Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Teknologi 5G-Computerworld/IST

Ilustrasi Teknologi 5G-Computerworld/IST

3 Tantangan Industri dalam Mengadopsi Teknologi 5G

Emanuel Kure, Selasa, 3 Desember 2019 | 11:00 WIB

JAKARTA, investor.id - Kehadiran teknologi seluler generasi kelima (5G) mulai menjadi isu utama para operator telekomunikasi seluler di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun, khusus di Tanah Air, operator juga menghadapi tiga tantangan yang terdiri atas adopsi teknologi internet of things (IoT), biaya mahal, dan masalah konten/aplikasi lokal, yang harus segera diatasi sebelum 5G diimplementasikan.

Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen SDPPI Kemenkominfo) Ismail mengatakan, terdapat tiga isu utama yang harus diperhatikan dan diatasi oleh operator seluler di Tanah Air terkait rencana menggelar teknologi 5G, yaitu masih rendahnya adopsi IoT, biaya yang mahal, dan minimnya konten/aplikasi lokal.

“5G ini kan bukan persoalan konektivitas saja. Tetapi, kalau sudah ada konektivitas, tetapi ujung-ujungnya kita pakai aplikasi asing semua kan disayangkan. Jadi, saya pikir, ada tiga isu penting yang harus di-address, yaitu adopsi IoT, pertimbangan biaya, dan juga konten,” kata Ismail, dalam acara Telco Outlook 2020 Selular Business di Jakarta, Senin (2/12).

Karena itu, Ismail mengharapkan Indonesia agar terlebih dahulu menyiapkan ekosistem 5G yang terdiri atas tiga hal tersebut sebelum teknologi 5G benar-benar diimplementasikan dan dikomersialisasikan di Tanah Air.

“Kita ingin supaya bangun dulu ekosistem 5G di Indonesia supaya ada lokal aplikasi yang krannya itu ada di 5G. Itu harapan kita. Jadi, Indonesia harus mendapatkan gain (keuntungan) dari situ,” ujar Ismail.

Dia pun menjelaskan tiga isu penting yang harus diselesaikan tersebut. Pertama, IoT. Beberapa industri di Tanah Air saat ini belum menerapkan IoT, sehingga operator telekomunikasi harus menyiapkan solusinya, sehingga penerapan 5G tetap mampu memberikan pendapatan (revenue) baru.

Menurut Ismail, berdasarkan beberapa riset, IoT merupakan sumber revenue baru bagi sektor telekomunikasi ke depan. Operator telekomunikasi pun diharapkan dapat melihat peluang ini dan mulai mendorong penerapan teknologi IoT di berbagai perusahaan kliennya. Apalagi, kehadiran teknologi 5G juga akan lebih optimal jika didukung dengan implementasi IoT yang masif.

Dia pun menilai, Indonesia saat ini dalam kondisi yang unik karena walaupun penetrasi internetnya sudah lumayan, banyak perusahaan yang belum menerapkan teknologi IoT dalam menjalankan binsisnya. Beberapa sektor yang sebenarnya memerlukan implementasi IoT di antaranya pertanian, pendidikan, dan kesehatan.

“Itu masih relatif terbatas. Kita perlu atasi kekhawatiran teman-teman industri telekomunikasi, apakah benar IoT bisa menjadi revenue baru. Saya sangat berharap telco operator bersedia spending budget-nya bekerja sama dengan makers untuk memberikan solusi IoT di Indonesia,” tambah Ismail.

Kedua, isu biaya mahal. Penerapan 5G akan berdampak pada biaya yang ditanggung oleh masyarakat akan lebih mahal jika ingin menggunakannya, Pertanyaannya, maukah masyarakat Indonesia membayar lebih mahal dengan adanya layanan 5G?

“Ini juga menjadi pertimbangan operator dalam menerapkan teknologi 5G. Use case-nya harus tepat, sehingga biaya investasi yang dikeluarkan untuk teknologi baru itu tidak sia-sia,” ujarnya.

Ketiga, industri konten/aplikasi. Menurut Ismail, masyarakat di Tanah Air sekarang sudah ada yang mau berlangganan dan membayar konten per bulannya. Namun, problem utama bagi para operator telekomunikasi harus membuat model bisnis baru dengan memperbanyak konten dalam implementasi 5G karena konten digital akan banyak dinikmati.

“Bukan hanya jualan bandwitdh, tetapi bisa juga jualan konten,” jelas Ismail.

Saat ini, lanjut dia, jaringan teknologi 5G sudah menjadi isu primadona bagi para operator telekomunikasi seluler global. Setiap negara pun berusaha mengadopsi teknologi 5G sesuai dengan kondisi dan kebutuhan negaranya masing-masing.

Khusus di Indonesia, sejumlah operator telekomunikasi juga telah melakukan sejumlah uji coba teknologi 5G. Namun, sampai saat ini, rencana implementasi dan komersialisasinya masih terkendala penetuan pita (band) frekuensi yang cocok.

Pemerintah sebagai regulator juga masih melakukan simulasi dan menawarkan sejumlah opsi penempatan frekuensi yang cocok untuk teknologi 5G. Namun yang pasti, cepat atau lambat, teknologi 5G pasti akan diimplementasikan di Indonesia.

Frekuensi 5G

Pada kesempatan tersebut, Ismail pun menuturkan, saat ini, Kemenkominfo memiliki tiga opsi pita (band) frekuensi untuk impementasi 5G di Tanah Air, yakni lower band 3,5 Ghz, middle band 2,6 Ghz, dan upper band 2,8 Ghz.

Namun, menurut dia, frekuensi 3,5 Ghz akan menjadi prioritas untuk implementasi dan komersialisasi teknologi 5G di Indonesia. Sayangnya, frekuensi ini masih digunakan satelit guna kepentingan nasional, yakni mendukung konektivitas internet di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T).

Solusinya, Kemenkominfo bakal membuat penyekat (guard band) antara yang digunakan untuk penerapan teknologi 5G dan satelit di frekuensi tersebut. “Tujuannya supaya tidak saling mengganggu,” ungkapnya.

Ismail melanjutkan, jika skema itu dipilih dan diterapkan, nantinya, ada pita di frekuensi 3,5 Ghz yang akan dikosongkan untuk menjadi guard band. Dia melihat bahwa masih ada peluang untuk mengambil celah pada frekuensi itu untuk implementasi 5G tanpa harus mengganggu penggunaannya untuk pengoperasian satelit.

“Tetapi, di luar kebutuhan satelit itu masih ada ruang sebenarnya untuk memanfaatkan 5G di sana. Tetapi, tidak akan mengganggu satelit,” tuturnya.

Roadmap 5G

Anggota Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Arief Musta'in menambahkan, operator telekomunikasi seluler harus memiliki peta jalan (roadmap) yang jelas terkait implementasi teknologi 5G. Pasalnya, impelementasi 5G di Indonesia juga akan menghadapi tiga isu utama, yaitu aturan main (regulatory), adopsi teknologi, dan bisnis model.

“Ketiga isu itu yang akan menjadi tantangan ketika kita menyongsong industri baru seperti 5G. Oleh karena itu, di industri ini ditantang untuk punya roadmap sendiri,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, teknologi 5G berbeda dengan teknologi 4G. Jika teknologi 4G masih mengandalkan perangkat keras (hardware) yang umumnya menggunakan teknologi dari para vendor global, 5G sudah lebih mengandalkan perangkat lunak (software).

“Itu juga kita berpikir, ini menjadi tantangan, apakah memungkinkan buat perangkat 5G yang sebagiannya sudah bisa dibuat di Indonesia. Ini dalam konteks software-nya. Karena, kalau sekarang 4G itu semua operator harus beli semua. Kalay 5G ke depannya sangat berbeda. Negara-negara akan berlomba untuk membuat software 5G,” jelas Arief.

Karena itu, dia juga menyarankan supaya operator memiliki roadmap. Misalnya, antara lain mengajak pihak kampus untuk bekerja sama, atau menyekolahkan para talenta digital yang dimiliki ke luar negeri. Harapannya, mereka bisa membuat software lokal yang nantinya dapat diimplementasikan pada teknologi 5G.

“Kan, setiap negara dapat menerapkan teknologi 5G seusia dengan kondisi negaranya masing-masing. Jadi, kita mungkin bisa pakai software lokal untuk diterapkan di 5G,” pungkas Arief.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA