Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seluruh kabupaten & kota di Indonesia sudah terhubung jaringan internet cepat

Seluruh kabupaten & kota di Indonesia sudah terhubung jaringan internet cepat

Pemda Jangan Menjadi Kendala Pembangunan Infrastruktur Digital

Jumat, 26 November 2021 | 13:38 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id) ,Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com) ,Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah daerah berperan penting dalam mengurangi kesenjangan infrastruktur digital, terutama di wilayah Indonesia bagian timur. Selama ini, pemerintah daerah acap menjadi kendala dalam percepatan pembangunan hard digital infrastructure di daerah.

Meski sudah mengantongi izin dari Kemenkominfo, investor belum bisa membangun infrastruktur digital yang dibutuhkan akibat regulasi di daerah yang tidak mendukung dan ulah pemda yang meminta ‘fee’ di depan.

Untuk mencapai Indonesia sebagai digital nation diperlukan beberapa syarat utama, salah satunya infrastruktur digital. Jadi, infrastruktur dan konektivitas ini prasyarat, harus ada dulu, baru bisa lainlain kita utilisasi, kita manfaatkan, kita kembangkan,” ujar Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kemenkominfo Ismail dalam acara Launching Indonesia Digital Infrastructure Report, Kamis (25/11). Launching laporan tersebut merupakan rangkaian acara Economic Outlook 2022 yang diselenggarakan BeritaSatu Media Holdings, pada Senin (22/11) hingga Kamis (25/11).

Ismail, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kemenkominfo  dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2021 hari ke-4 bertema Indonesia Digital Infrastructure Report Launching di Jakarta, Kamis (25/11/2021) Foto: BeritasatuPhoto/Emral Firdiansyah
Ismail, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kemenkominfo dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2021 hari ke-4 bertema Indonesia Digital Infrastructure Report Launching di Jakarta, Kamis (25/11/2021) Foto: BeritasatuPhoto/Emral Firdiansyah

Hadir pula antara lain Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerald Plate, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim, Deputy CEO BeritaSatu Media Holdings Anthony Wonsono, Direktur Sumber Daya Kemendikbud Ristek Mohammad Sofwan Effendi, dan Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini.

Selain itu, Tim Penyelia Indonesia Digital Infrastructure Report 2021 Rudiantara, Alex J Sinaga, Onno W Purbo, dan Bayu Prawira Hie, serta Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu.

Ismail mengatakan, perubahan mindset pemerintah memfasilitasi pembangunan infrastruktur harus dilakukan. Ini terutama oleh pemerintah daerah (pemda) yang sering mengeluhkan belum tersedianya koneksi infrastruktur digital yang dibutuhkan. Hal ini sangat penting untuk mendorong operator telko masuk ke daerah, agar capex yang sudah tersedia untuk membangun infrastruktur bisa di-deliver dengan cepat.

“Kami dari pemerintah pusat, sekarang sangat aktif untuk turun melakukan edukasi dengan temanteman pemda. Untuk mengubah mindset-nya, dari yang pendekatan mendapatkan PAD di depan, menjadi fasilitator menyiapkan kemudahan- kemudahan, regulasi, dan percepatan bisnis proses. Sehingga, tidak ada wasting time dari teman telko yang sudah menyiapkan infrastruktur. Ini penting sekali dan tidak boleh ada retribusi- retribusi yang aneh-aneh yang muncul, yang ingin segera dapat PAD di depan. Ini akan membuat pembangunan akan melambat,” ungkap Ismail.

Ismail mengatakan lebih lanjut,terkait infrastruktur digital ini terdapat tiga kriteria utama yang harus dipenuhi, yaitu harus tersedia di mana saja, kualitas bagus, serta affordable price. Sebab, tarif layanan digital harus terjangkau masyarakat.

“Pokoknya di mana-mana harus connect, sampai di pelosok Tanah Air harus bisa connect ke digital. Kedua, kualitasnya dituntut meningkat, karena aplikasi, lifestyle, dan sebagainya yang berkembang membuat kita enggak bisa hanya menyiapkan infrastruktur yang biasa-biasa. Tetapi, harus kuat perencanaannya, sehingga bisa adaptif dengan perkembangan kebutuhan itu. Ketiga, enggak bisa mahal juga atau harganya enggak terjangkau masyarakat. Saya enggak bisa bilang murah-mahal, karena itu relatif, tetapi affordable dengan kemampuan masyarakat,” ujar Ismail.

Ismail menuturkan, pemerintah sudah mematok sekitar 5% dari pendapatan masyarakat per bulan untuk belanja digital. Angka ini termasuk yang murah di seluruh dunia. Oleh karena itu, diperlukan strategi agar angka ini bisa bertahan, tetapi kualitasnya meningkat.

“Ini tiga-tiga yang membuat agak berat. Kalau ARPU bisa Rp 100.000 saja sebulan, itu sudah bagus sekali. Tetapi sekarang masih di kisaran Rp 30-40 ribu. Jadi bagi para investor, para operator, juga berat sekali untuk investasinya dengan tekanan price yang demikian,” ungkap Ismail.

Smart Regulation

Pengguna internet terus meningkat walau belum merata
Pengguna internet terus meningkat walau belum merata

Ismail menerangkan, kehadiran pemerintah dalam strategi digitalisasi adalah menjadi smart regulation. Sehingga, pembangunan infrastruktur digital bisa berjalan cepat dan sesuai dengan kriteria yang disebutkan.

“Bagaimana posisi pemerintah ini? Pemerintah memang harus smart regulation. Jangan sampai pemerintah salah posisi, sehingga penyiapan infrastruktur tidak bisa cepat dan sesuai dengan kriteria tadi,” ujar Ismail.

Terkait peran pemerintah dalam menerapkan strategi sebagai smart regulation, Ismail menyebut, pertama harus availability. Pasalnya, pada dasarnya harus berprinsip no man left behind. 

Enggak boleh ada yang enggak bisa connect. Pemerintah secepatnya harus mengubah posisinya. Yang tadinya waiting para operator untuk membangun, sekarang enggak bisa. Sekarang pemerintah harus chip in dan meningkatkan APBN. Chip in ikut membangun terutama di daerah 3T, yang 12.500 desa,” kata Ismail.

Lalu di layer berikutnya, lanjut dia, adalah backbone (jaringan tulang punggung), terutama akses internet.

Jangan sampai ada yang tidak dapat akses dan akses ini setidaknya jaringan 4G, karena dengan 4G berarti bisa connect ke data.

“Pemerintah akhirnya posisi baru ke sekarang ini, yaitu langsung meningkatkan APBN dan ikut serta membangun. Tetapi, kita tetap harus waspada, kita membangun bukan mau menjadi operator, tidak. Kita membangun untuk mempercepat penyediaannya, operasinya tetap dijalankan oleh teman-teman operator. Ini yang strategi pertama. Artinya, reposisi peran pemerintah yang tadinya di posisi regulator, sekarang menjadi investor juga untuk membangun, menyiapkan infrastruktur yang terlalu lama kalau kita menunggu players, telko operator, untuk sampai ke pelosok-pelosok yang secara ekonomi tidak feasible,” ungkap Ismail.

Selanjutnya adalah strategi policy dan regulasi yang tepat. Jangan sampai nanti terdapat policy dan regulasi yang tidak mendorong efisiensi dan kualitas operator telekomunikasi.

“Kata kuncinya sekarang efisiensi, karena operator sekarang ini tidak dalam kondisi yang baik-baik saja, serangan dari over the top (OTT) yang mengambil porsi pendapatan telko operator ini luar biasa. Belum lagi turunnya legacy pendapatan dari SMS dan voice yang tajam sekali dan membuat mereka harus reposisi dari telko operator biasa menjadi digital operator,” ungkap Ismail.

Infrastruktur Lunak (Software)

COO BSMH Anthony Wonsono. Foto: SP/Joanito De Saojoao
Deputy CEO BeritaSatu Media Holdings Anthony Wonsono. Foto: Joanito De Saojoao

Anthony Wonsono mengatakan, Indonesia harus membangun baik infrastruktur keras (hardware) maupun infrastruktur lunak (software).

Untuk ikut berpartisipasi membantu penyediaan data, BeritaSatu Media Holdings meluncurkan Laporan Infrastruktur Digital Indonesia (Indonesia Digital Infrastructure Report) 2021.

“Laporan tersebut mengupas lengkaptentang pembangunan infrastruktur digital Indonesia, baik infrastruktur keras maupun infrastruktur lunak. Penulisan laporan juga diampu oleh Dewan Penyelia yang mumpuni, yang terdiri atas Rudiantara sebagai ketua, yang merupakan Menkominfo RI 2014-2019, Alex J Sinaga (mantan dirut Telkom), Alexander Rusli (mantan dirut Indosat Oredoo), serta pakar/akademisi Onno W Purbo dan Bayu Prawira Hie,” kata Anthony.

Ia mengatakan, penerbitan Indonesia Digital Infrastructure Report 2021 disusun oleh tim riset BeritaSatu selama empat bulan, yang dipimpin oleh Dion Bisara. BSMH terpanggil untuk menerbitkan laporan tersebut, karena selama ini laporan terkait infrastruktur digital hampir tidak ada, atau kalau pun ada masih parsial atau sepotong-sepotong. Sedangkan yang mengenai ekonomi digital sudah banyak.

“Penulisan pertama dari laporan sekitar 100 halaman tersebut mulai diproses pada Mei-Juni 2021. Laporan ditulis dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris, agar bisa lebih dipahami oleh berbagai pihak dan kalangan di Tanah Air dan luar negeri,” ujar Anthony.

Dia melanjutkan, framework dari Indonesia Digital Infrastructure Report dibagi dalam dua kategori besar, yaitu infrastruktur digital infrastruktur keras dan infrastruktur lunak dengan komposisi kupasan hardware mencapai 70-80% dan software 20-30%. Pada infrastruktur perangkat keras, Indonesia di antaranya telah dan sedang membangun fiber optik Palapa Ring, pembangunan pusat data (data center), pengadaan satelit, dan upaya migrasi TV terestrial analog ke digital (analog switch off) dengan target tuntas 2 November 2022.

Kekurangan Jutaan Talenta Digital

Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2021 hari ke-4 bertema Indonesia Digital Infrastructure Report Launching di Jakarta, Kamis (25/11/2021) Foto: BeritasatuPhoto/Emral Firdiansyah
Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2021 hari ke-4 bertema Indonesia Digital Infrastructure Report Launching di Jakarta, Kamis (25/11/2021) Foto: BeritasatuPhoto/Emral Firdiansyah

Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan, Indonesia masih kekurangan jutaan talenta digital. Padahal, Bank Dunia memperkirakan ekonomi digital Indonesia akan berkembang delapan kali lipat pada 2030.

“Saat ini, Indonesia masih kekurangan jutaan talenta digital dalam memenuhi aspirasi Indonesia menjadi negara ekonomi digital. Kemendikbudristek meyakini kebutuhan tersebut bisa terpenuhi, bila kita melakukan perubahan drastis dalam sistem pendidikan,” ujar dia.

Menurut Nadiem, perubahan drastis itu sedang diupayakan melalui program-program prioritas Merdeka Belajar, seperti Digitalisasi Sekolah dan Kampus Merdeka. Kedua, kata Mendikbud, adalah mengembangkan sejumlah platform digital pendidikan yang membantu guru dan sekolah guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Melalui program Digitalisasi Sekolah, saat ini, kami fokus pada inisiasi untuk mendistribusikan berbagai peralatan sekolah, seperti laptop, jaringan internet, dan projector.

Di tengah masa pandemi Covid-19, Kemendikbudristek menyiapkan platform Belajar dan Berbagi. Platform ini menjadi ruang bagi guru di Indonesia untuk belajar dari pengalaman dan praktik. Para guru berbagi materi dan modul untuk mengembangkan pembelajaran di dalam kelas,” tuturnya.

Nadiem mengungkapkan, sudah lebih 1,1 juta guru yang berlangganan hampir 200.000 postingan di platform tersebut. Meski sudah banyak sekolah dan guru bergabung dalam platform tersebut, pihaknya juga akan terus menghadirkan inovasi lain di bidang teknologi.

“Akhir tahun ini, kami akan meluncurkan suatu aplikasi pendidikan untuk mendukung guru untuk mengembangkan pembelajaran dan kariernya. Selain guru belajar dan berbagi, tahun ini, Kemendikbudristek melakukan pembaruan pada platform yang membantu kepala sekolah berbelanja barang dan jasa secara lebih aman dan akuntabel. Platform tersebut juga mendukung para UMKM untuk menjadi penyedia barang dan jasa, sehingga mendorong perkembangan ekonomi di masyarakat,” ujarnya.

Akselerasi Ekonomi

Menkominfo Johnny G Plate dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2021 hari ke-4 bertema Indonesia Digital Infrastructure Report Launching di Jakarta, Kamis (25/11/2021) Foto: BeritasatuPhoto/Emral Firdiansyah
Menkominfo Johnny G Plate dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2021 hari ke-4 bertema Indonesia Digital Infrastructure Report Launching di Jakarta, Kamis (25/11/2021) Foto: BeritasatuPhoto/Emral Firdiansyah

Sementara itu, Johnny G Plate mengatakan, Kementerian Komunikasi dan Informatika memiliki peran yang strategis dalam mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dan transformasi digital di Indonesia. Percepatan harus dilakukan karena proses digitalisasi dan utilisasi teknologi digital telah menjadi bagian yang integral bagi bangsa Insonesia, terutama ketika memasuki era Industry 4.0 dan Society 4.0.

“Inovasi dan utilisasi teknologi digital telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia di era Industry 4.0 dan Society 4.0 ini. Beragam terobosan di sektor digital menjadi bahan bakar yang menghidupkan akselerasi sektor-sektor lainnya di dunia, khususnya selama pandemi Covid-19 yang menjadi titik kritikal adaptasi digital,” katanya.

Menyitir laporan McKinsey 2020, Johnny mengungkapkan, dalam sektor bisnisnya misalnya, utilisasi teknologi digital tidak hanya memberi peluang bagi peningkatan proses dan efisiensi biaya, namun juga menentukan kemampuan bertahan (survivebility) dan continuitas operasi. Laporan tersebut menemukan bahwa perusahaan swasta yang melakukan digitalisasi proses bisnis akan maju 20-25 kali lebih cepat selama pandemic Covid-19.

Tak hanya itu. Laporan dari United Nation Departement of Economic and Social Pers juga menggariswahi kemampuan adaptif dan fleksibilitas yang disediakan infrastruktur digital untuk mencapai berbagai tujuan berkelanjutan (SDGs), salah satunya adalah kemampuan tanggap darurat (emergency respons).

Johnny menuturkan, pertumbuhan pesat sektor ekonom digital turut memberi optimisme bahwa ke depan ekonomi nasional pertumbuhannya resillience. Valuasi ekonomi digital Indonesia tahuh ini diproyeksikan mencapai US$ 70 miliar atau lebih dari Rp 1.000 triliun, atau melonjak hingga 49% dari 2020. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan valuasi ekonomi digital terbesar di Asean.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menambahkan, pandemi Covid-19 justru menjadi momentum akselerasi ekonomi digital Indonesia (EDI) tumbuh jauh lebih cepat, 8 kali dari tahun 2020 sebesar Rp 632 triliun (4% produk domestik bruto) ke Rp 4.531 triliun (18% PDB) pada 2030.

Sedangkan total PDB nasional hanya meningkat 1,5 kali dari Rp 15.400 triliun tahun 2020 menjadi Rp 24.000 triliun.

“Syarat pengembangan EDI ada 4 yakni SDM yang berkeahlian tinggi, infrastruktur digital yang merata dengan jaringan internet cepat yang memadai, iklim usaha yang mendukungstart-up, dan regulasi yang dinamis (adaptif, future ready, dan business friendly). Harus juga didukung keberpihakan nyata membeli produk UMKM lokal, yang peranannya besar dalam penyerapan tenaga kerja 97%, PDB 61%, dan kontribusi investasi 60%,” imbuhnya.

Sudah Berskala Global

Didik J Rachbini.
Didik J Rachbini.

Didik mengatakan, transformasi kini sudah banyak dilakukan ke ekonomi digital yang menjadi masa depan Indonesia.

“Indonesia memiliki banyak perusahaan berskala global, seperti Bukalapak, Gojek, dan lainnya. Ini menjadi cikal bakal pertumbuhan ekonomi digital Indonesia ke depan,” ujar dia.

Apalagi, lanjut dia, pandemi Covid- 19 di Indonesia sudah mulai teratasi. Itulah sebabnya, masa depan perekonomian Indonesia diliputi optimism tinggi, seiring mulai terkendalinyapandemi Covid-19 dan tingkat vaksinasi yang terus bertambah.

“Setelah hampir 2 tahun dilanda ketidakpastian dari Covid-19, saat ini adalah kasus terendah Covid-19. Ini memunculkan optimisme bahwa ekonomi akan berjalan dalam bentuk yang normal,” kata Didik saat memberikan closing remark acara Beritasatu Economic Outlook 2022, Kamis (25/11).

Didik melihat, pada awal pandemi Covid-19 banyak terjadi kebingungan dan Indonesia mengalami puncak kasus positif pada bulan Juni-Juli 2021. Tetapi, kemudian, pada bulan September dan seterusnya menunjukkan tren penurunan kasus, sehingga sekarang muncul optimisme bahwa ekonomi akan terus membaik.

“Selain itu, sudah banyak warga Indonesia yang telah divaksin, yang menjadi modal penting untuk membangun ekonomi yang optimistis ke depan. Selain itu, krisis yang terjadi saat ini berbeda dengan krisis 1998. Pada krisis 1998 ditandai oleh ketidakstabilan ekonomi. Tetapi sekarang ekonomi relatif terkendali, yang terlihat dari stabilitas nilai tukar, inflasi, dan kenaikan ekspor,” ungkap dia.

Optimisme juga semakin membesar seiring sudah meningkatnya konsumsi masyarakat saat ini. Di sisi lain, semua pihak tetap harus waspada karena ada gelombang ketiga pandemi Covid-19 di negara lain dan ketidakpastian Covid-19 masih cukup tinggi. Tapi, kita sudah punya pengalaman dan sudah bisa mengendalikan pandemi ini.

“Sekarang memang ada pemulihan yang ditarik oleh konsumsi, dengan suplai uang yang cukup banyak dari pemerintah. Namun, di sisi lain, harus diperhatikan pula bahwa pertumbuhan industri sebagai subsektor yang terbesar masih di bawah 4%. Hal ini harus didorong kuat, agar dalam 5-10 tahun ke depan Indonesia bisa lepas dari jebakan, middle income trap,” ujar Didik,

Didik menggarisbawahi Indonesia juga masih memiliki tantangan dari eksternal, salah satunya adalah kebijakan tapering bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Riset-riset menunjukkan bahwa pengaruh ketidakpastian kebijakan di luar negeri ini cukup dominan bagi Indonesia, sehingga juga perlu dicermati. Hal ini antara lain bisa mendorong Bank Indonesia merespons dengan menaikkan suku bunga acuan guna meredam aliran dana asing keluar.

News Director Beritasatu Media Holding (BSMH) Primus Dorimulu memandu diskusi dalam acara Economic Outlook 2022 yang digelar BeritaSatu Media Holdings, Senin, 22 November 2021. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa
News Director Beritasatu Media Holding (BSMH) Primus Dorimulu  Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Sedangkan Primus menjelaskan mengenai pentingnya peluncuran Indonesia Digital Infrastructure Report, buku yang memaparkan perkembangan infrastruktur digital Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia.

Untuk buku yang perdana ini lebih banyak menyampaikan informasi tentang hard digital infrastructure, yaitu kemajuan jaringan telekomunikasi di Indonesia.

“Selain memperdalam hard digital infrastructure, tahun depan BSMH akan menerbitkan lanjutannya, dengan menitikberatkan soft digital infrastructure, digital enterpreneur, digital society, digital literacy, dan sebagainya. Peluncuran Indonesia Digital Infrastructure Report kali ini diikuti diskusi Urgensi Mewujudkan National Data Centre dan Momentum Ekspansi Ekonomi Digital,” paparnya.

Ia mengatakan, para narasumber melihat prospek ekonomi 2021 yang tinggal tersisa 1 bulan lagi lebih baik. Ekonomi tahun 2022 juga diyakini lebih baik dari 2021 dan tahun 2022 adalah tahun ekspansi ekonomi. Pasalnya, pemulihan ekonomi sudah terjadi sejak 2021, ketika ekonomi tumbuh 7,07% pada kuartal II lalu, sekaligus menghentikan rentetan resesi ekonomi selama setahun. Sedangkan pada kuarta lIII-2021 juga masih positif 3,51% dan pada kuartal IV ini ekonomi akan tumbuh di atas 6%.

“Sehingga, selama tahun ini atau the whole year 2021, ekonomi Indonesia diperkirakan akan melaju di atas 4%, setelah tahun 2020 ekonomi Indonesia kontraksi 2,07%. Jika tahun ini ekonomi tumbuh di atas 4%, pada tahun 2022 ekonomi Indonesia melaju di 5,2%, sebagaimana asumsi penyusunan APBN 2022,” paparnya.

Faktor yang membuat para narasumber yakin pertumbuhan ekonomi bisa melaju 5,2%, antata lain, Indonesia sudah bisa menangani pandemi Covid-19 seperti terlihat pada positivity rate yang sudah di bawah 0,3%.

“Per Rabu 24 November 2021, kasus baru di bawah 500. Selain itu, jumlah penduduk Indonesia yang sudah divaksin mencapai 227,3 juta, yang terbagi atas 131,1 juta penerima vaksin pertama dan 91 juta penerima vaksin kedua. Penerima vaksin pertama 65,3% dari target, sedangkan vaksin kedua 43,8% dari target,” imbuhnya.

Game changer, tandas dia, bukan hanya dari vaksinasi, melainkan protokol kesehatan. Jika protokol kesehatan dijalankan dengan disiplin, Indonesia akan terhindar dari pandemi gelombang ketiga dan pandemi akan berubah menjadi endemi di 2022.

“Kita melihat permintaan atas barang dan jasa meningkat seiring pelonggaran PPKM. Tapi, tanpa pengendalian pandemi, semua proyeksi positif ekonomi akan berantakan,” tandasnya.

Prospek Cerah Data Center

Ririek Adriansyah, Direktur Utama PT Telkom Tbk dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2022 hari ke-4 bertema Urgensi Mewujudkan National Data Canter, Kamis (25/11/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Emral Firdiansyah
Ririek Adriansyah, Direktur Utama PT Telkom Tbk dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2022 hari ke-4 bertema Urgensi Mewujudkan National Data Canter, Kamis (25/11/2021). Foto: BeritasatuPhoto/Emral Firdiansyah

Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) Ririek Adriansyah mengatakan, ke depan bisnis data center (pusat data) akan semakin tumbuh kencang. Emiten berkode saham TLKM ini berencana mengembangkan bisnis data center (pusat data) dengan mengintegrasikan beberapa perusahaan. Setelah terintegrasi, perusahaan data center Telkom akan melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham.

“Telkom memiliki perusahaan data center, di antaranya Telkom Sigma yang fokus pada tingkat domestic serta Telkom Data Center yang mendistribusikan ke beberapa titik. Ada juga Telin di luar negeri, terutama di Singapura. Kami punya beberapa data center,” kata Ririek pada acara Economic Outlook 2022 yang digelar Berita Satu Media Holdings (BSMH) di Jakarta, Kamis (25/11). 

Dia menerangkan, jika bisnis data center Telkom dilepas ke pasar, dipastikan mendatangkan pendapatan tambahan dan dapat meningkatkan valuasi Telkom. Industri data center ini memiliki potensi funding yang jauh lebih tinggi.

Rudiantara, Ketua Tim Penyelia Indonesia Digital Infrastructure Report dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2021 hari ke-4 bertema Indonesia Digital Infrastructure Report Launching di Jakarta, Kamis (25/11/2021) Foto: BeritasatuPhoto/Emral Firdiansyah
Rudiantara, Ketua Tim Penyelia Indonesia Digital Infrastructure Report dalam acara Beritasatu Economic Outlook 2021 hari ke-4 bertema Indonesia Digital Infrastructure Report Launching di Jakarta, Kamis (25/11/2021) Foto: BeritasatuPhoto/Emral Firdiansyah

Sementara itu, Rudiantara berpendapat, inisiatif BeritaSatu untuk membuat laporan tentang digital infrastruktur Indonesia tahun 2021 sudah bagus dan akan menjadi referensi untuk siapa pun. “Ini terutama untuk kalangan pebisnis dalam ekspansi bisnisnya. Kita ini masih membutuhkan pembangunan infrastruktur digital,” imbuhnya.

Meski Indonesia sangat gencar membangun infrastruktur digital dalam beberapa tahun terakhir, namun cukup terlambat dibandingkan negara- negara tetangga. Indikasinya, belanja (spending) infrastruktur digital Indonesia terhadap produk domestic bruto (PDB) jauh lebih rendah daripada Thailand dan Malaysia.

Wakil Menteri Perdagangan RI Jerry Sambuaga memberikan pidato sambutan membuka diskusi Momentum Ekspansi Ekonomi Digital sebagai rangkaian acara Economic Outlook 2022 hari ke-4 yang digelar BeritaSatu Media Holdings secara virtual di Jakarta, Kamis (25/11/2021). Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah
Wakil Menteri Perdagangan RI Jerry Sambuaga memberikan pidato sambutan membuka diskusi Momentum Ekspansi Ekonomi Digital sebagai rangkaian acara Economic Outlook 2022 hari ke-4 yang digelar BeritaSatu Media Holdings secara virtual di Jakarta, Kamis (25/11/2021). Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah

Sementara itu Jerry Sambuagamenambahkan, pembangunan infrastruktur digital sangat diperlukan untuk memacu pengembangan ekonomi digital di Indonesia yang potensinya masih sangat besar. Dari ekonomi digital itu yang terbesar adalah e-commerce.

“Hingga tahun 2030, yang terbesar juga masih e-commerce. E-commerce tahun 2030 diproyeksikan Rp 1.908 triliun (33,37%), kemudian services Rp 763 triliun (13,34%),” ucapnya. (leo/try/ns/th/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN