipandu Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu ini juga menghadirkan dua narasumber lain, yakni Direktur Utama PT BRI Danareksa Sekuritas Friderica Widyasari Dewi dan Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Saptono Adi Junarso.

Tumiyana menjelaskan, perseroan mengincar peningkatan kapasitas perusahaan dalam hal tanaman pangan dan peningkatan protein.

Melalui dana IPO, WMP akan menginvestasikan Rp 10,9 triliun dalam empat tahun ke depan.

”Investasi Rp 10,9 triliun dalam empat tahun ke depan, paling besar didominasi untuk fasilitasi WMU. Kita akan tanam jagung dan integrated farming di Sulawesi Selatan seluas 15.000 hingga 20.000 hektare (ha) untuk support WMU. Di situlah akan jadi cost reduction yang cukup besar setelah kita tanam jagung. On farm kita akan jaga di 55%,” ucapnya.

Selain di Makassar, Sulawesi Selatan, perseroan juga akan melakukan penanaman jagung di Lampung seluas 6.000 ha. Sehingga, jumlah luas tanam yang ditanami mencapai 26.000 ha dalam dua tahun ke depan atau identik dengan 55% dari bahan baku Widodo Makmur Unggas (WMU). Dengan didedikasikannya Rp 10,9 triliun untuk integrated farming, menurut Tumiyana, perseroan akan memiliki kawasan besar tanaman pangan yang didukung dengan energi terbarukan (renewable energy).

“Akan jadi kawasan besar di situ, ada tanaman jagung dan sapi. Nanti limbah jagungnya masuk ke sapi dan itu cycle-nya luar biasa. Karena saya 33 tahun di konstruksi akan mengoptimalkan renewable energy, nanti jadi dari panel surya saya combine dengan winpower. Karena satu farm di Makassar dengan luasan 20.000 ha akan memerlukan energi sekitar 20 megawatt. Jadi, cukup untuk digarap terintegrasi di dalam satu kawasan. Output-nya nanti ada sosis, bakso, item yang terkait dengan protein,” jelas Tumiyana yang pernah menjabat sebagai direktur utama PT PP (Persero) Tbk (PTPP) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA).

Minat IPO tahun 2020 dan 2021
Minat IPO tahun 2020 dan 2021

Bicara soal sektor pangan, tambahTumiyana, industri tersebut memiliki turnover  yang setara dengan sektor energi, bahkan diprediksi bisa lebih tinggi. Sektor energi memiliki turn over sekitar Rp 1.000 triliun, sedangkan sektor pangan sebesar Rp 983 triliun. Namun, dengan kenaikan tiap tahun 5,7% dengan asumsi pertumbuhan penduduk net 1,4%, maka tahun ini diprediksi turnover di sektor pangan akan tembus Rp 1.050 triliun.

”Itu akan menduduki turnover juara 1, dibandingkan konstruksi. Selain itu, industri ini (pangan) tidak akan mengalami sunset karena kebutuhan akan protein semakin meningkat. Industri ini masih bisa didorong tinggi karena permintaan beras yang akan terus naik, begitupun juga di Indonesia Timur yang konsumsinya di luar beras juga naik. Makanya WMU akan kita naikkan kapasitas rice mill-nya yang sekarang 50.000 ton per tahun menjadi 300.000 ton pada tahun depan. Apalagi, Indonesia saat ini 40% masih impor daging,” jelasnya.

Saat ini, Tumiyana menyebutkan, selain unggas, perseroan juga mengelola daging sapi di mana akan dilakukan penggemukan sebanyak 120.000 ekor dalam setahun.

Alhasil, produk turunan perseroan seperti halnya sosis, nugget, bakso dan lainnya dari saat ini berjumlah 84 item akan meningkat pesat menjadi 350 item di akhir tahun 2021. Lebih lanjut, untuk mendukung target-target tersebut, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 2 triliun tiap tahunnya. Dana tersebut tak lain untuk memproduksi bahan pangan, baik pangan untuk bahan baku protein.

Sektor perusahaan dalam pipeline BEI
Sektor perusahaan dalam pipeline BEI

Terkait kinerja, Tumiyana pun menyebut pertumbuhan pendapatannya ada di angka 400% pada 2021 dibandingkan akhir tahun lalu. Realisasinya sekitar Rp 3,1 triliun menjadi Rp 11 triliun, pada tahun depannya Rp 21 triliun. Dalam lima tahun average growth-nya di angka 42%. Peningkatan itu berasal dari lima business plan yang dimiliki antara lain dari integrated farm, integrated poultry, dan produk turunannya.

Revenue yang paling tinggi tahun ini, karena fasilitas produksi kita  semua sudah on. Jadi, penjualan tahun ini bisa meningkat luar biasa,” ungkap Tumiyana.

PT Widodo Makmur Perkasa adalah perusahaan yang memproduksi bahan pangan dan penyediaan papan. Merintis usaha feedlot sejak tahun 1995 dan dikembangkan secara profesional pada tahun 1999. WMP memulai core bussines dari usaha penggemukan sapi. Usaha ini berkembang pesat dan menempatkan WMP sebagai salah satu perusahaan penyuplai sapi bakalan terbesar di Indonesia.

Pada perkembangan selanjutnya, WMP fokus untuk mengembangkan tujuh lini bisnis sebagai core business meliputi lini bisnis livestock, meat, food and commodity, poultry, property, energy, dan capital and investment.

Animo IPO Banyak

Sementara itu, Direktur Utama PT BRI Danareksa Sekuritas Friderica Widyasari Dewi atau yang akrab disapa Kiki optimistis ekonomi Indonesia akan membaik, pertumbuhan ekonomi akan positif, setelah tahun lalu terkontraksi. Jumlah investor di pasar modal Indonesia juga meningkat. Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), sampai Februari 2021 jumlah investor pasar modal telah menembus angka 4,5 juta, naik 16,35% atau bertambah 634.000 investor baru dari posisi akhir tahun 2020. Investor pasar modal ini terdiri atas investor saham, reksa dana, dan obligasi (surat utang).

Friderica Widyasari Dewi, Dirut PT BRI Danareksa Sekuritas dalam diskusi Zooming with Primus - IPO dan Momentum Pemulihan Ekonomi, live di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV
Friderica Widyasari Dewi, Dirut PT BRI Danareksa Sekuritas dalam diskusi Zooming with Primus - IPO dan Momentum Pemulihan Ekonomi, live di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV

Faktor yang menjadi game changer pemulihan ekonomi Indonesia adalah vaksinasi Covid-19, stimulus Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN), serta implementasi UU Cipta Kerja.

Alhasil, kombinasi antara makin banyaknya minat masyarakat berinvestasi melalui pasar modal, momentum pemulihan ekonomi, tentunya sangat menarik bagi korporasi untuk mencari alternatif pembiayaan di pasar modal.

“Apalagi investor haus akan IPO membeli sesuatu di pasar perdana, ini rebutan,” ungkap Kiki.

Kiki pun mengakui, saat ini sudah banyak animo dari perusahaan yang datang ke BRI Danareksa Sekuritas untuk persiapan IPO. Saat ini, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) telah mengantongi dua mandat penawaran umum perdana (IPO) dan delapan penerbitan surat utang (obligasi) untuk semester I-2021.

”Animo untuk IPO sudah banyak yang datang ke kita. Dua itu yang sangat dekat di tech company. Salah satunya anak dari emiten besar Telkom. Adanya unsur teknologi ini cukup digemari dan investor ritel punya appetite untuk sektor teknologi ini. Yang lain banyak datang ke kita untuk bantu lihat bukunya, dari sektor teknologi, konsumer, jasa, dan lainnya. Kita cukup optimis tahun ini semakin membaik,” kata Kiki.

Zooming with Primus - IPO dan Momentum Pemulihan Ekonomi, live di BeritasatuTV,
Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - IPO dan Momentum Pemulihan Ekonomi, live di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV

Lebih lanjut, guna mendorong minat perusahaan untuk IPO, BRIDS secara aktif terus memberikan sosialisasi mengenai manfaat dari IPO. Anak usaha dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) itu pun aktif ikut serta dalam roadmap transformasi BUMN dan membuka hubungan dengan asosiasi pengusaha.

”Selama ini kita berpikir mereka sudah tahu bagaimana IPO di pasar modal, kenyataannya banyak yang belum paham dan mengira proses IPO rumit dan berbelit-belit dan mereka merasa cukup terintimidasi dengan peraturan-peraturan. Tapi, dengan pendekatan yang kami lakukan, kami cukup optimis bisa dapat banyak prospek dari asosiasi pengusaha,” ungkapnya.

Kiki menambahkan, suplai perusahaan terbuka harus terus digenjot, supaya banyak perusahaan yang masuk ke pasar modal Indonesia. Hal itu juga diperlukan agar pasar modal Indonesia berkembang secara berkelanjutan, seiring pemahaman investor ritel yang makin baik.

Prospek IPO 2021

Sementara itu, Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Saptono Adi Junarso, menyebutkan, hingga 15 April 2021, sudah 15 emiten baru yang listing di BEI.

Saptono Adi Junarso, Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dalam diskusi Zooming with Primus - IPO dan Momentum Pemulihan Ekonomi, live di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV
Saptono Adi Junarso, Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan Tercatat PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dalam diskusi Zooming with Primus - IPO dan Momentum Pemulihan Ekonomi, live di BeritasatuTV, Kamis (15/4/2021). Sumber: BSTV

Sedangkan per 12 April 2021 terdapat 20 perusahaan dalam proses evaluasi pencatatan saham BEI atau pipeline. Ke-20 perusahaan itu masing -masing 3 perusahaan berasal dari sektor basic materials, 2 dari sektor industrials, 1 dari sektor consumer non-cyclicals, 6 dari sektor consumer cyclicals, 3 dari sektor properties & real estate, 3 dari sektor technology, dan 2 dari sektor energy.

Sementara itu, sebanyak 5 perusahaan masuk ke skala kecil dengan aset di bawah Rp 50 miliar, 11 skala menengah dengan aset Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar, dan 4 skala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar. BEI masih menunggu perusahaan BUMN maupun entitas anak BUMN untuk masuk bursa.

“Di 2021 per hari ini sudah 15 perusahaan tercatat di BEI. Sinyal perbaikan sudah mulai kelihatan dari sisi nilai saham yang dicatatkan sudah capai lebih dari Rp 3 triliun, artinya per perusahaan lebih dari Rp 200 miliar dan ini meningkat beberapa tahun terakhir. Pada 2019 tertinggi di kuartal pertama sekitar Rp 2 triliun, namun pada 2020 karena pandemic jadi turun. Jadi, saat ini sudah ada sinyal perbaikan yang kami harapkan terus membaik sampai akhir tahun, targetnya 30 (IPO), kemungkinan bisa reach ke 50 lebih,” kata Saptono.

Upaya OJK dan SRO hadapai pendemi Covid-19
Upaya OJK dan SRO hadapai pendemi Covid-19

Tahun lalu, Saptono menyebutkan, BEI mencatatkan penurunan aktivitas IPO dengan total emiten baru 2020 sebanyak 51 perusahaan, lebih sedikit dibandingkan tahun 2019 sebanyak 55 perusahaan. Berdasarkan nilai fund rising, akumulasinya juga tercatat menurun yaitu hanya Rp 5,5 triliun pada tahun lalu, atau jauh berada di bawah capaian tahun 2019 yang mencapai Rp 15 triliun. Meski begitu, Indonesia menduduki peringkat ke-6 di dunia, di bawah bursa Shanghai yang mencatatkan 180 IPO, Nasdaq dengan 119 IPO, Shenzhen 115 IPO, Hong Kong 99 IPO, dan Jepang 54 IPO.

Di sisi lain, untuk mendorong minat perusahaan melangsungkan IPO, dia menegaskan bahwa BEI sedang merevisi peraturan untuk memudahkan proses IPO, termasuk untuk papan utama dan pengembangan.

Selain itu, otoritas juga terus melakukan sosialisasi dan awareness untuk melihat kembali peraturan dengan memperhatikan perkembangan di bursa-bursa lain. “Sehingga kami bisa menjadi bursa yang menarik di salah satu bursa Asean lainnya, karena sekarang ini kita tidak bisa bicara Indonesia sebagai sebuah negara, tapi merupakan bagian kawasan Asean yang terintegrasi,” ungkap Saptono. (jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN