Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Kejahatan Siber. (The Free Media)

Ilustrasi Kejahatan Siber. (The Free Media)

3 Sektor di Indonesia Rentan dari Serangan Siber

Rabu, 15 September 2021 | 19:45 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Lembaga dan organisasi di Indonesia rentan mengalami serangan siber, atau 746% lebih tinggi dari rata-rata kejadian secara global. Tiga sektor/industri yang disebut paling rentan dan terdampak serangan siber terdiri atas pemerintah/militer, manufaktur, dan perbankan.

Ketiga sektor tersebut secara berurutan menerima 686%, 403%, dan 313% lebih banyak serangan per pekan jika dibandingkan dengan rata-rata global. Kesimpulan ini merujuk kepada kesimpulan Threat Intelligence Report yang dirilis oleh Check Point Software Technologies Ltd.

Beberapa di antara banyak ancaman siber yang dihadapi, jenis eksploitasi kerentanan (vulnerability exploit) yang paling umum adalah Remote Code Execution yang telah berdampak kepada 62% organisasi dalam enam bulan terakhir.

Remote Code Execution merupakan serangan siber yang terjadi ketika penyerang mengeksekusi perintah dari jarak jauh terhadap perangkat korban, atau target, biasanya setelah host mengunduh aplikasi penyusup berbahaya (malware).

"Banyak organisasi di Indonesia rentan terhadap serangan siber karena tidak memiliki perlindungan yang memadai, atau masih bergantung pada teknologi yang sudah ketinggalan," kata Country Manager Indonesia, Check Point Software Deon Oswari, dalam keterangannya, Rabu (15/9).

Karena itu, Check Point Software mendesak semua organisasi di Indonesia untuk meninjau kembali strategi keamanan siber dan kesterilan sistem keamanannya untuk menghindari menjadi korban dari kebocoran data besar (mega breach) siber berikutnya.

Dalam dua tahun terakhir, lanjut dia, telah terjadi sejumlah kasus kebocoran data di Indonesia yang menimpa aplikasi lembaga pemerintah hingga e-commerce. Check Point Software pun merekomendasikan langkah-langkah berikut agar organisasi, atau perusahaan dapat terlindungi di dunia maya.

Pertama, edukasi merupakan komponen penting dari proteksi. Banyak serangan siber dimulai dari e-mail yang bisa saja tidak mengandung malware, tetapi didesain untuk memikat penerima e-mail agar mengklik tautan berbahaya. Karena itu, edukasi bagi pengguna merupakan salah satu bagian terpenting dari proteksi.

 Kedua, memperkuat proteksi email. Sebesar 91% fail berbahaya di Indonesia dikirim melalui e-mail. Sedanngkan jenis fail paling berbahaya yang diterima lewat e-mail terdiri atas.xlsx (38%), diikuti oleh .rtf (19%), dan .docx (17%).

 Itulah sebabnya, mengapa penting bagi sebuah organisasi, atau perusahaan untuk memperkuat keamanan e-mail-nya, terutama saat memindahkan e-mail dari host lokal ke cloud.

Antisipasi Lain

Selanjutnya, ketiga, memasang mode updates dan tambalan keamanan (patches) secara berkala. Pada Mei 2017, ransomware WannaCry menyerang sederet organisasi dan perusahaan di seluruh dunia, serta mampu menginfeksi lebih dari 200.000 komputer dalam jangka waktu tiga hari.

Padahal, patch untuk EternalBlue exploit yang digunakan ransomware ini sebenarnya telah tersedia selama sebulan sebelum serangan terjadi. Karena itu, penting untuk selalu memperbarui updates dan patches secara otomatis.

Keempat, utamakan pencegahan karena pendekatan yang mengutamakan deteksi saja tidaklah cukup. Selain tertarget, serangan siber juga terampil menghindari deteksi. Jika data berhasil dicuri, kerugian finansial organisasi, atau perusahaan pun menjadi tinggi.

Kelima, perangkat anti-ransomware akan mengawasi aktivitas yang tidak biasa, seperti membuka dan mengenkripsi fail dalam jumlah besar. Jika ada perilaku mencurigakan yang terdeteksi, fitur ini dapat segera bereaksi dan mencegah kerusakan besar.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN