Menu
Sign in
@ Contact
Search
Alpha JWC Ventures. ( Foto logo: Istimewa )

Alpha JWC Ventures. ( Foto logo: Istimewa )

Kembangkan Talenta Digital, Perhatikan Talent Playbook Berikut

Minggu, 4 Des 2022 | 07:50 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id Riset menemukan 9 dari 10 perusahaan teknologi di Asia Tenggara menghadapi tantangan dalam rekrutmen dan manajemen karyawan. Sebaliknya, 91% karyawan mengaku terbuka untuk meninggalkan perusahaannya, jika ada kesempatan baru.

Demikian buku panduan Growth & Scale Talent Playbook yang diluncurkan oleh firma modal ventura Alpha JWC Ventures bersama konsultan global Kearney and platform rekrutmen GRIT pekan lalu. Buku tersebut didasarkan pada hasil survei terhadap melibatkan ratusan karyawan startup dan hampir 40 pendiri startup di enam negara ASEAN.

Talent Playbook diluncurkan dengan tujuan mengedukasi dan membantu pendiri (founder) maupun calon founder perusahaan rintisan (startup) digital dalam menarik, mengelola, dan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) secara efektif dan berkelanjutan.

“Kami sadar bahwa dukungan untuk startup, terutama di bidang manajemen tenaga kerja, sangat dibutuhkan terutama di kondisi ekonomi saat ini. Pimpinan startup harus mengambil langkah tepat untuk menyeimbangkan antara upaya untuk berkembang dan keberlanjutan finansial, dan ini membutuhkan SDM yang tepat, mulai dari rekrutmen hingga retensi,” jelas Partner, Alpha JWC Ventures Erika Dianasari di Jakarta, pekan ini.

Advertisement

Melalui buku panduan ini, dia mengatakan, kami berharap dapat membekali sejumlah startup dengan pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan untuk tak hanya bertahan di saat seperti ini, tapi untuk menjadi market leader di industrinya masing-masing.

Baca juga: Hadapi PHK Masal Startup, Jubir Muda PKB Usul  Bentuk Serikat Pekerja 

Sementara itu, Shirley Santoso, Partner & President Director, Kearney mengungkapkan, pengembangan sumber daya manusia yang solid adalah salah satu prioritas terpenting dan kunci utama bagi perusahaan agar visi digital dapat berhasil. “Tentunya hal ini baru dapat dicapai dengan adanya usaha bersama antara pimpinan perusahaan dan jajaran lainnya dalam upaya yang berkelanjutan, juga mencakup seluruh tingkat organisasi,” ujarnya.

Sementara itu, Pendiri dan CEO GRIT Paul Endacott mengungkapkan, terlepas dari tantangan dan restrukturisasi yang kerap terjadi di perusahaan teknologi, Asia Tenggara masih terus menghadapi kekurangan talenta digital.

“Kami sangat senang bisa memiliki kesempatan bersama Alpha JWC dan Kearney untuk mengeksplorasi lebih lanjut dari perspektif perusahaan dan pekerja dalam aspek daya tarik, keterlibatan, dan retensi yang hasilnya berhasil kami rampungkan menjadi buku pedoman paling komprehensif di Asia Tenggara,” terangnya.

Dia menambahkan, pembahasan tentang peluang dan tantangan di kawasan ini diharapkan memberikan wawasan, informasi, dan pedoman untuk organisasi di berbagai tahap agar terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan progresif. Buku pedoman ini juga dikembangkan untuk membantu perusahaan agar berhasil menarik, melibatkan, dan mempertahankan aset terpenting perusahaannya, yaitu SDM.

Berikut pengembangan SDM berdasarkan hasil survei yang ditulis dalam talent playbook

Talent Playbook

Salah satu temuan terpenting dalam riset tersebut adalah 9 dari 10 perusahaan teknologi kesulitan dalam merekrut karyawan berkualitas, terutama yang memiliki kemampuan teknis dan non-teknis. Padahal, kebutuhan akan talenta digital akan terus meningkat ke depan.

Di Indonesia, survei tersebut menyebutkan, pasar internet, communication, and technology (ICT) diproyeksi meningkat hingga lebih dari 48% dari tahun 2021-2026 mencapai hampir US$ 49 miliar. Tidak heran, jika kebutuhan tenaga digital akan meningkat 1,4–1,8 kali pada 2026, dibandingkan dengan saat ini.

Dengan persaingan tenaga kerja yang ketat dan pergeseran mindset pekerja, serta tantangan ekonomi yang sedang berlangsung, sangat penting bagi para pimpinan startup untuk mengetahui tantangan-tantangan yang dihadapi di lanskap tenaga kerja. Selain itu, pimpinan startup harus mempersiapkan diri untuk menavigasi tantangan-tantangan makroekonomi yang memiliki dampak pada perekrutan.

Para pendiri startup juga perlu diedukasi mengenai perbedaan peran-peran dan posisi-posisi yang dibutuhkan sesuai dengan skala perusahaan. Seiring dengan perkembangan perusahaan, perekrutan bukanlah satu-satunya hal penting dalam membangun tim. Perusahaan harus berupaya penuh dalam mengelola dan mempertahankan talenta yang mereka miliki.

Berdasarkan survei, ditemukan bahwa terdapat tiga tantangan utama bagi para perekrut dalam mempertahankan karyawan yaitu kompensasi, ketidakcocokan antara keterampilan dan pengalaman, serta persepsi akan perusahaan sebagai tempat yang sesuai untuk karyawan mengembangkan karir (employer branding).

Dalam proporsi perusahaan yang disurvei, perusahaan tahap awal menghadapi masalah yang lebih besar dengan kompensasi, sementara korporat dan perusahaan tahap akhir menghadapi masalah yang lebih besar dengan persepsi citra perusahaan. Kegagalan untuk mengatasi masalah ini akan menyebabkan tingkat perputaran karyawan yang tinggi.

Penelitian ini juga menemukan bahwa tenaga kerja di sektor teknologi rentan untuk meninggalkan perusahaan mereka. Sebanyak 91% karyawan mengaku terbuka untuk meninggalkan perusahaan mereka bila ada kesempatan baru. Terdapat tiga faktor utama yang kerap dijadikan alasan dalam meninggalkan pekerjaan: mendapatkan tawaran kompensasi yang lebih baik, ketidaksejajaran dengan visi dan budaya perusahaan, dan minimnya kesempatan untuk berkembang.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com