Menu
Sign in
@ Contact
Search
CEO Haus! Indonesia Gufron Syarif. (IST)

CEO Haus! Indonesia Gufron Syarif. (IST)

CEO Haus! Indonesia Berbagi Tips Bangun Start-up  

Kamis, 14 Juli 2022 | 06:30 WIB
Investor Daily (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - CEO Haus! Indonesia Gufron Syarif berbagi tips jitu untuk memulai usaha, termasuk rintisan berbasis teknologi (start-up). Salah satunya, ketika membuka usaha, seseorang perlu melakukan riset pasar, kategori produk untuk mengetahui yang diinginkan pasar, dan potensi bisnis yang menguntungkan.

Sementara itu, latar belakang pemilihan kata Haus! untuk produk usaha minuman (beverage) yang didirikan dan kini dipimpinnya karena berkaitan dengan minum. Bisnis beverage juga disebutnya seperti bisnis fesyen memiliki trend cycle.

“Pemilihan nama Haus! karena kami tidak ingin brand kami terasosiasi suatu jenis produk tertentu dengan harapan the trand is changing the brand is still dare. Karena kami selau cepat adaptasi dengan tren yang ada,” ungkap Ufo, panggilan Gufron Syarif, dalam acara Nex Gen Fest 2022 yang digelar secara daring oleh Beritasatu Media, Rabu (13/7/2022).

Selain itu, lanjut dia, dalam membuat bisnis yang besar harus didukung oleh organisasi yang solid. Orang di balik organisasi tersebut juga bisa meng-cover kekurangan yang ada.

Baca juga: Haus! Tutup Semester I-2022 dengan Pendanaan Series B

Ufo melanjutkan, awal pembentukan Haus! terbentuk dari empat orang sejak Juni 2018. Setelah tiga bulan, Haus! akhirnya akan ekspansi dengan beberapa pilihan, yaitu menjalankan kemitraan waralaba (franchise) dan mencari suntikan modal/modal ventura.

Akhirnya, Haus! memilih ekspansi usaha dengan menggunakan sistem pemodal. Misalkan, Haus! akan membuka toko/kedai baru akan mencari orang yang memiliki modal, atau investor pasif supaya kedai bisa lebih terkontrol dengan baik.

Dalam waktu tiga tahun selanjutnya, tercatat,  Haus! telah berhasil membuka 205 kedai. Hal itu bisa dilakukan di tengah perjalanan membangun bisnis yang paling sulit dalam mengontrol sumber daya manusia(SDM).

Apalagi, Haus! kini telah memiliki sekitar 1.500 pegawai dengan setiap kedai punya setidaknya enam pegawai.

Sebelumnya, pada saat bisnis berkembang cepat, Haus! mampu membuka 4 kedai baru  dalam seminggu. Tetapi, kendalanya organisasi belum solid, atau kapasitasnya belum memadai.

Akhirnya, pihaknya terus melakukan perbaikan. Melalui cara eksternal, Haus! merekrut pegawai yang telah berpengalaman (hiring). Sedangkan dari dalam, Haus! terus melatih karyawan agar kemampuannya meningkat (traine employed), sehingga manajemen perusahaan dan sistem terus membaik.

Di sisi lain, pihaknya juga berusaha memperbaiki pengelolaan sampah (waste managemant) makanan karena bisa membebani harga pokok penjualan (HPP). Pada akhirnya, perbaikan bisa berkontribusi menekan waste terhadap HPP di bawah 1%.

Yakinkan Pemodal

Selain itu, tantangan yang dihadapi oleh Haus! adalah mencari modal dari eksternal karena tidak adanya kemitraan franchise. ”Caranya dengan meyakinkan investor sebagai dana ventura. Apalagi, uang sedang mahal karena masalah  perekonoian yang sedang dihadapi sekarang, sehingga para investor semakin selektif,” tuturnya.

Namun, untuk meyakinkan investor, Haus! harus memiliki market size dan meyakinkan sebagai brand yang memiliki peluang untuk mejadi pempimpin pasar (market leader) dan percaya kepada pendiri perusahaan (the founder).

Para pemodal sekarang juga lebih lebih rinci dan selektif untuk memilih perusahaan/start-up yang memiliki setidaknya laporan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) yang positif.

Pada kesempatan tersebut, dia pun berbagi kiat dan cara untuk mengatasi riset market size yang memiliki biaya besar. Salah satunya dengan mengikuti forum bisnis, sehingga dapat bertukar pikir dan menambah informasi.

Baca juga: Start-up Haus! Targetkan Segmen Aspiring Middle Class

Modal Entrepreneur

Sementara itu, untuk jadi seorang pengusaha (entrepreneur), Ufo menyampaikan, selain punya kemampuan teknik dan skill bisnis, yang terpenting punya mental baja. Karena, dia menilai, sistem pendidikan sekarang cenderung “mendidik” orang takut gagal.

Padahal, dalam entrepreneurship bisa disebut tidak akan ada sukses kalau belum ada kegagalan. ”Jadi, jika ada orang yang takut gagal, belum cocok menjadi seorang entrepreneur,”tuturnya.

Pandemi dan Target

Ufo menyebutkan, pada masa sebelum  pandemi Covid-19, Haus! mendapatkan kontribusi  dari penjualan daring (online sales) 50%dari total penjualan. Namun, pada masa pandemi, online sales justru berkontribusi hingga 80% dari total penjualan.

Haus! jeli memanfaatkan momentum pandemi yang telah berlangsung sekitar 2,5 tahun ini dengan mendigitalisasi bisnisnya, dan lebih mudah karena merupakan start-up. Selain itu, Haus! memilih lokasi kedai yang dekat dengan kompleks perumahan.

Sebagai informasi, Haus! menargetkan minimal membuka 1.000 kedai di Indonesia dengan penempatan di setiap kelurahan. Karena itu, setidaknya diperlukan pembangunan 5-10 kedai baru setiap bulan yang saat ini dikerjakan.

“Dalam membangun bisnis jangan pernah takut gagal dan memiliki tim yang solid. Ambil bisnis yang memiliki keuntungan, tetapi belum ada market leader yang terkuat,” tutup Ufo, berbagi tips. (c01)

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com