Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi kabel fiber optik untuk fixed broadband. (IST)

Ilustrasi kabel fiber optik untuk fixed broadband. (IST)

Pasar Fixed Broadband Indonesia Perlu Digarap Serius

Rabu, 15 September 2021 | 22:39 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Indonesia membutuhkan komitmen yang kuat dan serius untuk mengembangkan jaringan internet kabel berbasis pita lebar/fiber optik (fixed broadband) yang pasarnya baru tergarap sekitar 4%. Investasi yang dibutuhkan besar dan tantangannya juga tak mudah karena Indonesia merupakan negara kepulauan.  

Berdasarkan data World Bank, penetrasi pasar fixed broadband di Indonesia pada 2021 masih sangat kecil, yakni baru mencapai 4% terhadap populasi yang mencapai sekitar 270 juta. Padahal, dunia semakin digital dan koneksi internet yang stabil semakin amat dibutuhkan.

Koneksi internet berkecepatan tinggi dan stabil bisa diperoleh dari koneksi fixed broadband, dan bukan seluler (mobile broadband). Karena itu, koneksi fixed broadband juga cocok untuk memenuhi kebutuhan bisnis, perniagaan, edukasi, dan hiburan ketimbang mobile broadband.

Karena tuntutan yang kian besar dari konsumen, perusahaan penyedia layanan internet (internet service provider/ISP) yang sekarang mayoritas masih mengandalkan teknologi mobile broadband juga diyakini bakal berlomba untuk merambah ke bisnis jaringan fixed broadband.

Hanya saja, menurut Group Deputy CEO Spire Research and Consulting Jeffrey Bahar, persoalannya, Indonesia berbeda dengan negara lain yang lebih kecil dan bukan negara kepulauan. Upaya menggelar jaringan fixed broadband di Indonesia yang terdiri atas 17.000-an pulau dari Sabang sampai Merauke tidaklah mudah.

“Karena itu, dibutuhkan komitmen yang besar dan keberanian dalam mengambil risiko bagi perusahaan ISP untuk menggelar jaringan fixed broadband di Tanah Air,” kata Jeffrey, dalam pernyataannya, Rabu (15/9).

Menurut dia, setidaknya ada empat faktor yang mengharuskan perusahaan ISP menaruh komitmen besar untuk itu. Pertama, butuh cost of investment yang cukup mahal.

Karena Indonesia amat luas dan berkepulauan, perusahaan ISP harus siap dengan modal besar untuk membangun jaringan fixed broadband, termasuk tulang punggung (backbone) dan kabel laut, demi menjangkau pelanggan yang lebih banyak.

Kedua, kebutuhan pasar yang bersifat lokal. Meski dunia digital bersifat tanpa batas, kebutuhan pasar antardaerah cenderung berbeda-beda, sehingga harus dilayani secara berbeda pula. Ketiga, pemain lokal yang tak sedikit mengakibatkan kompetisinya sengit.

Keempat, tingkat penngembalian investasinya (return on investment/RoI) lama. Karena berbekal modal yang besar dengan tingkat kompetisi pasar yang ketat, perusahaan ISP harus siap memperoleh RoI dalam jangka waktu yang lama.

Dominasi IndiHome

Empat faktor itulah yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan ISP berbasis teknologi fixed broadband yang sudah ada. Bahkan, hal tersebut juga dirasakan oleh pemimpin pasar (market leader) seperti IndiHome yang ditawarkan oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

“IndiHome, meski sudah menguasai 81% pangsa pasar fixed broadband nasional, saya yakin juga tidak sedang dalam kondisi tenang-tenang saja,” tambah Senior Manager Spire Research and Consulting Albertus Edy Rianto.

Sebagai perusahaan plat merah, IndiHome juga harus menjaga konsistensi dan meningkatkan layanan demi memberikan pengalaman pelanggan (customer experience) yang lebih baik lagi, memperbaiki cost per bandwidth, dan lainnya.

Karena itu, dibutuhkan kebijakan yang komprehensif dari pemerintah untuk mempercepat penetrasi pasar fixed broadband nasional. “Salah satu caranya barangkali dengan menerapkan model infrastructure sharing, seperti halnya base transceiver station (BTS) di telekomunikasi seluler,” pungkas Edy.

Spire Research and Consulting merupakan perusahaan riset pasar dan konsultasi bisnis terkemuka global, terutama di negara-negara berkembang. Perusahaan yang didirikan di Singapura pada 2000 tersbut kini memiliki kantor perwakilan di semua negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, dengan kantor pusat ada di Tokyo, Jepang.

 

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN