Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dirjen SDPPI Kemenkominfo, Ismail.

Dirjen SDPPI Kemenkominfo, Ismail.

5G Berpotensi Digelar di Frekuensi 26 GHz

Emanuel Kure, Kamis, 28 November 2019 | 09:00 WIB

JAKARTA, investor.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sedang mempertimbangkan band frekuensi yang cocok untuk menerapkan teknologi seluler generasi kelima (5G). Terdapat tiga kandidat frekuensi yang berpotensi untuk menerapkan teknologi 5G di Indonesia, yaitu 3,5 GHz, 26 GHz, dan 28 GHz. Namun, teknologi 5G berpeluang paling besar digelar di frekuensi 26 GHz.

“Kandidatnya mengarah di 26 GHz yang 5G. Tetapi, itu masih dalam tahap pengkajian. Saya selalu bilang ini kan masih kandidat karena nanti akan diumumin secara resmi,” kata Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kemenkominfo Ismail, saat konferensi pers Embarking 5G: A Persuit to Digital Destiny di Jakarta, Rabu (27/11).

Menurut dia, sebelumnya, frekuensi 28 GHz juga sempat digadang-gadang bakal menjadi tempat digelarnya teknologi 5G. Tetapi, kajian menyimpulkan bahwa frekuensi 28 GHz tidak bisa dipakai lantaran diproyeksikan untuk menjalankan layanan internet yang dipancarkan oleh satelit multifungsi yang tengah dibuat oleh pemerintah, yaitu Satria.

“Yang frekuensi 28 GHz itu kita peruntukan untuk satelit Satria. Jadi, kandidatnya di frekuensi 26 GHz yang untuk 5G,” tambahnya.

Kendati frekuensi 26 GHz berpeluang besar untuk digelar layanan 5G di Tanah Air, lanjut Ramli, Kemenkominfo belum bakal meresmikan layanan jaringan generasi kelima ini dalam waktu dekat. Karena, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan Indonesia sebelum bisa menerapkan teknologi tersebut.

“Kan sudah jelas tinggal kapannya nanti, kan kita lagi melihat banyak faktor supply-demand, jadi jangan didorong cepat-cepat. Makanya, itu fiber optic, fiberisasi, banyak PR-PR yang harus diselesaikan dulu. Jangan kita kecepetan,” ujar dia.

Selain itu, aplikasi pendukung dari penerapan 5G juga harus mengikuti arah perkembangan teknologinya. Pemerintah tidak ingin ketika teknologi 5G sudah digelar di Tanah Air, tetapi semua aplikasinya malah justru tidak sesuai dan tidak mendukungnya.

“Jangan kita gelarkan infrastrukturnya (5G), tapi seluruh aplikasi asing yang kita pakai. Maksudnya, 5G jangan kayak gitu. Teknoogi 5G aplikasinya dibuat lokal dulu,” jelasnya.

Peluang Bisnis

Di sisi lain, Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) memprediksi, layanan 5G di Indonesia baru akan mulai diimplementasikan pada 2022. Saat ini, operator telekomunikasi di Tanah Air pun masih terus melakukan uji coba 5G untuk mematangkan persiapan menggelar layanannya di masa mendatang.

Ketua Umum ATSI Ririek Adriansyah mengatakan, implementasi 5G membuka peluang bisnis baru bagi operator seluler di berbagai sektor industri vertikal. Indonesia diprediksi memiliki potensi terbesar di antara negara anggota Asean mencapai sekitar Rp 27 triliun per tahun.

“5G akan berpotensi meningkatkan revenue operator seluler dari monetisasi berbagai industri vertikal. Indonesia diprediksi memiliki valuasi 5G terbesar di antara negar-negara Asean, dan peluang terbesar berasal dari layanan business to business (B2B), diikuti layanan mobile broadband, dan fixed wireless access,” ungkap Ririek.

Dia menambahkan, teknologi 5G menawarkan banyak aplikasi baru dengan spesifikasi yang lebih tinggi dan resolusi layanan yang jauh lebih baik dan tidak dimiliki oleh teknologi sebelumnya, yakni 4G.

Karena itu, implementasinya membuka banyak peluang bisnis baru bagi operator seluler, penyedia aplikasi, penyedia platform, dan pelaku usaha lainnya, serta dapat mendukung percepatan revolusi Industri 4.0.

Namun, implementasi 5G saat ini diakuinya juga masih menghadapi sejumlah tantangan yang harus dijawab dan diselesaikan terlebih dahulu. Beberapa di antaranya terkait spektrum frekuensi, infrastruktur, layanan, dan juga regulatory charge.

“Sinkronisasi regulasi pusat dan daerah untuk mendorong percepatan pembangunan 5G juga sangat penting dalam menjawab tantangan infrastruktur. Perlu adanya regulasi daerah yang mendukung pembangunan 5G seperti fiber optic dan tower,” pungkas Ririek

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA