Menu
Sign in
@ Contact
Search
Belanja barang melalui online sudah menjadi bagian dari gaya hidup masa kini. Apalagi, sana sudah banyak gerai online yang hadir lewat platform marketplace dengan aneka produk tersedia.

Belanja barang melalui online sudah menjadi bagian dari gaya hidup masa kini. Apalagi, sana sudah banyak gerai online yang hadir lewat platform marketplace dengan aneka produk tersedia.

2022, GMV e-Commerce Indonesia US$ 56 Miliar

Selasa, 20 September 2022 | 21:25 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Laporan tahunan SYNC Asia Tenggara Meta dan Bain & Company yang bertema “Ekonomi Digital dan Masa Depan e-Commerce di Wilayah Asia Tenggara”, menyebutkan, prospek belanja digital di Indonesia masih tetap positif, dengan nilai barang dagangan bruto pada sistem perdagangan elektronik (e-commerce gross merchandise nalue/GMV) naik menjadi US$ 56 miliar pada 2022.

Hal itu sebagian besar didorong oleh pertumbuhan stabil populasi konsumen digital di Tanah Air yang merupakan tertinggi di antara Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Indonesia kini punya sekitar 168 juta konsumen digital yang mencakup sekitar 46% dari populasi berusia 15 tahun ke atas.

“(Jumlah) itu sedikit lebih tinggi dari angka tahun lalu sebanyak 154 juta, berarti ada tambahan 14 juta konsumen digital,” ujar Partner di Bain & Company Edy Widjaja di Jakarta, Selasa (21/9/2022).

Baca juga: Menteri Johnny Ungkap Potensi Dahsyat Ekonomi Digital

Sementara itu, hampir tiga tahun memasuki masa pandemi Covid-19, konsumen digital Indonesia masih terus mengandalkan beragam kanal (omnichannel) untuk tetap dapat menikmati belanja online dan berkunjung ke toko-toko di pusat perbelanjaan.

Menurut laporan tahunan SYNC Asia Tenggara Meta dan Bain & Company, lebih dari 80% konsumen Indonesia yang menjalani proses pra dan pascapembelian menganggap saluran online serta channel offline masih sangat penting pada saat tahap pembelian.

Asia Tenggara

Pertumbuhan tersebut juga seiring dengan prospek keseluruhan kawasan Asia Tenggara yang tetap positif dengan GMV e-commerce diperkirakan tumbuh menjadi US$ 129 miliar tahun 2022 dari US$ 112 miliar pada 2021, serta diperkirakan terus naik menjadi US$ 280 miliar tahun 2027.

Total populasi konsumen digital di Asia Tenggara masih terus bertumbuh dan diperkirakan mencapai 370 juta orang pada akhir 2022, di mana 82% dari total populasi berusia 15 tahun ke atas. Angka ini juga diproyeksikan meningkat lebih lanjut menjadi 402 juta orang tahun 2027.

“Evolusi baru konsumen digital ini tidak diragukan lagi akan menjadi kekuatan pendorong pertumbuhan nilai GMV e-commerce Asia Tenggara” imbuh Edy.

Dengan profil demografis jangka panjang yang menguntungkan dan karena Asia Tenggara memimpin dalam adopsi teknologi masa depan, lanjut dia, pebisnis disarankan fokus untuk tetap berada di jalur yang tepat di wilayah ini.

Karena itu, pelaku bisnis yang mampu membangun strategi kanal yang terintegrasi dan kapabilitas yang diperlukan, memiliki rantai pasokan yang tangguh, dan memanfaatkan alat dan teknologi terbarukan untuk terlibat dengan konsumen digitalnya akan muncul sebagai pemenang.

Hal itu ditopang oleh prospek jangka panjang Asia Tenggara yang masih terus menguat dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan domestik bruto (PDB) dari 2022 hingga tahun 2023, melampaui sebagian besar pasar lain, seperti Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Tiongkok.

Studi pun menunjukkan bahwa Asia Tenggara diperkirakan mampu mempertahankan proyeksi pertumbuhan 5,1% dibandingkan pasar lain, seperti AS (1,3%), Uni Eropa (2,1%), dan Tiongkok (4,7%) pada akhir tahun 2023.

Tingkat inflasi tahunan di Asia Tenggara pada 2022 hingga 2023 juga diperkirakan lebih baik daripada sebagian besar kawasan lain, dengan proyeksi menurun dari 4,2% menjadi 3,3% pada akhir 2023.

Konsumen Indonesia

Country Director Meta di Indonesia Pieter Lydian menambahkan, temuan penting lainnya dalam studi tersebut adalah konsumen digital Indonesia memanfaatkan banyak saluran yang terintegrasi, seperti video dan pesan bisnis (business messaging) dalam proses pembelian.

“Kami melihat video dan business messaging bertumbuh dan memainkan peranan penting dalam pembelian konsumen di Tanah Air. Orang Indonesia menghabiskan 44% lebih banyak waktu untuk mengkonsumsi video dan 55% lebih banyak
waktu untuk mengirim pesan,” ujar Pieter.

Baca juga: Ekonomi Digital RI Bakal Tembus Rp 4.818 Triliun, BUMN Gelar Startup Day 2022

Pelaku bisnis dan pemilik brands pun dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk memberikan pengalaman berbelanja yang mulus dan terintegrasi yang memungkinkan konsumen melangkah antara channel online dan offline dengan lancar di era endemik dunia ini.

“Vital bagi bisnis untuk terhubung dan bertemu pelanggan di mana mereka berada, sehingga mendorong pengalaman pelanggan ritel yang lebih memikat,” kata Pieter.

Sementara itu, lebih dari 30% responden Indonesia mengatakan video merupakan salah satu dari tiga saluran teratas untuk menemukan dan mengevaluasi produk.

Hal tersebut adalah pembuktian dari adanya keinginan kuat konsumen untuk bereksperimen dan ikut terlibat yang mendorong munculnya pesan bisnis (business messaging) dan konsumsi video di ruang belanja digital.

Sementara itu, saluran teratas untuk penemuan video pendek adalah iklan media sosial, postingan media sosial yang organik, dan iklan streaming video.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com