Menu
Sign in
@ Contact
Search
OPPO Reno7. (IST)

OPPO Reno7. (IST)

Kuartal II-2022, OPPO Kuasai 20,6% Pangsa Pasar Smartphone Indonesia

Kamis, 22 September 2022 | 18:34 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - International Data Corporation (IDC), lembaga pemeringkat dan riset pasar, merilis lima merek (brand) teratas perangkat ponsel pintar (smartphone) yang menguasai pasar Indonesia pada kuartal II-2022. OPPO menjadi merek asal Tiongkok paling digdaya dengan penguasa an pangsa pasar (market share) 20,6% dari total penjualan nasional 9,5 juta unit.  

Persentase market share OPPO tersebut meningkat dibandingkan dengan kuartal I-2021 sebesar 19,1%. Pada kuartal II-2022, OPPO berhasil membukukan jumlah pengiriman sebanyak 2 juta unit, atau sama seperti kuartal I-2021.

“OPPO terus memperluas portfolio kelas menengahnya, yaitu di rentang harga US$ 200-400. Segmen ini mencakup 46,9% dari total pengiriman OPPO pada kuartal II-2022 dibandingkan 18,1% pada kuartal I-2021,” ujar Associate Market Analyst IDC Indonesia Vanessa Aurelia, dikutip Kamis (19/9/2022).

Baca juga: Manfaatkan Smartphone untuk Jadi Kreator Digital

Sementara itu, ponsel segmen menengah OPPO di antaranya didukung oleh perangkat A96 dan model-model dari seri Reno7. Selain itu, pangsa pasar smartphone 5G OPPO meningkat secara signifikan dengan dukungan kehadiran seri Reno 7.

Selanjutnya, peringkat kedua dikuasai oleh Samsung, brand smartphone yang berbasis di Korea Selatan, dengan menguasai pangsa pasar 20,2% atau 1,9 juta unit pada kuartal II-2022. Persentase tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan kuartal I-2021 sebesar 16,2%.

Jumlah pengiriman Samsung yang sebanyak 1,9 juta unit naik tipis dibandingkan dengan 1,7 juta unit pada kuartal I-2021. Samsung berhasil meningkatkan pengiriman produk segmen menengah dari berbagai model A dan M.

“Beberapa model smartphone baru A dan M ditawarkan dalam varian berjaringan 5G, sehingga membantu Samsung dalam mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pangsa pasar smartphone 5G,” imbuhnya.

Pada tempat ketiga, Vivo, merek smartphone asal Tiongkok, menguasai pangsa pasar 17,8% pada kuartal II-2022, naik dibandingkan 16,6% pada kuartal I-2021. Walaupun begitu, pengiriman ponsel Vivo sebenarnya turun pada kuartal II-2022 menjadi 1,7 juta unit dibandingkan kuartal I-2021 sebanyak 1,8 juta unit.

Vivo masuk peringkat ketiga dengan pijakan yang kuat smartphone segmen menengah pada harga jual sekitar US$ 600 per unit. Hal ini juga didukung oleh keadaan pasokan yang membaik untuk produk pada rentang harga yang lebih tinggi.

Xiaomi dan Realme

Lalu, pada peringkat keempat, Xiaomi, masih brand  asal Tiongkok, meraih pangsa pasar 15,6%. Persentase ini turun signifikan dibandingkan dengan kuartal I-2021 sebesar 26,5%. Jumlah pengiriamnya juga turun menjadi 1,5 juta unit dibandingkan 2,8 juta unit pada kuartal I-2021.

“Xiaomi berfokus memperbarui segmen 4G low-end (US$ 100-200), sehingga berimbas kepada penurunan peringkat Xiaomi di segmen 5G ke posisi keempat pada kuartal II-2022,” tutur Vanessa.

Pada posisi kelima, Realme, masih merek asal Tiongkok, meraup pangsa pasar 13,7%. Persentasenya meningkat dibandingkan kuartal-I 2021 sebesar 10,4%. Dari sisi jumlah pengiriman, tak ada perubahan sebanyak 1,2 juta unit, sama dengan kuartal I-2021.

Varian baru, antara lain  C35 dan C31 serta model-model C lama, memberikan dukungan kuat untuk segmen Realme pada harga sekitar US$ 200. Selain itu, penjualan segmen kelas menengah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, berkat kehadiran Realme 9, Narzo 50, dan GT Neo 3T.

Baca juga: Kuartal I, Pasar Smartphone Indonesia Turun 17,3%

Pasar Melemah

Sementara itu, pengiriman merek smartphone lainnya, termasuk di dalamnya merek lokal Indonesia, sebanyak 1,3 juta unit atau berkontribusi 13,7% pada pangsa pasar pada kuartal II-2022 dibandingkan 1,1 juta unit atau 10,4% pada kuartal I-2022.

Vanessa menyampaikan, IDC memprediksi penjualan smartphone di Indonesia melambat pada 2022 atau sama seperti periode sebelumnya pada 2021.

Hal tersebut terjadi karena dipicu oleh faktor ekonomi makro, seperti inflasi naik, pergerakan nilai tukar mata uang rupiah yang melemah, peningkatan suku bunga, dan kenaikan harga BBM yang mengikis daya beli konsumen.

Hal itu tergambar dalam jumlah pengiriman pada kuartal-II 2022 yang turun 10% secara year on year (YoY). Meski demikian, per kuartal (quarter on quarter/QoQ), masih terjadi peningkatan pengiriman 6,9% menjadi 9,5 juta unit pada kuartal II-2022 dibandingkan 8,9 juta unit pada kuartal I-2022.

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com